Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

Tak Perlu Takut, LGBT Bukan Penyakit Menular

Tak Perlu Takut, LGBT Bukan Penyakit Menular
Foto: Dwi Utami
Mak Tita sedang bekerja di salon

Lha wong LGBT bukan penyakit, mosok menular,” kata dokter spesialis bedah saraf  Dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS menanggapi anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa LGBT  (Lesbian. Gay, Biseksual, Transgender) bisa menular.
“Jangan takut, kami tidak berbahaya,” jelas Tita, seorang transpuan beranak empat.

Mak Tita (44) begitu dia biasa dipanggil. Tubuhnya langsing semampai dengan tinggi 168 cm dan berat badan 56 kg, bobot yang cukup ideal untuk seorang perempuan. Kulitnya sawo matang, rambut hitam sebahu hasil diluruskan berbelah tengah dan ditata sederhana. 

Tatapan matanya tajam dengan garis bibir tegas memancarkan karakter dirinya yang kuat. Lipstik glossy berwarna pink tua menghias bibir tipis di antara rahang yang kokoh. Sentuhan yang tidak terlalu erat saat berkenalan membuat saya menduga pemilik tangan ini pernah melakukan pekerjaan kasar. 

Tita bekerja di sebuah salon di kawasan Panam, Pekanbaru. Dari tampilannya, banyak hal yang berbeda di dirinya dibandingkan dengan dua temannya di salon tersebut. Sebagai transpuan, tidak ada yang berubah pada fisik Mak Tita (begitu ia dipanggil teman-temannya). Ia tidak memiliki payudara, tidak mengubah  hidung maupun bibirnya. Semua masih natural tanpa suntikan silikon. 

"Aku takut suntik silikon. Takut sama efek sampingnya. Biarlah seperti ini saja kak. Menjadi waria tidak harus mengubah bentuk fisik," kata Mak Tita setelah kami terlibat obrolan akrab pada pertengahan September 2018 lalu. Ia pribadi yang terbuka dan mudah akrab.

"Aku waria tomboy," begitu ia menilai dirinya.

Yang khas dari dandanan Mak Tita adalah bulu mata palsu tembal dan alis yang digambar dengan celak warna hitam. Skinny pants atau celana pensil ketat dipadu dengan blouse off shoulder menjadi pakaian favoritnya. Ia mulai berdandan dan berpenampilan perempuan setiap hari sejak merantau ke Pekanbaru sekitar 12 tahun silam. Sebelumnya ia tinggal di sebuah kampung kecil di Sumatera Selatan.

"Aku bahagia seperti ini, karena aku menjadi diriku sendiri. Inilah diriku sebenarnya," ucap Tita dengan senyum.
"Dulu waktu masih di kampung, aku tidak bisa sering-sering berdandan dan berpakaian perempuan. Aku berbini dan punya anak kak. Aku harus bisa membawa diri di tengah keluarga," akunya.

Mendengar pengakuan Mak Tita bahwa ia beristri membuat saya terkejut dan tertarik untuk mengenal lebih jauh sosok Mak Tita.
Mak Tita adalah satu dari sekian banyak transpuan beristri. Ia memiliki empat orang anak dan satu orang cucu. Usia pernikahannya sudah berjalan selama 22 tahun, penuh riak gelombang dan tanpa cinta. Meskipun kedua orang tua dan calon istrinya dulu tahu Tita tidak menyukai perempuan, namun pernikahan itu tetap dilakukan demi kehormatan keluarga dan bentuk bakti Tita pada kedua orangtua.

"Aku tidak tertarik sama perempuan. Itu sudah aku sadari sejak akil baligh," jelas Tita.

Sebagai anak laki-laki, Tita kecil sangat kemayu. Ia tidak bisa berjalan tegap dan berbicara tegas layaknya seorang laki-laki. Bahkan saat bermain, pilihan permainannya adalah mainan yang dimainkan anak perempuan seperti bola bekel, lompat tali, boneka dan semacamnya. Ia tidak pernah mau dan tertarik untuk bermain bola bersama anak laki-laki sebaya.

