Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

Menaklukan Virus HIV Lewat Badminton

Menaklukan Virus HIV Lewat Badminton
Foto:
Dessy Christina (kiri) dan Augustyan Lin (kanan)

INDEPENDEN, Jakarta – Stadion badminton di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan menggelora. Mata para penonton terus mengikuti pantulan bola liar dari raket Augustyan Lin (39) yang berpasangan dengan Dessy Christina (41). Ganda campuran asal Kalimantan ini sedang memperebutkan juara I melawan pasangan asal DKI Jakarta dalam rangka kompetisi IDEFest yang diselenggarakan Buddha Dharma Indonesia, Kamis (27/12).

Akhirnya, babak final dimenangkan pasangan Augustyan dan Dessy dengan skor akhir 21 : 15. Sorak sorai penonton makin membahana. Setelah memeluk beberapa kerabatnya saking senangnya, tubuh Augustyan langsung ambruk. Tapi lelaki asal Palangkaraya ini masih tetap sadar. “Capek banget,” katanya.

Hari itu Augustyan bertanding sebanyak 7 set di ganda campuran dan ganda putra. Untuk kompetisi ganda putra, ia belum berhasil mendapatkan juara.

Augustyan sebenarnya tak mendapat restu dari dokter untuk bertanding dalam kompetisi tingkat nasional ini. Virus HIV masih terus menyerang pertahanan tubuhnya.  “CD4 gue sekarang itu 219. Artinya, hidup gue sekitar 40% dari yang normal,” katanya.

Tapi, badminton telah mengalahkan segalanya. Badminton merupakan hobi yang tak bisa dipisahkan dari hidup Augustyan. “Ya, kalau gue sih gue lawan ini virusnya. Sampai gue bilang, eh virus elo salah masuk ke tubuh orang,” katanya.

Augustyan divonis positif HIV awal 2016 lalu. Berat badannya turun 12kg. Batuk terus dan napsu makan berkurang. “Saat dikasih tahu, dokter tutup tirai tempat tidur. Dia bilang, kamu kena HIV stadium 3,” katanya.

Tapi menurut Augustyan, semestinya sudah masuk level AIDS karena telah terinfeksi 8 penyakit oportunistik yang biasa menyerang ketahanan tubuh karena HIV. “Dokter itu bilang stadium 3 karena ingin saya semangat. Dia ngomong gitu,” katanya.

Setelah mengetahui positif HIV, Augustyan menghubungi keluarga dan teman-teman dekatnya. Semua kaget, tapi tidak terlalu mempermasalahkan.  “Karena sebelum terjadi ini, gue orangnya baik dan jujur kepada siapa pun. Jadi bisa kayak gini, nggak masalah,” lanjutnya.

Ia pun mulai bangkit dan menghadapi kehidupan seperti biasanya. Hal yang tak disangka justru datang dari dunia kerja. Saat lelaki yang kerap disapa Koh Agus mulai membuka diri ke lingkungan sekitar karena positif HIV, pihak perusahaan langsung memintanya mengundurkan diri.

“Bulan Juli 2016. Datang supervisor datang dengan surat, minta saya untuk mengundurkan diri. Minta saya untuk tanda tangan,” kata Augustyan.

Diskriminasi tak hanya datang dari kantor. Tapi juga lingkungannya sendiri.

“Ada Teman baik, dulu baik. Biasa makan tidur di rumah mewahnya. Kemarin itu, pergi bantu bikin kue kering. Saya pergi bantu. Eh, elu udah cuci tangan nggak? Elu mesti pakai sarung tangan plastik. Kalau nggak nanti menularkan ke kami nanti. Bah! Sebodoh itu ya otakmu, aku bilang. Mereka nggak ngerti,” cerita Augustyan.

Tapi jumlah orang-orang yang mendiskriminasi tak sebanding dengan mereka yang terus mendukung Augustyan untuk menjalani hidup seperti biasanya. “Ada beberapa kalau 100%, 98% yang mendukung. 2 persen yang menstigma. Itu lingkungan sekitar dan di mana pun,” katanya.

Ia pun berpesan agar Orang Dengah HIV/AIDS (ODHA) tak perlu dikucilkan. Tak perlu terlalu takut berlebihan, karena penularan virus hanya berlangsung melalui darah.

“Karena mereka menstigma, atau menjauhi itu membuat rasa percaya diri seseorang itu hilang. Akhirnya, nyali orang itu si pasien ciut lama kelamaan merasa tidak ada harga diri, tidak ada percaya diri akhirnya melemah dan lebih gampang mati. Mati sia-sia, karena tak mau memperjuangkan hidupnya. Mereka lebih mematikan dari virus HIV,” kata Augustyan.

Di lingkungan badminton, Augustyan mendapat kepercayaan diri dan semangat hidup. Terlebih lagi, dukungan dari teman-temannya.

Seperti Dessy Christina, pasangan dalam ganda campuran yang membiayai perjalanannya dari Kalimantan untuk bertanding di Jakarta dalam IDEFest 2018 ini. “Begitu tahu dia nggak bisa datang, sedih juga. Padahal dia lebih semangat dari aku. Makanya aku usahain dia datang,” katanya.

Dessy menambahkan dirinya dan teman-teman di komunitasnya selalu memberi semangat kepada Augustyan dan memperlakukannya seperti biasa.

Augustyan pun kerap mengkampanyekan tentang ODHA di lingkungannya, terutama di arena badminton. “Banyak anak badminton yang mereka latihan, SMP, SMU, terus teman-teman saya dari kalangan ODHA gue edukasi mereka, nggak takut gue lagi,” katanya. ID003

Khusus Lainnya