Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

COVID-19, Momentum Publik Perbaiki Persepsi Soal LGBTIQ

COVID-19, Momentum Publik Perbaiki Persepsi Soal LGBTIQ
Foto: Bambang Muryanto
Mbak Rully (kiri) memberikan dana sebesar Rp 300 ribu kepada Mbak Erni, seorang transpuan yang tinggal di Rejowinangun untuk membayar sewa kos selama satu bulan. Dana untuk membiayai sewa kos para transpuan ini digalang oleh Tamarra, seorang artis pertunjukkan.

Independen --- Dengan mengendarai motor, Tamarra berangkat dari kosnya di sekitar Bandara Adisutjipto menuju Lapangan Minggiran di Kota Yogyakarta untuk berolah raga sepatu roda. Ketika menyusuri Jalan Laksda Adisutjipto,transpuan ini berhenti di seberang Hotel Grand Quality lantas berjalan kaki menyusuri lorong sempit menuju tanah kosong dengan kamar-kamar kos sederhana berdiri di pinggirnya.

Transpuan adalah seorang yang berjenis kelamin pria tetapi perasaan psikologisnya adalah perempuan. Di Indonesia lazim disebut sebagai waria (wanita pria).

Sore itu Tamarra ingin menemui Mbak Rully, seorang transpuan yang tinggal di “komplek transpuan” di Rejowinangun itu. Ia mau menyerahkan uang sebesar Rp 5,7 juta yang berada di tas plastik daur ulang warna biru miliknya kepada pengurus Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) itu.

“Uang ini hasil penggalangan dana untuk membayar uang sewa kos 19 waria, setiap orang mendapat Rp 300 ribu,” ujar Tamarra, Selasa (19/5).

Di depan sebuah kamar yang dijadikan dapur umum, Tamarra bercerita tentang rumitnya kehidupan transpuan sembari menunggu kedatangan Mbak Rully yang sedang dalam perjalanan pulang dari sekretariat Iwayo. Sambil berbincang, saya melihat seorang transpuan sudah bersolek, siap mengamen. Ada pula yang sedang mencuci rambutnya setelah dicat warna merah.

Sejak awal April, Tamarra menggalang dana bagi para transpuan yang kehidupannya kian sulit akibat himpitan pandemi COVID-19. Salah satunya, kewajiban membayar kos tiap bulan, padahal pendapatan mereka menurun.

Aksi kemanusiaan yang dilakukan Tamarra ini bermula ketika seorang kawannya memberi uang agar diberikan kepada para transpuan yang kehidupannya terdampak pandemi COVID-19. Dari situlah seniman panggung ini memulai aksi penggalangan dana bagi para transpuan bernama “Donasi! Teman Waria di Yogyakarta.”

Setelah diumumkan melalui akun media sosialnya, sumbangan mengalir dari para dermawan baik di Indonesia dan luar negeri. Hingga Mei terkumpul dana lebih dari Rp 50 juta dan sudah disalurkan kepada lebih dari 200 waria di Yogyakarta.

Aksi kemanusiaan yang menyita waktu dan energi ini dilakukan Tamarra di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas kuliah yang tidak sedikit. Komplain pun sering diterima Tamarra jika ada transpuan yang belum mendapat uang bantuan.

“Saya melakukan seleksi, uang donasi ini terutama untuk waria lanjut usia,” ujarnya.

Mahasiswa jurusan sejarah Universitas Sanata Dharma itu juga mengumumkan penyaluran uang donasi melalui aku media sosialnya. Prinsip transparansi dijunjung tinggi Tamarra yang melakukan riset tentang keberagaman gender dalam berbagai tradisi masyarakat di Indonesia itu.

“Saya sedikit pun tidak mengambil uang donasi,” ujarnya.

Setelah menunggu sekira 20 menit, Mbak Rully datang dengan mengendarai motor. Tamarra segera menyerahkan uang donasi kepada aktivis Iwayo itu yang selanjutnya akan membagikan kepada para transpuan yang belum mendapat bantuan.

“Mbak Rully itu hebat, ia mau menyerahkan uang donasi bagi waria di Pantai Parangtritis (berjarak sekitar 30 kilometer dari tempat tinggalnya),” tambah Tamarra.

Saya menyaksikan Mbak Rully memberikan uang sebesar Rp 300 ribu kepada salah satu tetangganya, Mbak Erni. Ia mendiami kamar kos sederhana berhiaskan tanaman bunga pada bagian depannya.

“Kehidupan para waria makin sulit, terutama mereka yang kerja di salon dan jadi perias kecantikan karena tidak ada pekerjaan,” ujar Mbak Rully.