Di rumahpun, ia selalu melakukan pekerjaan domestik yang biasa dikerjakan anak perempuan. Menyapu, mencuci piring dan pekerjaan dapur lainnya dilakukan Tita dengan atau tanpa disuruh orangtuanya. Pekerjan kasar di ladang pun biasa ia lakukan.
“Semua bentuk pekerjaan aku bisa kerjakan. Tidak pernah ada larangan dari orangtua. Dulu sebelum merantau ke Pekanbaru, aku kerja di ladang menderes karet,” ungkapnya.

Karena pembawaannya yang kemayu, tak jarang Tita kecil mendapat olok-olokan dari teman-temannya. Baginya ucapan "bencong", "banci" sudah sangat akrab di kuping. Semua bentuk ejekan itu ia telan saja tanpa perlawanan. Bahkan sampai sekarang, hinaan dan hujatan masih sering ia terima.

Tita menikah di usia yang masih sangat muda, 18 tahun. Saat keluarganya meminta Tita menikah, ia tak menolak. Bahkan ia mencari sendiri perempuan yang akan menjadi pendampingnya. Pilihan Tita jatuh kepada salah seorang temannya di kampung.
“Orang yang menjadi istriku harus tahu bagaimana aku dan bisa menerima keadaanku seperti ini. Makanya aku menolak dijodohkan dan lebih memilih mencari sendiri,” terang anak pertama dari empat bersaudara ini.

“Tapi ya gitulah kak, aku tidak memiliki perasaan seperti perasaan yang dimiliki orang-orang kepada istrinya. Saat berhubungan intim, aku membayangkan sosok laki-laki agar bisa melakukan hubungan. Apa yang aku lakukan kepada istri lebih kepada rasa tanggung jawab, bukan karena rasa cinta,” terang penyuka olahraga volly ini.

Dari pernikahannya, Tita memiliki empat orang anak, tiga diantaranya laki-laki. Dan semua anak tahu ayahnya seorang transpuan. Bahkan anak keduanya ikut merantau bersamanya dan tinggal di lingkungan para transpuan sejak usia 8 tahun.
“Anakku laki-laki tulen. Dia tidak menjadi seperti aku meskipun tinggal di lingkungan transpuan di salon. Jangan takut, kami ini bukan penyakit menular,” jelas Tita.

“Saya dari kecil sudah melihat ayah dandan. Saya juga kenal semua teman-teman ayah. Tapi saya tidak seperti ayah dan teman-temannya,” kata KF, anak kedua Mak Tita di tempat terpisah.

KF yang kini berusia 19 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan di Inderagiri Hilir mengaku pernah disuruh belajar pangkas rambut oleh ayahnya. Namun pada waktu itu ia langsung menolak. Ia tidak ingin bekerja di salon seperti ayahnya.
“Tapi setelah cukup lama berfikir, akhirnya saya bersedia mengikuti anjuran ayah untuk kursus memotong rambut. Kata ayah, saya harus punya skill biar bisa mandiri. Saya tidak tamat SD karena bandel,” terang KF. 

Meskipun ayahnya seorang transpuan, KF mengaku bangga memiliki ayah seperti Mak Tita. “Ia ayah yang bertanggung jawab dan tidak pernah marah. Meskipun penampilan seperti perempuan, ia tetap ayah saya.”

Diakui KF, waktu masih kecil sempat malu memiliki ayah yang berpakaian perempuan. Namun seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, ia justru bangga memiliki ayah transpuan. “Teman perempuan saya tahu kalau ayah transpuan. Saya tidak menutup-nutupi siapa ayah saya. Bahkan jalan di pusat perbelanjaan dengan ayah, saya tidak malu,” aku KF. Namun di dalam hati kecil KF, ia ingin ayahnya berpenampilan seperti ayah-ayah lainnya. “Ayah sudah tua. Saya ingin ayah berubah,” ungkap KF jujur.

