Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

Syariah, Mengejar Berkah

Syariah, Mengejar Berkah
Foto: Dok: Burak K/pexels.com

Independen --- “Nomor satu itu, harus syariah, ada berkah di dalamnya kan. Karena mengalir jadi daging, apalagi buat keluarga.” 

Begitulah prinsip Zainuri Syailendra dalam berinvestasi. Baginya, imbal hasil dari investasi yang menjalankan prinsip syariah adalah rezeki yang berkah. Prinsip yang ia anut sejak kecil. Pria kelahiran Lampung, 7 Juli 1983 ini berasal dari lingkungan keluarga pesantren.

Sejak Maret 2019, Zainuri, sapaan akrabnya, berinvestasi di fintech P2P syariah, Ammana. Pengusaha yang bergerak di bidang jasa konsultasi ini menjadi lender dan menyalurkan dana investasi awal sebesar Rp 100.000,00. 

“Kalau bank, kan modalnya harus banyak. Saya searching ada nih fintech, bisa dimulai dari lima puluh ribu, dan syariah pula,” ungkapnya.

Ini adalah kali pertama Zainuri berinvestasi di fintech. Sebab itu, mahasiswa magister manajemen sumber daya manusia ini tidak mau hanya sekadar berinvestasi. Selain harus syariah, ia juga ingin investasinya punya dampak bagi orang lain. Di Ammana, ia menemukan fitur pendanaan produktif yang membantu pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) halal di Indonesia. 

Kini, nominal investasi Zainuri meningkat menjadi Rp 1.000.000,00. Ia mendapat imbal hasil Rp 40.000,00 – RP 50.000,00 setiap bulannya. 

“Kalau kita hanya mau cari materi saja, ya kita tidak dapatkan itu, tapi kita ada ketenangan batin. Fintech syariah itu jelas regulasinya syariah, ada yang ngatur yang sesuai dengan regulasi dan ada dewan pengawas syariah, ada komitmen yang memang harus sesuai syariah yang dibiayain. Penjual rokok pasti ga bisa. Yang tidak halal, pasti gak bisa,” tegasnya.

Zainuri adalah satu contoh investor yang menekankan pentingnya pertimbangan keagamaan dalam berinvestasi. Zainuri menjadi bagian dari fenomena “religiusitas” yang tengah terjadi pada masyarakat muslim di Indonesia. Fenomena ini tergambar dalam sebuah esai berjudul Kelas Menengah Islam: Wajah Keagamaan Tanpa Ide Populis yang ditulis oleh Eko Prasetyo. Esai yang dihimpun dalam buku Bela Islam atau Bela Oligarki itu menjelaskan bahwa kini muncul kesadaran dan keinginan kolektif yang menganggap seorang muslim tidak bisa hanya ‘berbusana dan berbicara’ tetapi juga harus ‘mengonsumsi’ apa saja yang identik dengan peningkatan kualitas ‘iman’. 

Dalam istilah tertentu, seorang muslim sejati menempatkan kegiatan konsumsinya sebagai praktik peribadatan. Meminjam istilah Anthony Giddens, kelas menengah Islam sedang terlibat dalam ‘proyek tentang diri’: sesuatu yang secara sadar seorang individu terlibat di dalamnya dan terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan kesadaran tentang diri. 

Jika diamati, pemenuhan aspek ketenangan batin ini pula yang menjadi poin utama semangat pendirian fintech syariah di Indonesia. Seperti dijelaskan oleh Widji Tri Kusuma Adhi, Chief Operation Officer Ammana.

“Ini sebetulnya kebutuhan umat, untuk hidup secara kaffah. Menjalankan prinsip hidup secara syariah secara keseluruhan,” kata Widji.

Dalam laman perusahaannya, tercatat latar belakang Ammana hadir untuk mendukung kemajuan para pelaku UMKM dengan cara menjembatani para pendana dengan peminjam yang membutuhkan modal usaha halal melalui program pendanaan bersama (crowdfunding) halal.

“Kita di Ammana punya visi misi mendirikan fintech itu gak cuma sekadar setelah pembiayaan selesai, tetapi kita punya harapan bahwa apabila kita membiayai sesuatu dan ternyata prosesnya gak halal, maka hasil akhirnya akan gak halal juga,” ujar Widji.

Semangat hidup bersyariah yang halal sah saja. Namun, Mustolih menyebut bahwa ada beberapa catatan yang mesti digarisbawahi. Pelaksanaan prinsip syariah yang komprehensif tidak hanya dijalankan secara patuh oleh pelaku bisnis fintech, tetapi juga investor dan penerima manfaat.

Pelaku bisnis fintech harus memastikan seluruh sistem syariah dari hulu ke hilir dijalankan sesuai koridor prinsip-prinsip syariah. Investor harus jujur memastikan bahwa dana yang ia investasikan berasal dari rezeki yang halal. Sementara, penerima manfaat tidak boleh menunda-nunda pembayaran pinjaman. 

“Kalau sudah jatuh tempo, ya dia harus bayar. Karena tidak boleh, orang yang ngemplang utang itu juga, tidak sesuai dengan prinsip syariah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa jika salah satu dari ketiga aktor tersebut tidak menjalankan prosesnya secara benar, maka kemaslahatan yang diharapkan dari syariah tidak akan tercapai dengan sempurna. (Marina)

 

Lihat juga : Fintech P2P Syariah di Tengah Gempita Tren Hijrah Milenial

Khusus Lainnya