Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

Pria Ikut Keluarga Berencana, Ciptakan Perempuan Bertubuh Sehat

Pria Ikut Keluarga Berencana, Ciptakan Perempuan Bertubuh Sehat
Foto: Dok : Bambang Muryanto
Petugas layanan KB sedang melayani para perempuan usia subur yang akan memasang alat kontrasepsi implan di Puskesmas Dadirejo, Purworejo

Independen --- Sebagai negara yang menjalankan program Keluarga Berencana, Indonesia ikut berkomitmen menjalankan Family Planning 2020 (FP2020), yaitu:  a global partnership that supports the rights of woman and girls nomatter where they live, should have access to lifesaving contraceptionand decide freely and for themselves, whether, when, and how manychildren they want to have.

FP2020 adalah hasil dari 2012 LondonSummit on Family Planning yang menargetkan ada tambahan sekitar 120 juta perempuan dan remaja di dunia yang memiliki akses terhadap alat kontrasepsi per tahun 2020.

Kesepakatan global ini tidak menyebutkan berapa jumlah pria yang harus menggunakan kontrasepsi. Walaupun memberikan otonomi bagi tubuh perempuan tetapi program pengendalian jumlah penduduk global ini masih memprioritaskan tubuh perempuan sebagai sasarannya.

Sekretaris Pengurus Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY), Gama Triono mengatakan FP2020 masih bias gender. Kritik ini sudah lama disuarakan para aktivis feminis karena merugikan kaum perempuan.

“Kalau PKBI, menginginkan ada banyak pria yang terlibat dalam programKeluarga Berencana,” ujar mantan Direktur PKBI DIY, Kamis (9/1).

Ketika pria menggunakan salah satu dari dua metode kontrasepsi yang tersedia, kondom atau vasektomi maka tubuh perempuan terjaga kesehatannya, bebas dari dampak negatif empat alat kontrasepsi bagiperempuan, yaitu IUD (intraurine device), pil, suntik, dan implant sedangkan untuk tubektomi (steril) relatif aman.

Purwanti (51) adalah seorang ibu rumah tangga di Desa Kemadang, GunungKidul yang berbahagia karena bebas dari penderitaan akibat alatkontrasepsi sejak 9 tahun lalu. Ibu dua anak ini tidak lagi mengalami kesakitan karena ada IUD di rahimnya.Ia juga pernah menggunakan suntik dan implant yang menyebabkan tubuhnya menjadi gemuk. Bebas dari obat hormonal juga membuat gairah seksnya makin meningkat.

“Saya sangat bersyukur karena suami saya mau vasektomi,” ujarnya, Kamis (5/12).

Sayang jumlah pria yang mau vasektomi masih sedikit, hanya sekitar 1 persen. Bagi pria yang tidak menginginkan anak lagi, vasektomi adalah metode paling efektif dibandingkan kondom yang masih memiliki resiko kegagalan karena bocor.

Vasektomi dilakukan dengan cara bedah kecil pada skrotum (kulit penis)untuk memotong atau mengikat dua saluran vas deferens sehingga sel-selsperma yang diproduksi testis tidak bisa berjalan menuju ke salurankencing atau mani. Para ahli kesehatan mengatakan vasektomi secaramedis tidak berdampak terhadap kesehatan.

Sejak tahun 1960-an program Keluarga Berencana menjadi kebijakan resmidi negara-negara berkembang untuk mendapat utang luar negeri yang jadisumber pendanaan pembangunan. Menekan pertumbuhan jumlah penduduk bisa mengurangi angka kemiskinan, salah satu tujuan pembangunan.

Ahli gender dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadjir Darwin menjelaskan banyak negaraberkembang menjalankan program Keluarga Berencana karena pembangunan yang mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri tidak serta merta menurunkan jumlah penduduk. Di negara-negara maju di utara, proses industrialisasinya secara alamiah mengurangi jumlah penduduk.

“Teorinya, keluarga dalam masyarakat agraris butuh banyak anak karena akan dijadikan pekerja dalam pertanian. Ketika terjadiindustrialisasi, masyarakat desa pergi ke kota untuk jadi pekerja,mereka tidak ingin punya banyak anak karena menjadi beban,” ujarnya,Kamis (12/12).

Waktu itu, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 114 juta jiwa mulai menjalankan program KB secara nasional sejak 1970 setelah Presiden Soeharto menandatangani World Leaders Declaration onPopulation 1967. Pelaksanaan program KB secara nasional ini ditandaidengan pendirian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Setelah tiga dekade, program KB yang dijalankan intensif berhasil menurunkan Total Fertility Rate (TFR) dari 5,6 menjadi 2,6 yang bertahan hingga saat ini, artinya jumlah anak pasangan usia subur turun dari rata-rata lima atau enam menjadi tiga. Walaupun masih di atas negara anggota ASEAN yang memiliki TFR, 2,4, ini adalah sebuah prestasi luar biasa, Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan PopulationAward kepada Presiden Soeharto pada, 1989.

Tetapi keberhasilan ini mendapat kritik. Terence H. Hull melalui artikel berjudul “Formative Years of Family Planning in Indonesia”dalam buku “The Global Family Planning Revolution” terbitan World Bank(2007) menulis, “The lack of gender equity is highlighted by thepersistent low levels of reported use of condoms, vasectomy, andwithdrawal, which ranged from 3.1 percent of couples in 1987 to 2.8percent in 2003.

