Mozaik (In)Toleransi Indonesia

Embed from Getty Images

INDEPENDEN - Sujiasri (43) terbahak-bahak menertawakan keganjilan pada Kartu Keluarga dan KTP-nya. Sebab, dalam dua dokumen tersebut, statusnya masih lajang.

“Masak sudah tua begini dan sudah punya dua anak ditulis belum kawin, ha-ha-ha,” kata Sujiasri, menertawakan keganjilan pada Kartu Keluarga dan KTP-nya.

Padahal Sujiasri sudah menikah sejak 2004 silam. Persoalannya hanya karena ia penganut Baha'i. Agama ini memang sempat dilarang pemerintah orde lama. Tapi sekarang larangan tersebut sudah dicabut.

Sudah 14 tahun menikah, Sujiasri pun belum mendapatkan akta pencatatan nikah dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Padahal akta itu dibutuhkan untuk menerbitkan akta kelahiran anak-anaknya.

Lalu bagaimana nasib anak-anaknya tanpa pencatatan akta pernikahan orangtua? Bagaimana pula Agama Bahai dalam kolom KTP?

Selengkapnya: Bahai (masih) mencari keadilan

 

Kepercayaan lokal Masyarakat Mentawai, Arat Sabulangan masih tetap eksis. Kepercayaan ini merupakan  kepercayaan tradisional warisan nenek moyang orang Mentawai. 'Arat' artinya kepercayaan, 'sa' artinya orang dan 'bulungan' aritnya roh. Jadi Arat Sabulungan artinya orang-orang yang percaya kepada roh-roh.

Selengkapnya: Jika Orang Mentawai Bisa Memilih Kepercayaan

 

TK Cerlang merupakan sekolah pendidikan usia dini pertama dan satu-satunya di Pontianak yang mengusung konsep keberagaman. Namun, keberadaan sekolah untuk anak usia dini ini terancam tutup lantaran warga masih belum bisa menerima konsep pembelajaran di dalamnya.

Selengkapnya: Kiprah TK Cerlang Kembangkan Pendidikan Keberagaman Di Sekolah

 

Umat kristiani di Kota Jambi terombang-ambing ketidakpastian karena sejumlah rumah ibadah mereka disegel pemerintah setempat. Tapi keberadaan gereja tak menyurutkan mereka untuk tetap beribadah. Pilihannya adalah beribadah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Selengkapnya: Beribadah Secara Nomaden, Ini Perjuangan Umat Kristiani Membangun Gereja di Jambi

 

Wadah Himpun Kasih (Ai Xin) Pontianak untuk memberikan bantuan sosial kepada masyarakat tidak mampu atau yang tertimpa musibah. Komunitas beranggotakan warga Tionghoa ini tidak membedakan suku bangsa dan agama saat memberikan bantuan.

Selengkapnya: Kiprah Ai Xin Berbagi Kasih Tanpa Melihat Suku Bangsa

 

Mitos kaum hawa sebagai sosok lemah dan subordinat dari kaum adam sudah tak berlaku lagi. Perempuan pun tak pantang lagi mengambil peran tulang punggung keluarga demi masa depan anak-anak mereka.

Ikuti kisah perjuangan sejumlah perempuan yang mengambil peran ayah di

Selengkapnya: Ketika Perempuan Jadi Kepala Rumah Tangga

 

Pulau Kemaro di Palembang menjadi salah satu penanda membaurnya seluruh etnis dan agama dengan toleransi yang kuat. Pulau Kemaro juga dikisahkan merupakan kawasan peninggalan Kyai Merogan saat melakukan syiar agama Islam di Sumsel.

Selengkapnya: “Kisah Cinta dan Toleransi di Pulau Kemaro”

 

Dari Palembang, menuju ke Muarajambi.

Arca Dwarapala yang menjadi simbol sebagai penjaga pintu masuk biasanya memiliki bentuk yang garang dan menakutkan. Namun sosok Dwarapala yang ditemukan di situs Percandian Muarajambi justru memiliki bentuk wajah yang lembut, jenaka dan menggambarkan sosok yang humanis serta menebarkan kebaikan.

