Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

CCTV Perusakan Buku Merah

CCTV Perusakan Buku Merah

Independen --- Dua penyidik kasus suap daging sapi Basuki Hariman dari unsur Polri, yakni Roland Ronaldy dan Harun diduga merusak buku bersampul warna merah. Buku merah bertuliskan “Buku Bank” itu merupakan barang bukti yang isinya diduga catatan aliran dana Basuki Hariman ke sejumlah pejabat lembaga negara. Salah satunya diduga mengalir kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang ketika itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. 

Basuki adalah salah satu tersangka dan akhirnya menjadi terpidana kasus suap kepada hakim konstitusi Patrialis Akbar pada Januari 2017. 

Aksi dua penyidik berlatar Polisi itu terekam dalam kamera pemantau atau CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017 malam. Rekaman CCTV itu mendarat di keranjang digital laman IndonesiaLeaks—jaringan sejumlah media massa untuk melakukan peliputan investigatif beberapa waktu lalu.

Berdasarkan rekaman berdurasi 1 jam 48 menit itu, setidaknya terdapat 20 adegan krusial yang menunjukkan Roland dan Harun merusak buku merah. Bersamaan dengan buku merah itu, juga terdapat “Buku Kas” bersampul warna hitam. Ada sembilan orang yang terpantau keluar-masuk ruangan. Sebagian besar di antara mereka mengenakan busana batik.

Terdapat empat orang yang diduga mengetahui peristiwa pengrusakan tersebut. Ardian, Rufri, Roland Ronaldy, dan Harun. Detik-detik yang mengindikasikan perusakan mulai terlihat pada 18.47 WIB. Ketika itu, Harun mengambil buku merah lalu memilih duduk di bawah lantai. Tak jelas apa yang ia lakukan saat di bawah meja. Gesture tubuhnya saat memeriksa buku tak lazim, seolah ingin menghindari sorotan rekaman CCTV.

Kejadian serupa terlihat pada menit 19.42 WIB saat Harun mengeluarkan tip-ex dari dalam saku. Barang tersebut ia serahkan kepada Roland dan selang beberapa saat melempar buku yang tergeletak di samping kirinya ke bawah meja. Roland lalu merunduk melakukan aktivitas di bawah meja. Yang cukup jelas aktivitas pada 19.47 WIB ketika Harun mengeluarkan tip-ex dan menghapus catatan buku hitam. Aksi itu ia lakukan setelah berbicara dengan Roland.

Barang bukti CCTV telah dipelajari Pengawas Internal KPK untuk menentukan sanksi kepada para pelaku. Semua orang yang berada dalam ruangan itu diperiksa. Dua nama yang disorot adalah penyidik berlatar belakang dari polisi, Roland Ronaldy dan Harun. Rufri membenarkan berada dalam ruangan itu seperti yang tampak dalam CCTV. Namun ia enggan menjelaskan detil kejadian. “Iya, rekaman dalam ruang rapat,” kata dia.

sumber : youtube.com/Tempodotco

 

Keterkaitan Buku Merah di Balik Penyerangan Novel

Indikasi keterkaitan skandal buku merah di balik penyiraman air keras sempat diungkap Tim Gabungan Pencari Fakta saat menemui Novel dan pimpinan KPK pada bulan Mei 2019. Pertemuan di lantai 15 itu dihadiri dua wakil pimpinan KPK, La Ode Syarief dan Saut Situmorang. Ikut juga dua pejabat biro hukum dan pengawas internal. Sedangkan dari tim pakar, dihadiri oleh Indriarto Seno Aji, Ifdhal Kasim, Nurcholis, dan Hendardi. 

Novel mengaku terkejut dengan pernyataan anggota tim pakar yang menyatakan bahwa mereka sudah mengantungi petunjuk ihwal pelaku penyiraman. Pelaku penyiraman tersebut terindikasi berkaitan dengan orang-orang di kepolisian. Tim tak merinci apa saja temuan-temuan yang melatari kesimpulan tersebut. Yang bisa mereka jelaskan hanyalah dugaan motifnya saja. “Saat itu disebut bahwa penyerangan terhadap saya terkait dengan buku merah,” kata Novel.