Dalam situasi pandemi COVID-19, transpuan tidak punya banyak pilihan selain harus tetap tinggal di kosnya. Kelompok sosial yang paling sering mendapat diskriminasi ini sulit berlindung kepada keluarga inti karena terhalang berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada mereka.

Sejak usia remaja, umumnya mereka terpaksa hidup terpisah dari keluarga untuk menghindari stigma, tekanan, dan bisa mengekspresikan gendernya secara utuh. Padahal menjadi transpuan bukan sengaja mereka pilih tetapi sesuatu yang terberikan secara alamiah dan tidak bisa ditolak.

Berpisah dari keluarga jadi penyebab terputusnya pendidikan yang ujungnya membuat para transpuan harus mencari nafkah di sektor ekonomi non formal. Hidup di daerah baru juga menyulitkan transpuan memiliki KTP, akibatnya hak kewarganegaraannya sering terlanggar seperti tidak bisa menerima bantuan sosial dari pemerintah saat pandemi COVID-19 ini.

Selain Tamarra, Pondok Pesantren Waria, Al Fatah di Kotagede, Yogyakarta juga giat melakukan aksi kemanusiaan. Bersama Iwayo, mereka pernah memasak dan membagikan makanan kepada masyarakat kecil yang tidak bisa melakukan work from home, seperti pemulung dan tukang becak.

“Kami lebih banyak membagikan bahan makan pokok sumbangan para donatur ke komunitas waria,” ujar Yuni Sara, seorang aktivis Pondok Pesantren Waria, Al Fatah.

Pengajar Institut Ilmu Al Quran An Nur, Yogyakarta, Arif Nuh Safri mengatakan pandemi COVID-19 seharusnya bisa jadi momen memperbaiki persepi masyarakat terhadap transpuan. Mereka adalah manusia biasa yang bisa melakukan kebaikan bagi komunitasnya dan warga masyarakat lain.

Dalam peringatan International Day Against Homophobia, Biphobia, Intersexism dan Transphobia (Idahobit) dengan tema “Spirit Ramadhan dalam Menghapus LGBTIQ-Phobia” yang diadakan PLUSH (People Like Us Satu Hati), Arif mengatakan kehadiran LGBTIQ sudah ada sejak ribuan tahun lalu, Minggu (17/5). Idahobit diperingati setiap 17 Mei untuk mengingat keputusan WHO yang mengeluarkan homoseksualitas sebagai penyakit gangguan mental pada 17 Mei 1990.

“Persekusi  terhadap kaum LGBTIQ tidak pernah terjadi saat Nabi Muhammad SAW masih hidup,” ujar pendamping Pondok Pesantren Waria, Al-Fatah itu.

Dalam tulisan berjudul “Historitas Homoseksual dalam Islam” yang dimuat dalam buku berjudul “Seksualitas dan Agama” terbitan Yifos, dan Cantrik Pustaka (November 2019), Arif menulis perundungan terhadap LGBTIQ mulai terjadi pada jaman Khulafa’ur Rasyidin setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Setelah itu ada pasang surutnya, jaman kekhalifahan Abbasiyah saat dipimpin Harun al-Rasyid, homoseksual jauh lebih terbuka sehingga Abu Nawas yang seorang homoseksual pun bisa hidup damai tanpa persekusi.

Dalam perspektif agama, persepsi tentang homoseksual sebagai orang yang menyimpang dan berdosa berasal dari inteprestasi ayat dalam kitab suci yang menceritakan kisah kaum Nabi Luth (dalam Islam) atau Sodom dan Gomora (dalam Kristen) yang dihukum Tuhan karena memiliki orientasi seksual berbeda. Padahal menurut Arif, pokok persoalannya bukan soal orientasi seksual tetapi perilaku seksual yang dilakukan atas dasar relasi kuasa, melakukan pemerkosaan dengan cara sodomi terhadap bangsa yang ditaklukkan sebagai bentuk penghinaan.

Arif mengatakan perubahan persepsi masyarakat ini memang membutuhkan waktu lama karena perspektif lama masih bercokol kuat dalam pikiran masyarakat. Terinspirasi dari penyair sufi, Jalaluddin Rumi, ia mengajak manusia agar punya khayalan indah sehingga bisa menghargai semua mahluk ciptaan Tuhan, termasuk komunitas LGBTIQ.

Dengan menggunakan khayalan indah, maka setiap manusia akan memiliki persepsi bagus terhadap siapapun, termasuk LGBTIQ. Tidak selalu melekatkan dengan stigma negatif yang belum tentu terbukti.

“Semoga momentum pandemi COVID-19 dan peringatan Idahobit ini bisa membongkar sekat-sekat yang masih mengakar dalam masyarakat kita agar bisa menumbuhkan semangat menghargai nilai kemanusiaan,” ujarnya.

 

Penulis : Bambang Muryanto

Khusus Lainnya