Hull explained had the program placed more emphasis on male methodscontraception during this period, Indonesia may have achieved evenhigher rates of contraceptive prevalence. Instead, bureaucracyfaltered, leaders in the community and the family planning programwere remarkably conservative about the idea of promoting male methods.Increasingly, they questioned the efficacy of condoms andacceptability of vasectomy, opting to ignore the fact that public wasquite interested in trying male methods

Info Data dan Informasi Kementerian Kesehatan tentang KeluargaBerencana mencatat tahun 2013 ada 8.500.247 pasangan usia subur(15-49) di Indonesia. Dari jumlah itu, wanita yang menggunakan alatkontrasepsi mencapai 93,66% sedangkan pria masih sangat kecil, hanya6,34%.

Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatatperempuan masih menjadi pengguna alat kontrasepsi paling besar,mencapai 64%. Sedangkan jumlah pria yang menggunakan kontrasepsi masih kecil, 3% menggunakan kondom dan hanya 1 persen yang memilih vasektomi.

Memang banyak perempuan yang bisa menerima alat kontrasepsi denganbaik. Tetapi SDKI 2017 mencatat ada sekitar 33% perempuan yangberhenti menggunakan alat kontrasepsi karena alasan kesehatan.

Puji Sartini (43), yang tinggal di perkampungan padat penduduk,Bumijo, Kota Yogyakarta adalah seorang ibu yang mengalami persoalan kesehatan dengan alat kontrasepsi. Ia akan melepaskan IUD yang mendekam di rahimnya sejak 2015 setelah suaminya, Rochmat Eko Wihato mau menjalani vasektomi, September 2019.

“Perut saya selalu mengalami nyeri ketika ada IUD di rahim saya,” ujar ibu satu anak ini,

Jumat (29/11).AKP Heru Meiyanto seorang motivator KB dari Kulon Progo juga ikut vasektomi karena sebagai tenaga kesehatan ia tahu persis alat kontrasepsi seperti suntik bisa menyebabkan kegemukan dan flek pada kulit.

“Saya sayang istri saya, karena itu saya ikut vasektomi,” ujar pria yang bertugas di Polres Kulon Progo ini.

Menjelang masa akhir jabatannya sebagai komisioner Komnas Perempuan,Budi Wahyuni mengatakan kebijakan KB yang menyasar tubuh perempuan itu tidak masuk akal. Satu atau dua sel telur yang subur harus dihadangselama satu bulan penuh dan terus berulang agar tidak bisa dibuahi sperma.

“Mengapa tidak mempromosikan kondom secara massif, bagi saya itu sudah bias gender. Di negara-negara lain kondom itu sangat popular,” ujar Budi yang pernah menjadi Direktur PKBI DIY itu, Senin (23/12).

Demi keadilan gender, ia juga mendorong agar ada promosi vasektomi yang lebih gencar. Ini berguna untuk mengikis salah persepsi tentang vasektomi dan menghilangkan anggapan kelompok patriarkis yang menganggap kejantanan identik dengan kemampuan “membuat anak”.

Pemerintah pada level kabupatan dan kota (melalui Dinas PengendalianPenduduk dan Keluarga Berencana) seperti di DIY melakukan “affirmative action” dengan memberikan imbalan Rp. 1 juta atau berupa satu ekor kambing bagi pria yang mau vasektomi. Tetapi fakta menunjukkan intensitas sosialisasi agar pria ikut berperan dalam program KB masih jauh dibandingkan dengan untuk perempuan.

Kabul Suradjiono (66), seorang motivator KB pria di Kota Yogyakarta mengatakan sosialisasi KB untuk pria pada level kecamatan dilakukan tiga bulan sekali. Pria yang sudah vasektomi sejak umur 33 tahun itu mengaku kesulitan mengajak pria agar ikut KB, salah satu sebabnya vasektomi masih ada yang menganggap sebagai hal tabu.

“Sampai sekarang saya baru bisa mengajak dua orang pria yang mau vasektomi,” ujarnya, Jumat (29/11).

Hingga sekarang pemerintah masih menargetkan perempuan sebagai sasaran utama Keluarga Berencana. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani mengatakan menjangkau akseptor KB perempuan jauh lebih mudah dari pria. Lembaganya punya kontrak kerja dengan Walikota Yogyakarta soal target jumlah akseptor KB yang harus dicapai dalam satu tahun.

“Kalau mengejar kepesertaan KB pada pria, itu sulit. Kita akan kehilangan target, yang lebih mudah dijangkau adalah ibu-ibu,”ujarnya, Kamis (26/12).

Usai menghadiri acara pelayanan KB di wilayah perbatasan Jawa Tengahdan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlangsung di Puskesmas Dadirejo,Purworejo, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengakui program KB masih menyasar perempuan karena alat kontrasepsi untuk lebih banyak, Jumat(13/12).

Dalam acara itu, Hasto yang juga seorang dokter kandungan itu sempat memasang implant pada seorang peserta KB perempuan.

“Alat kontrasepsi untuk perempuan lebih banyak karena secara medis lebih mudah melemahkan satu sel telur dari pada jutaan sperma,”ujarnya.

Ia menjelaskan melemahkan sperma berjumlah jutaan harus menggunakanobat berdosis tinggi sehingga dikhawatirkan mempunyai banyak efek samping.

Jika melemahkan jutaan sperma beresiko bagi kesehatan tubuh pria, mengapa pengunaan alat kontrasepsi yang membawa dampak negatif bagi tubuh perempuan bisa diterima?

bersambung ke : Seriuskah Pemerintah Mendukung Keluarga Berencana Pria?

Penulis : Bambang Muryanto

*Tulisan ini dibuat atas dukungan fellowship dari Yayasan IPAS(Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat)

Khusus Lainnya