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muarajambi adalah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara, dengan luas hampir 4000 hektar yang tersebar di delapan desa.

Selengkapnya: “Menebarkan Kebaikan di Candi Muara Jambi”

 

Selanjutnya kisah tradisi masyarakat lokal juga datang dari Jawa Tengah.

Warga Banokeling memiliki tradisi yang unik untuk bersyukur atas hidup dan kehidupan. Tradisi ini sudah terjadi secara turun temurun. Mereka juga memiliki tradisi solidaritas sesama masyarakat melalui penyimpanan gabah.

Selengkapnya: “Hikayat Banokeling di Tanah Purwokerto”

 

Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu tetap mempertahankan tradisinya di tengah kehidupan modern.

Selengkapnya: “Menjaga Trah Suku Dayak Bumi Segandu di Era Millenial” 

 

Dari adat Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu, menuju ke Pulau Salibabu.

Para penganut kepercayaan ADAT MUSI masih bertahan dengan keyakinan mereka. Musi sendiri, adalah nama sebuah desa, di Pulau Salibabu Kecamatan Lirung, Talaud, Sulawesi Utara. Di desa Musi inilah, hidup para yang merupakan penghayat ajaran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha, Allah dalam tubuh yang disingkat ADAT Musi.

Ajaran itu disebut ADAT Musi, karena diajarkan oleh Bawangin Panahal, di Desa Musi, pada tahun 1880 dan tetap hidup dan dipertahankan oleh para pengikutnya sampai saat ini. Tradisi yang masih terpelihara dan juga diterima oleh masyarakat umum, adalah pola bercocok tanam dan "paramisi", dan yang utama adalah penghapusan model keningratan atau kebangsawanan yang diajarkan oleh Bawangin.

Selengkapnya: “Penghayat Adat Musi Pertahankan Tradisi Dalam Perubahan”

 

Kalimantan Barat memiliki sejarah konflik horizontal. Isu suku maupun agama menjadi sangat sensitif. Kabar bohong atau hoaks sangat mungkin menjadi pemicu konflik. Hal ini yang membuat sejumlah komunitas di Kalimantan Barat untuk memerangi hoaks melalui Hoax Crisis Centre (HCC) Kalbar.

Selengkapnya: “Tangkal Hoaks dengan Literasi dan Teknologi"

 

Masih dari cerita toleransi di Kalimantan Barat.

Sambas dijuluki sebagai Serambi Mekah di Kalimantan Barat. Julukan ini mengartikan begitu mengakarnya tradisi ajaran Islam di wilayah berpenduduk 634 ribu jiwa.

Namun, kondisi masyarakat di sini justru menghargai keberagaman, termasuk dalam pilihan politik.

Selengkapnya: “Tepis Politisasi SARA di Serambi Mekah”

 

Cerita tentang pendidikan toleransi juga datang dari Jakarta.

Bagaimana rasanya dibesarkan oleh orangtua transgender? Sebagian orang mungkin akan menaikkan alis mata karena keheranan.

Tapi kisah Seruni ini membuktikan, bahwa memiliki orangtua transgender sama saja dengan memiliki orangtua yang "normal". Sebab, kasih sayang itu tak mengenal jenis kelamin dan gender.

Selengkapnya: "Mamaku Seorang Transgender"

 

Pernah belajar tentang kitab-kitab suci dari pelbagai ajaran agama? Cerita  ini datang dari Bandung, Jawa Barat.

Scriptual Reasoning (SR) menjadi wadah untuk membedah kitab-kitab suci dari pelbagai ajaran agama. Bukan untuk mencari perbedaan, tapi wadah ini mencari persamaan ayat-ayat tentang isu toleransi dan keberagaman. Mau tahu di mana wadah SR dan bagaimana orang-orang ini saling membedah kitab?

