Belajar Memperjuangkan Kebebasan Pers dari Semangat Bang Ate

Belajar Memperjuangkan Kebebasan Pers dari Semangat Bang Ate
Foto: M. Irham l Independen.id
Pemakaman Ahmad Taufik diiringi teman-teman satu penjara; (kiri) Danang KW, Tri Agus S. Tirtowihardjo dan Eko Maryadi di TPU Karet Bivak, Jakarta, Jumat (24/03)

INDEPENDEN, Jakarta – Ahmad Taufik, akrab dipanggil “Bang Ate” tutup usia, Kamis 23 Maret 2017. Jurnalis senior sekaligus pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dimakamkan hari ini di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Selatan, Jumat (24/3). Ia meninggal di usia menjelang 52 tahun.

Ate menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Medistra setelah bertarung melawan kanker yang menyerang paru-parunya. Pria kelahiran 12 Juli 1965 ini memiliki sumbangsih yang cukup besar dalam memperjuangkan kebebasan pers di era rezim orde baru.

Ahmad Taufik (Ate) dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Maret 2017. Foto: Independen.

Jurnalis Tempo ini pernah dipenjara selama 2 tahun 7 bulan lantaran menerbitkan buletin Independen pada 1995. Buletin ini merupakan media alternatif yang banyak mengkritik kekuasaan Presiden Soeharto dan kroninya.

Teman satu penjaranya, Tri Agus S. Tirtowihardjo mengungkapkan, Ate merupakan sosok penentang ketidakadilan. Selama dalam tahanan, Ate meliput seluruh aktivitas penyelewengan yang ada dalam penjara. Sebelum masuk penjara, lelaki yang pernah menyabet sejumlah penghargaan karya jurnalistik bergengsi ini juga membentuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI kini memiliki hampir 2000 anggota di seluruh Indonesia.

“Itu dilakukan tidak semata-mata karena ada sejumlah media dibreidel saat rezim orde baru,” kata Tri Agus yang pernah dipenjara lantaran mengkritik kekuasaan Presiden Soeharto yang otoriter.

Eko Maryadi yang juga teman satu penjara saat itu mengungkapkan, Ate sebagai sosok yang konsisten dalam perjuangan kebebasan pers. Selama hidup satu penjara, Ate tetap menekuni profesinya sebagai jurnalis. “Itu yang membuat kami dipindah-pindah penjara, dari LP Cipinang ke Cirebon ke Kuningan. Terus dipindah-pindah,” katanya saat ditemui Independen.id di TPU Karet Bivak.

Ahmad Taufik (mengenakan peci putri bersama putra pertamanya) dan Eko Maryadi (dua dari kiri) mendapat kunjungan dari rekan-rekannya, saat menjalani hukuman penjara di Lembaga Pemasyarakatan Cirebon. Foto diambil dari Facebook Tri Agus Susanto Siswowiharjo.

Setelah keluar dari penjara, Ate kembali bergabung di media Tempo. Ia ditugaskan sebagai Kepala Biro Jakarta. Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo saat itu mengungkapkan, Ate sebagai jurnalis yang total dalam menggeluti pekerjaan. “Tidak setengah-setengah,” katanya.

Saat bekerja di Tempo, Abdul Manan menceritakan pengalaman bersama Ate menghadapi kelompok preman yang mengaku utusan dari pengusaha Tomy Winata pada Sabtu, 8 Maret 2003 silam. Mereka datang karena laporan utama Majalah Tempo, saat itu, "Ada Tommy di Tenabang".

Saat itu, Ate berada di posisi terdepan menghadapi massa yang murka karena bos mereka menjadi perhatian dalam halaman utama Majalah Tempo. “Ate saat itu dengan gagah berani keluar kantor menghadapi massa,” katanya. Catatan kesaksian dan kronologi yang dibuat Ate diungguh dalam Blog Abdul Manan, selengkapnya baca Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO.  

Tapi karena massa sudah emosional akhirnya diajak duduk bersama di dalam kantor. Saat itu, Ate yang berhadapan dengan mereka untuk membicarakan duduk persoalan sengketa pemberitaan. Salah satu preman sempat melempar tempat tisu ke arah Ate.