Namun pernyataan itu jauh berbeda dengan kesimpulan akhir TGPF yang dirilis 17 Juli 2019. Setelah enam bulan bekerja, yang bisa dihasilkan tim tersebut hanyalah memetakan motif dan hubungannya dengan kasus-kasus besar yang pernah ditangani Novel. Sementara indikasi keterkaitan buku merah hilang dari laporan. Novel menganggap kesimpulan itu laiknya sebuah dagelan. “Hasilnya jauh dari ekspektasi. Yang ada hanya mengolok-olok saya,” ujarnya.

Kesan bermain-main tergambar dari temuan tim yang dianggap hanya memojokkan dirinya. Alih-alih menunjuk hidung pelaku penyiraman, tim malah menarik jauh ke belakang hubungan penyiraman air keras dengan peristiwa penembakan pencuri sarang burung walet yang pernah dituduhkan kepada Novel ketika ia bertugas sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu pada 2004 silam. Novel dianggap melakukan excessive use of power atau menggunakan kekuatan yang berlebihan dalam bertugas yang diduga memicu aksi balas dendam.

Novel sudah memperkirakan kesimpulan tim tidak membawa titik terang. Sejak awal, ia menyangsikan kemampuan tim bersikap imparsial karena tim ini dibentuk Kapolri dan diisi orang-orang yang sarat konflik kepentingan. Menurut Novel, kasus ini akan tetap gelap jika presiden tidak membentuk tim independen yang lepas dari bayangan institusi kepolisian. 

“Justru yang membuat kasus ini tidak terungkap karena adanya abuse of process,” ujarnya.

Nurcholis sebagai tim pakar tak membantah bahwa tim pernah melontarkan indikasi keterkaitan buku merah di balik penyiraman air keras. Hubungan keterkaitan antara keduanya belakangan dianulir karena bukti pendukungnya tidak cukup kuat. Menurut dia, kasus sarang burung walet dan lima kasus besar lain yang diduga melatari peristiwa penyiraman masih perlu didalami tim teknis yang ditugasi Kapolri selama tiga bulan. “Masih ada waktu hingga akhir Oktober,” tutur dia.

Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Idham Azis yang ditunjuk Kapolri mengomandani tim teknis enggan meladeni permintaan wawancara. Begitupun dengan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal. Permohonan wawancara kepada Tito melalui surat sejak empat pekan lalu tak mendapatkan respon. Begitupun dengan konfirmasi melalui pesan singkat.

Nasib Dua Perwira

Ketua KPK Agus Rahardjo menjelaskan, Roland dan Harun dinyatakan melakukan pelanggaran berat oleh Pengawas Internal. Pimpinan KPK sepakat menjatuhkan sanksi pemulangan keduanya ke institusi kepolisian. Surat pemulangan keduanya kepada polisi juga menyertakan keputusan hasil pemeriksaan. “Diberitahukan ke sana, orang ini waktu di KPK seperti ini. Tindakan berikutnya dilimpahkan kepada polisi,” ujarnya.

Ulah Roland dan Harun diketahui Pengawas Internal setelah menerima laporan dari pegawai KPK. Keduanya diketahui menghapus beberapa nama-nama penerima uang dalam catatan buku merah dan merobek 15 lembar catatan pengeluaran hingga terpisah dari buku aslinya. Karena telah dirobek, catatan penggunaan keuangan dalam buku merah tersisa 12 halaman saja. Itupun dengan tanggal transaksi yang tak lagi berurutan.