Selengkapnya: “Scriptual Reasoning: Saling Memberi Pemahaman Antar Keyakinan”

 

Masih dari dunia pendidikan. Siswa di SMP Muhammadiyah 8 dan SMP Kristen di Bandung berbagi cerita tentang toleransi.

Sekolah merupakan wadah pembelajaran sekaligus pembentukan persepsi siswa. Selama ini tak banyak sekolah yang memperhatikan persoalan isu keberagaman menjadi pembelajaran utama. Pembelajaran soal toleransi hanya ada dalam teks-teks yang tidak menyentuh kehidupan nyata.

Tapi pembelajaran toleransi ini justru didobrak oleh SMP Muhammadiyah 8 dan SMP Kristen di Bandung. Sekolah ini menginisiasi pertemuan-pertemuan antar umat beragama di antara siswa. Bagaimana caranya?

Selengkapnya: “Belajar Toleransi dari SMP Muhammadiyah 8 dan SMP Kristen di Bandung”

 

Masih ingat video sepasang kekasih yang dimandikan air comberan oleh masyarakat di Aceh? Hukuman mereka ternyata tak sampai di situ. Mereka dihukum cambuk karena tuduhan terkait asusila.

Pelanggar qanun syariat Islam di Aceh kerap mendapat hukuman ganda. Sebelum dicambuk algojo, sebagian dari mereka dipersekusi oleh warga biasa. Menurut pengacara senior, pelanggar syariat Islam hampr tak pernah diampingi pengacara dalam proses hukumnya. Hukum cambuk di Banda Aceh pun dinilai tidak berwawasan HAM.

Selengkapnya: “Banda Aceh Tetap Dukung Hukum Cambuk”

 

Orang yang hidup dengan kusta cenderungi dijauhi dari pergaulan. Penyakit ini dianggap menular dan cukp mengerikan. Tapi Yosepha dan Abdul Gani menjadi simbol keberagaman dan toleransi dalam pelayanan di Rumah Sakit Kusta (SSK) Alverno. Mereka merawat orang-orang yang hidup dengan Kusta di Singkawang, Kalimantan Barat.

Selengkapnya: “Ladang Kasih Kaum yang Terpinggirkan”

 

Di Indonesia, menikah beda agama itu ribetnya minta ampun. Bukan cuma soal tantangan dari lingkungan keluarga dan sosial tapi juga soal administrasi. Ikuti curhatan mereka yang sudah menjalani pernikahan beda agama berikut ini:

“Sulitnya Menikah Beda Agama di Indonesia”

 

Cerita lainnya adalah mereka yang kembali dari Suriah.

Sejumlah orang yang kembali dari Suriah dan bergabung dengan ISIS mengaku kapok. Sebab, iming-iming kesejahteraan dan kemenangan yang ditawarkan ISIS tak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Liputan ini cukup menarik, karena menggunakan komik bergambar dalam menuturkan wawancara dari narasumber.

Selengkapnya: “Mereka Kembali dari ISIS”

 

Kelompok Islam Ahmadiyah kerap menjadi sasaran diskriminasi. Tapi kisah ini tidak berlaku di Wonosobo. Mereka bisa hidup berdampingan dengan kelompok agama lainnya. Bagaimana ceritanya?

Selengkapnya: “Ahmadi, Sunni Muslims Live in Peace in Wonosobo”

 

Olahraga bisa menjadi alat kerukunan beragama.

Voli memang menjadi program andalan dari Desa Tenjowaringin. Bagi desa ini, voli menjadi salah satu ajang silaturami dan alat pemersatu warga Tenjowaringin.

Selain voli, ada beberapa kegiatan bersama yang dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim. Mulai dari kerja bakti, memperbaiki jalan, dan kegiatan sosial lainnya.