Mak Tita hanya tersenyum menanggapi keinginan KF tersebut. Karena upaya untuk mengubah diri sebenarnya sudah lama ia lakukan. Anjuran menikah dari orangtuanya adalah salah satu cara agar ia bisa menjadi laki-laki seutuhnya. Akan tetapi, meskipun ia menikah dan memiliki anak-cucu, orientasi seksualnya masih seperti dulu. 

Berperang Dalam Diri

Mami Lala (45 th), mungkin salah satu contoh LGBT yang di mata publik sudah “sembuh” atau “tobat”. Transpuan asal Sumatera Selatan ini memang sejak menikah tahun 2008 lalu, tidak lagi mengenakan rok dan bergincu. Namun pemilik dua buah salon di Pekanbaru ini masih mengenakan blouse ketat berbahan spandex saat bekerja di salonnya.

Setelah puluhan tahun menjadi transpuan, sarjana perbankan ini memutuskan menikah dan mengubah penampilan. Dari tiga perempuan yang dikenalkan keluarga, ia memilih satu perempuan yang menurutnya sangat mengerti dirinya.
“Keluarga khususnya ibu memintaku menikah. Sebagai bentuk bakti kepada ibu dan faktor umur, aku akhirnya memutuskan untuk menikah,” ungkap Lala.

Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai satu orang anak laki-laki yang kini duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. “Aku sangat sayang sama anakku. Alhamdulillah dia tidak seperti aku. Karena menjadi orang seperti aku ini sangat tidak mudah dan aku bersyukur dia tidak mengikuti jejakku,” jelasnya.

“Aku tidak mau anakku tahu aku transpuan. Makanya aku memilih lokasi salon yang jauh dari wilayah pergaulan anak dan istri,” lanjutnya.

Di depan istri, anak dan lingkungan tempat tinggalnya, Mami Lala tidak pernah bermake up atau mengenakan pakaian perempuan. “Kalau bersama mereka, aku berpakaian maskulin dan memakai topi. Aku juga lebih banyak diam. Pakaian seperti ini (blouse perempuan), aku pakai saat bekerja di salon saja. Sebenarnya dorongan ingin dandan dan menjadi cantik masih ada, namun aku redam. Aku ingin berubah, meskipun di dalam hati berperang,” ungkap Lala sambil tersenyum tipis.

Apakah Lala mencintai istrinya? Gambaran perasaan Lala, lebih kurang sama seperti perasaan Mak Tita ke istrinya. “Di dalam hati ini berperang. Tapi aku terus belajar,” ucap Lala.

Lala menyadari kecenderungannya menyukai laki-laki dari pada perempuan sejak masih SD. Ia lebih suka bermain boneka bersama teman-teman perempuannya. Saat tamat sekolah tinggi perbankan, ia lalu berangkat ke Jakarta untuk kursus komputer. Alih-alih mengikuti kursus komputer, ia malah memilih kursus salon di Rudy Hadiswarno.
“Disuruh kursus komputer, aku malah kursus salon. Jiwaku tak bisa bekerja di kantor. Aku lebih suka dunia kecantikan,” ungkap Lala.

Begitu besarnya dorongan menjadi perempuan, pada tahun 2004, Lala sempat berencana untuk melakukan operasi organ tubuh. Ia sudah menyiapkan uang ratusan juta rupiah hasil kerjanya belasan tahun untuk berangkat ke Thailand. Namun saat meminta izin ibunya, sang ibu menangis meminta ia mengurungkan niat tersebut. 
“Akhirnya aku membatalkan rencana operasi itu. Empat tahun kemudian aku menikah,” kenang Lala.

Memenuhi Nilai Heteronormatif

Apa yang dialami Tita dan Lala tergolong umum di masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Menurut Aktivis Keberagaman Gender di Jakarta, Teguh, transpuan atau gay yang memutuskan menikah cukup banyak. Kalau masyarakat beranggapan bahwa mereka sudah tak lagi transpuan atau gay, menurut Teguh hal tersebut bisa terjadi lantaran mereka lelah melawan tuntutan nilai-nilai heteronormatif di masyarakat.

