Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

LBH Pers: Isu Pemilu Sumbang Kekerasan Terhadap Jurnalis

Embed from Getty Images

INDEPENDEN, Jakarta - Isu pemilu menjadi basis kekerasan paling banyak yang dialami oleh jurnalis. Ini merupakan catatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers selama 2018 lalu.

Dalam laporan LBH Pers, kasus yang dialami selama 2018 mencapai 72 kasus. Dalam analisis kekerasan terhadap jurnalis terhadap isu, LBH Pers mencatat isu pemilu paling banyak terjadi yaitu 16 kasus, diikuti isu kriminal 15 kasus dan korupsi 14 kasus. Sisanya dari isu olahraga, arogansi pejabat, kesehatan dan lain-lain.

"Dalam catatan kami, isu pemilu yang paling banyak membawa kekerasan terhadap jurnalis," kata Direktur LBH Pers Jakarta, Ade Wahyudin saat siaran pers Catatan Akhir Tahun 2018 di kantornya, Jakarta, Rabu (16/01).

Kekerasan terhadap jurnalis juga semakin meningkat menjelang Pilkada dan Pilpres. Pada 2017 lembaga ini mencatat setidaknya terjadi 7 kasus kekerasan terhadap jurnalis terkait pemilu. Lalu, 2018 meningkat menjadi 15 kasus.

Kategori kekerasan jurnalistik tersebut meliputi gugatan perdata, kriminalisasi narasumber, ancaman verba, ancaman teror, perusakan dan penghapusan data, penyerangan kantor media massa, pelarangan liputan, intimidasi, kriminalisasi, kekerasan verbal dan kekerasan fisik.

"Kekerasan fisik paling banyak dialami oleh jurnalis, yaitu 24 kasus," tambah Ade.

Selain itu, dari data yang dihimpun LBH Pers, kasus kekerasan terhadap jurnalis lebih banyak terjadi di Jakarta. Pelaku kekerasan lebih banyak disumbang oleh polisi. 

Selama 2018 LBH Pers telah menanganani kasus secara litigasi berjumlah 24 kasus. 11 kasus ketenagakerjaan, 2 kasus perdata, 3 kasus pidana, 2 kasus hak cipta, dan 6 kasus sengketa pemberitaan. ID003

Khusus Lainnya