Selengkapnya: “Menjaga Toleransi di Tenjowaringin Tasikmalaya”

 

Rumah ibadah merupakan bagian dari layanan publik. Tapi tak semua pemerintah daerah atau pun pengelola rumah ibadah memikirkan tentang aksesibilitas jemaat dari kalangan difabel. Reporter Ery Chandra dari Tribun Jabar memotret bagaimana aksesibilitas difabel khususnya pengguna kursi roda di Kota Bandung, Jawa Barat untuk berdoa di rumah ibadah.

Selengkapnya: “Tempat Ibadah Ramah Difabel di Bandung Minim, Pengguna Kursi Roda Sulit Masuk”

 

Pengrusakan Kapel Stasi Santo Zakaria di Desa Mekarsari, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Maret 2018 lalu merupakan kesalahan toleransi. Sebab, pendudukan desa yang mayoritas pendatang, tak pernah memiliki konflik horizontal, apalagi terkait dengan persoalan SARA.

Selengkapnya: “Mengembalikan Semangat Toleransi Desa Mekarsari”

 

Kalau masih ribut-ribut soal agama, belajarlah dari masyarakat Fakfak, Papua Barat. Di sini mereka mengenal filosofi "Satu Tungku Tiga Batu" yang diturunkan dari nenek moyang sebagai dasar kerukunan masyarakat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari "kau", "saya" dan "dia" yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

Selengkapnya: Satu Tungku Tiga Batu, Penguat Toleransi di Fakfak, Papua Barat

 

Banyak orang menyebut Manado sebagai laboratorium kerukunan. Kota ini mampu memelihara kehidupan yang menyejukan bagi warganya.Harmonisasi di sini adalah harga mati. Kendati beberapa kali sempat diguncang isu intoleransi, namun toh ruh “torang samua basudara” mampu merekat sendi silang pendapat.

Beberapa kali Manado sebagai ibu kota Sulawesi Utara diganjar penghargaan kota paling toleran. Penghargaan itu pun bukan hanya milik Manado, tetapi juga representatif keberagaman di Sulut yang terpelihara.

Selengkapnya: Merawat Keberagaman di Sekolah Kristen

 

Masyarakat di Desa Kolongan Tetempangan, Kalawat, Minahasa Utara terbiasa saling menjaga satu sama lain. Termasuk saling berjaga-jaga keamanan di hari besar keagamaan. Misalnya ketika pelaksanaan salat Hari Maulid Nabi Muhammad SAW, umat kristen melakukan penjagaan keamanan. Sebaliknya, ketika tiba hari Natal, umat Islam melakukan penjagaan keamanan di lingkungan sekitar.

Selengkapnya: Panji Yosua: Memupuk Toleransi, Merawat Keberagaman

 

Kelompok Yahudi di Manado, Sulawesi Utara hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Sebagai kelompok minoritas, kehadiran komunitas Yahudi tak pernah mengalami diskriminasi di sana. Mereka tetap bisa menjalankan ibadahnya meski.

Selengkapnya: Kisah Pemimpin Yahudi dan Toleransi di Sulawesi Utara

 

Budaya Mappalili di Kabuapten Pangkap, Sulawesi Selatan masih terus dipertahankan. Budaya "turun ke sawah" ini dipimpin oleh Bissu sebagai jembatan bagi dewa yang memberikan keberkahan untuk masyarakat. Sayangnya, di tengah arus globalisasi, regenerasi Bissu saat ini mulai berkurang. Mereka lebih memilih menjadi penata rias, karena status Bissu sudah tidak menjanjikan lagi dalam sisi ekonomi. 

Selengkapnya: Mengenal budaya awal turun sawah di Pangkep, “Mappalili”

Beribadah merupakan hak umat beragama yang dilindungi oleh konstitusi. Tapi hal ini belum berlaku bagi sebagian umat beragama di Jambi. Keinginan mereka membangun gereja masih mendapat penolakan dari sebagian masyarakat. Mereka pun beribadah secara berpindah-pindah tempat.

Selengkapnya: Jambi Church Struggle to Obtain Permits

 

Desa Kuala Dua, di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat memahami pentingnya toleransi antar umat beragama. Sebab, di sini hidup masyarakat dengan keberagaman suku dan agama. Inisiatif untuk pendidikan toleransi ditanamkan sejak dini melalui sekolah-sekolah.