“Mereka menerima saat diminta menikah oleh keluarga atas berbagai alasan, meskipun sebenarnya pihak keluarga tahu mereka tidak menyukai perempuan. Ini sama artinya mereka dipaksa memenuhi nilai-nilai heteronormatif masyarakat di lingkunganya,” terang Teguh.

“Apa yang terjadi pada Tita dan sang istri menunjukkan bahwa mereka telah menemukan titik negosiasi dalam hubungan yang dibangun. Istri memahami ekspresi gender sang suami. Namun bila orientasi seksual sang suami tetap cenderung kepada laki-laki, hubungan tersebut tentu saja menjadi sebuah siksaan baginya. Bisa jadi kedua belah pihak tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Akibatnya, baik istri maupun suami menjadi korban dari nilai-nilai heteronormatif yang dipaksakan tersebut,” jelas Teguh.

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Lala. Namun demikian, lanjut Teguh, setiap orang bebas memiliki pilihan. Seperti halnya Lala yang kini memilih ekspresi gender maskulin dan menikah, walaupun sebelumnya ia seorang transpuan. “Kita sebagai orang luar tidak perlu berlebihan dalam menyikapi. Tidak perlu memberi label negatif atas realitas yang ada,” ucap pentolan lembaga Suara Kita ini.

“Yang penting dipahami dari semua ini bahwa kenikmatan tertinggi di dunia adalah menjadi diri sendiri,” tegas Teguh.

Bukan Penyakit

Kalau masih banyak masyarakat yang beranggapan LGBT adalah suatu penyakit dan bisa menular, realitas yang terjadi pada Mak Tia, KF dan Mami Lala sudah bisa menjelaskan bahwa anggapan tersebut keliru. 
“Kisah Mak Tita, KF dan Mami Lala adalah gambaran bahwa LGBT bukan penyakit yang bisa menular dan disembuhkan,” ungkap Psikolog dari kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Pekanbaru, Mirtha Yolanda, MPSi.

Dunia medis dan ilmu kedokteran sudah mengeluarkan LGBT dari daftar penyakit. “Dalam dunia medis dan ilmu kedokteran ada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) untuk menentukan kondisi kejiwaan seseorang, termasuk di dalamnya adalah kasus LGBT. DSM telah mengalami beberapa kali perubahan dan pada buku edisi ke-3 menyatakan bahwa LGBT bukanlah suatu kelainan mental,” lanjut Yolanda.

Spesialis bedah saraf, Dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS menegaskan, dalam  ilmu psikiatri, ilmu kejiwaan dan dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi kedua tahun 1984 bahwa gay hanyalah dianggap penyakit kejiwaan apabila orang yang bersangkutan mengalami depresi. Artinya, jika harus ‘disembuhkan’, yang disembuhkan bukan orientasi seksualnya melainkan depresinya. 

“Anggapan bahwa seseorang yang tadinya bukan gay, lalu menjadi gay lantaran banyak menghabiskan waktu dengan kalangan gay adalah salah. Seseorang menjadi gay karena ia sudah punya bakat menjadi gay yang dibawa dari lahir,” jelas dokter di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta ini.

“Peran lingkungan hanya membantu memunculkan sosok dia yang sebenarnya. Kalau seseorang memang tidak memiliki bakat LGBT, mau memiliki teman-teman yang semuanya dari kelompok tersebut, tidak mungkin dia menjadi LGBT,” lanjut Ryu. 

Terlahir sebagai gay, lesbian, biseksual, atau transgender bukanlah sebuah pilihan. Ini adalah keadaan yang sudah terbentuk sejak sebelum lahir. Dan seandainya pun itu dianggap pilihan, juga bukan masalah. “Maksudnya dianggap pilihan karena tergantung dari bagaimana manusia tersebut menyikapinya. Misalnya ada orang yang memiliki kecenderungan menyukai lelaki dan perempuan, tetapi ia tetap memilih untuk menyukai perempuan saja walaupun ketertarikannya terhadap laki-laki jauh lebih besar,” terang Neurosurgeon (ahli bedah saraf) yang lebih dikenal dengan nama Ryu Hasan.