Untuk memperkuat laporan, disertakan salinan buku merah dalam kondisi asli yang telah dipindai. Laporan yang juga diterima tim Indonesialeaks itu memuat catatan uang masuk dan keluar dalam mata uang rupiah, dolar Amerika, dan dolar Singapura. Uang yang digelontorkan untuk setiap transaksi cukup fantastis. Nama-nama panggilan pejabat terkenal, kode nama, dan banyak instansi negara. 

Catatan yang hilang dari buku asli tersebut sebelumnya juga sudah diberkas penyidik KPK, Surya Tarmiani, dari keterangan Kumala Dewi, staf keuangan Basuki. Salinan berkas tertanggal 9 Maret 2017 itu merekam pengakuan Kumala tentang 68 transaksi pengeluaran uang dalam buku merah. Sebanyak 19 transaksi di antaranya, disinyalir untuk individu yang terkait institusi Kepolisian RI. Di dalamnya ada nama Tito Karnavian. Menurut keterangan Kumala dalam berkas pemeriksaan, duit tersebut diserahkan langsung oleh Basuki maupun melalui orang lain.

Saat bersaksi di pengadilan tindak pidana korupsi pada 3 Juli 2017, Kumala mengakui dialah yang membuat buku catatan tersebut atas perintah Basuki dan atasannya Ng Fenny, yang menjabat general manager. Kumala enggan meladeni permintaan wawancara saat tim Indonesialeaks berkunjung ke rumahnya di Kelapa Gading. Sementara Surya tak berkomentar ketika diminta konfirmasi ihwal berkas pemeriksaan tersebut. “Silakan tanya pimpinan,” ujarnya.

Kesalahan Roland tak hanya perusakan barang bukti. Sepekan setelah skandal pengrusakan, ia memberkas ulang keterangan Kumala pada 15 April 2017. Namun berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya, nama-nama pejabat yang tercantum dalam buku merah dan dan penjelasan dalam berkas pemeriksaan sebelumnya tak lagi disinggung. Berkas penyidikan itulah yang belakangan dijadikan dokumen pengadilan untuk menjerat Ng Fenny.

Roland yang diminta keterangan enggan memberikan komentar saat tim Indonesialeaks menemuinya di Cirebon tahun lalu. Wajahnya berubah masam ketika diperlihatkan perbandingan antara berkas pemeriksaan yang dibuat Surya Tarmiani dan berkas pemeriksaan ulang yang ia buat ketika memberkas keterangan Kumala Dewi. “Ini kan soal rahasia, ngapain sih diungkit-ungkit lagi,” ujarnya. “Sudahlah, itu kan barang lama,” ujarnya.

Sikap Harun pun sama. Surat permohonan wawancara tim Indonesialeaks tak mendapatkan respon. Ketika ditemui di depan rumah dinasnya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, ia mengunci mulut rapat-rapat. Alumni Akademi Kepolisian Angkatan 2001 itu tak sekalipun meladeni permintaan wawancara. “Sudah... sudah... sudah ya...” ujarnya tak lama setelah turun dari mobil Fortuner B 2001 HAR.

Meski dinyatakan bersalah oleh KPK, Divisi Profesi dan Pengamanan, menganulir keputusan tersebut. Hasil pemeriksaan ulang menyatakan keduanya tidak bersalah. Alih-alih dijatuhi sanksi, karier keduanya malah makin moncer. Roland didaulat menduduki jabatan Kepala Kepolisian Resor Kota Cirebon usai mendapat penugasan sebagai staf di Divisi Hubungan Internasional, Mabes Polri. Jabatan itu resmi diserahterimakan kepadanya sejak Maret 2018.

Adapun Harun, pada saat ditarik dari KPK masih berpangkat Komisaris, diberikan tiket mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah. Usai menjalani studi, jabatan baru menunggunya di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Ia sempat menjabat Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi. Selang sebulan kemudian ia dipromosikan sebagai Kepala Subdit II Direktorat Fiskal, Moneter, dan Devisa, Polda Metro Jaya, dengan pangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). 

(Tim Indonesialeaks)

 

Khusus Lainnya