Selengkapnya: Menanamkan Tolerasi Sejak Dini Ala Desa Kuala Dua

Abdurrahman Taif akhirnya tobat jadi teroris. Setelah keluar dari penjara ia pun menyadari jalan jihad yang ia lakoni selama ini salah. Ia pun merasa bersyukur karena masyarakat bisa menerima kehadirannya dengan menyandang status mantan napi terorisme.

Selengkapnya: Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat

 

Lula sedang mendalami agama Islam. Tapi ia harus meninggalkan atributnya sebagai transgender demi mendapat penerimaan. Transgender saat ini belum bisa keberadaannya bagi sebagian masyarakat. Hal ini yang membuat mereka harus meninggalkan keluarga dan lingkungannya.

Selengkapnya: Meninggalkan Atribut Demi Menghindari Diskriminasi

 

Serentetan aksi terorisme membuat stigma bagi perempuan bercadar sebagai kelompok ekslusif, bahkan radikal. Hal ini yang membuat sebagian perempuan yang bercadar melakukan aksi bahwa mereka bukan bagian dari kelompok radikal. 

Selengkapnya: Pengguna Cadar Melawan Stigma Radikal

Meskpun dikenal sebagai laboratorium kerukunan masyarakat, tapi Kota Manado masih belum bisa menerima LGBT untuk beribadah. Hal ini yang dialami sejumlah LGBT saat mereka beribadah. 

Selengkapnya: Masih Ada Diskriminasi di Rumah Ibadah

 

Sekelompok anak muda di Cirebon, Jawa Barat membentuk komunitas Pemuda Lintas Iman (Pelita). Melalui wadah ini, mereka yang bergabung dari pelbagai latar belakang, suku dan agama menyebarkan paham tentang toleransi. Bagaimana cara anak-anak muda ini mengkampanyekan toleransi? Apa yang menjadi motivasi mereka?

Selengkapnya: Tebar Toleransi Sejak Dini

Ingin menyaksikan pertunjukan teater dari kelompok transgender? Sanggar Seroja akan menyuguhkan pertunjukkan tentang keberagaman dan demokrasi.

Selengkapnya: Sanggar “Waria” Seroja

 

Menuju ke Ambon. Kita akan mengenal sosok Eklin Amtor De Fretes. Pemuda asal Maluku berinisiatif untuk menebarkan pesan damai melalui Dongeng. Ia sehari-hari berkeliling kampung-kampung di Ambon, Maluku untuk bercerita tentang toleransi di komunitas Kristen maupun Islam. Pesan yang ia sampaikan, adalah membangkitkan persaudaraan di tengah sejarah berdarah konflik agama di sana. Bagaimana cerita selanjutnya?

Simak: “Sosok Eklin Amtor De Fretes Sang Pendongeng Penebar Pesan Damai"

 

Kepercayaan agama adat di Sangihe punya cara tersendiri untuk menghindari musibah. Kepercayaan ini tetap mereka bawa meski agama-agama lain mulai masuk.

Selanjutnya: “Erupsi Kerangetan dan Kepercayaan Mengusir Bala”
 

Hanna Mairissa juga akan bercerita mengenai pengalamannya melewati kelamnya konflik SARA di Ambon, 18 tahun silam. Dia dan keluarga justru dijaga oleh pemuda yang berasal dari kelompok bertikai.

Selanjutnya: “Air Mata Oma Hanna dan Persaudaraan yang Tulus Saat Konflik Ambon”
 

Gereja Louhata Damai menjadi saksi bisu konflik Ambon 18 tahun silam. Saat itu gereja ini sempat dibakar, lalu baru 2017 lalu dibangun kembali dengan penamaan baru. Gereja ini kemudian dijadikan simbol perdamaian oleh masyarakat.