Pendapat yang berkembang di masyarakat bahwa individu yang berjenis kelamin laki-laki, gendernya tentu maskulin dan arah orientasi seksualnya kepada perempuan atau orang yang berjenis kelamin perempuan, gendernya pasti feminin dan orientasi seksualnya tentulah ke laki-laki, tidak selamanya benar secara ilmu biologi modern. Karena faktanya memang tidak demikian.
Tak jarang ditemui seseorang yang jenis kelaminnya laki-laki, gendernya feminin dan orientasi seksualnya ke perempuan. Laki-laki seperti ini tindak tanduknya bisa sangat kemayu (feminin), tapi dia berkeluarga dan punya anak seperti orang kebanyakan. Ada juga orang yang jenis kelaminnya laki-laki, gendernya maskulin dan orientasi seksualnya kepada laki-laki. Penampilan orang seperti ini biasanya sangat macho. 

“Perlu dipahami, jenis kelamin biologis tidak sama dengan gender, juga berbeda dengan orientasi seksual. Ketiganya merupakan variabel yang berdiri sendiri-sendiri, dan jika variabel ini dikombinasikan akan memberikan hasil akhir yang sangat  bervariasi,” ungkap Ryu Hasan.

Dijelaskan dokter yang juga pengajar di beberapa universitas ini bahwa pada awal pembentukan manusia di dalam rahim hingga usia 8 minggu, semua janin manusia berjenis kelamin perempuan. Lalu sebagian diantaranya ada yang kemudian berubah menjadi laki-laki. Perubahan kadar hormon-hormon tertentu menjadi sebab perubahan dari sebagian janin-janin perempuan menjadi laki-laki.

Akan tetapi, 'gangguan’ yang ditimbulkan oleh gen-gen dalam kromosom Y (penentu jenis kelamin laki-laki) ini tidak selalu ekstrem dan tidak seragam, sehingga kelaki-lakian yang dihasilkan pun juga tidak seragam. Hal ini disebabkan oleh tertariknya gen-gen sekunder kelaki-lakian yang memang tidak sama pada setiap individu. Akibatnya adalah banyak individu yang ciri kelamin primer dan atau ciri sekundernya tidak ekstrem laki-laki.

Inilah yang menyebabkan mengapa  banyak cowok yang kecewek-cewekan, dan ini jauh lebih banyak dari pada cewek yang kecowok-cowokan. “Keadaan seperti ini bukan suatu kelainan, tapi variasi normal. Secara sederhana, cowok yang kecewek-cewekan bisa dibilang sebagai individu yang ingin ‘kembali’ ke jenis kelamin asalnya. Lha wong memang asalnya perempuan kok,” ucap Ryu.

Sebelum organ seks terbentuk, otak sudah terbentuk. Sehingga otak yang berperan mengatur pembentukan organisasi-organisasi di bawahnya. Adapun yang memicu otak bekerja demikian adalah lonjakan dari hormon testosteron.  Ada banyak variasi dalam otak kita yang menghasilkan perangkat sirkuit-sirkuit keterampilan perilaku individual. Variasi genetis serta bekerjanya hormon-hormon yang ada di otak selama masa perkembangan janin menjadi fondasi bagi perbedaan sirkuit-sirkuit yang terbentuk. 

Setelah lahir, pengalaman-pengalaman hidup akan mempengaruhi dan mengaktifkan sirkuit-sirkuit otak yang khas pada setiap individu. Keadaan ini akan semakin memperkuat berbagai perbedaan tersebut. Salah satu jenis variasi yang ada dalam suatu rangkaian sirkuit pada otak seksual itu adalah ketertarikan romantis atau yang disebut dengan orientasi seksual.

 

(Penulis: Dwi Utami / D002)
Liputan ini hasil fellowship “Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM” (2018) yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ardhanary Institute.

Khusus Lainnya