Selengkapnya: “Gereja Louhata Damai, Simbol Perdamaian”
 

Komunitas adat wetu telu di Lombok Utara terus mempertahankan warisan para leluhur suku Sasak di Pulau Lombok. Mereka menganut filosofi wetu telu yang bermakna untuk menjaga hubungan manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia lainnya. Adat wetu telu menunjukkan betapa Islam sangat lentur terhadap adat dan kebudayaan.

Selengkapnya: “Potret Komunitas Adat 'Wetu Telu' Bayan Menepis Stigma dan Merawat Warisan Leluhur”

 

Wilayah perbatasan Waringin dan Talake menjadi daerah paling berdampak parah saat konflik Ambon 1999. Kini warga di perbatasan ini terus merajut perdamaian.

Selengkapnya: Wajah Damai di “Jalur Gaza”
 

Tak ada istilah permusuhan dan konflik karena beda Agama di Pulau Ay. Di Pulau terpencil yang masih berada dalam gugusan Maluku ini, masyarakat beda latar belakang berbaur dan saling membahu membangun tempat ibadah tanpa melihat agama masing-masing.

Uniknya, mereka dipersatukan kebudayaan dan adat, yaitu Sasi Laut. Sasi Laut merupakan upacara adat warga Ay untuk meneguhkan larangan mengambil ikan dan tumbuhan laut tertentu, demi melestarikan dan menjaga populasinya. Kearifan lokal itu telah dijaga secara turun-temurun. Warga Pulau Ay selalu menyambut tradisi empat tahunan di desanya itu dengan sukacita. 

Selanjutnya: “Di Pulau Ay, Toleransi tak Pernah Mati”
 

Kaum Yahudi masuk ke Indonesia sejak abad ke-8 Masehi. Di Jakarta, dari 4.000-an orang keturunan Yahudi, hanya 40-an orang yang resmi menganut Yudaisme. Bagaimana mereka hidup berdampingan dalam keberagaman di Jakarta?

Selengkapnya: “Jejak Samar Yahudi di Jakarta”
 

Transgender biasanya tak lepas dari persoalan hujatan. Tapi di Ambon, kelompok transgender berupaya untuk melawan stigma. Mereka menebarkan pesan perdamaian sampai memberikan les bahasa Inggris.

Selengkapnya: “Waria Menolak Stigma dengan Berderma”
 

Suku Kajang di Bulukumba dikenal sakti, sensitif dan ahli sihir. Tapi nyatanya itu hanya stigma yang dibentuk oleh banyak orang. Saat ini barisan Suku Kajang justru sedang menghadapi konflik sengekta lahan yang melibatkan perusahaan dan aparat negara.

Selengkapnya: "Prahara Kajang, Stima Siluman dan Sengketa Lahan"
 

Pemilu menjadi ajang gontok-gontokan, terutama mereka yang sudah sangat fanatis terhadap jagoannya. Berita bohong atau hoaks pun seperti tak terbendung, memperparah suasana. Untuk itu perlu menjaga jarak dan tetap merawat persaudaraan meski memasuki tahun politik

Selengkapnya: “Jangan Sampai Terpecah Belah Karena Pemilu”
 

Dua tahun pasca pelaksanaan Permendikbud No 27 Tahun 2016, penyelenggaraan pendidikan agama bagi penganut kepercayaan Sapta Dharma di Temanggung baru bisa dilaksanakan di awal ajaran baru tahun 2018.

Suwanto (36) anggota Persada Sapta Dharma Temanggung menyimpulkan dua faktor yang menghambat proses pendidikan Sapta Dharma di wilayahnya. Pertama, keterbatasan tenaga pendidik, sedangkan yang kedua pembagian jam pelajaran agama yang seringkali berbenturan dengan mata pelajaran lain.

Selengkapnya: “Balada sang ‘Guru Agama”

-----------------------------------

Berita-berita ini merupakan hasil kumpulan berita hasil pelatihan jurnalis dengan tema Media dan Keberagaman yang didukung oleh Deutsche Welle dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.