“Tapi reflek menangkisnya cepat, hingga akhirnya yang kena lemparan itu justru aku. Dia jurusnya sudah hebat, kalau saya masih kurang,” kata Manan sambil tersenyum mengingat peristiwa tersebut.

Tidak hanya saat menegangkan, Abdul Manan juga menyimpan cerita lain tentang solidaritas Ate. Menjelang Kongres AJI kedua tahun 1997, ia menjadi utusan Surabaya Press Club menghadiri kongres. Malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta api, tas berisi baju dan kameranya raib. "Yang tersisa baju di badan dan uang koin yang hanya cukup untuk menelpon," kata Manan.

Saat itu ia adalah anggota AJI sekaligus koresponden Tabloid D&R, Ate adalah salah satu atasnnya. Ia pun memutuskan menelepon ke media yang terbit setelah pemberedelan Tempo itu. "Kantornya tidak jauh dari Stasiun Cikini. Turun dari stasiun saya jalan kaki," katanya.

Di kantor D&R yang terletak di Jalan Salemba itu, Manan mengaku bertemu dengan Ate. Tidak hanya membantu agar dia mendapatkan baju ganti selama berada di Jakarta, Ate juga memberi uang Rp100 ribu. "Untuk saat it, jumlahnya besar sekali. Saya bisa gunakan selama di Jakarta dan pulang ke Surabaya setelah kongres, dengan kereta eksekutif," kata Manan.  

Lain halnya pengalaman dari Ging Ginanjar, salah satu kolega Ate saat bersama mendirikan AJI. Ging mengungkapkan Ate merupakan sosok yang banyak ide untuk memperjuangkan kebebasan pers. “Dia insipirator dari Majalah Independen yang saat itu menjadi ikon perjuangan pers. Di juga selalu siap pasang badan, berhadapan dengan rezim Orde Baru, seperti penekenan Deklarasi Sirnagalih,” katanya.

Lebih lanjut Ging mengungkapkan, Ate merupakan sosok yang selalu berada di garis perjuangan ketidakadilan. “Ketika banyak teman-teman masuk ke dalam kekuasaan, mereka kemudian menjadi korup. Tapi Ate tidak pernah korupsi dan tak pernah menjilat kekuasaan,” katanya.Dalam jurnalistik Ate tidak hanya bekerja untuk Tempo, dia pernah menjadi jurnalis di CBS TV, Eksponen dan D&R. Ia mengawali karir jurnalistiknya di Majalah Bulanan Generasi Muda Islam Estafet.

Ia mendirikan Forum Wartawan Independen. Sebagai pendiri AJI, Ate pernah menjabat sebagai Ketua Presidium AJI. Ia juga pernah aktif sebagai Ketua Advokasi Pers Indonesia. Ate memulai karier jurnalistik di Majalah Bulanan Generasi Muda Islam Estafet dan sempat bekerja untuk Majalah Berita Mingguan TEMPO. Sederet prestasi pernah diterima Ate, salah satunya memenangkan beberapa lomba dan anugerah jurnalistik pada tahun 2008, 2009, 2010 dan penghargaan Mochtar Lubis Award bidang penulisan Pelayanan Publik 2011.

Ahmad Taufik (tiga dari kanan) dalam forum pertemuan AJI, beberapa hari sebelum ditangkap karena buletin Independen. Foto koleksi Natsuko Saeki diambil dari Facebook Heru Hendratmoko. 

Sepanjang bergelut dengan jurnalistik, Ate menyabet sejumlah penghargaan bergengsi. Mulai dari penghargaan Mochtar Lubis Award, dianugerahi Suardi Tasrief Award-AJI (1995), International Press Freedom Award dari CPJ yang berbasis di New York, Amerika Serikat (1995). Digul Award–Indonesia NGO's Human Rights Award juga pernah ia raih pada 1996. Pada 1998, Ahmad Taufik mendapat penghargaan Hellmann/Hammet Award from American Writer, New York.

Dalam beberapa tahun belakangan, Ate aktif berjuang sebagai advokat. Ia mendorong keadilan bagi kelompok minoritas dan terpinggirkan, termasuk berjuang untuk menjadikan Ancol sebagai kawasan pantai rakyat.

Ahmad Taufik (baju hitam tengah) dikelilingi koleganya, para senior AJI, saat menghadiri Kongres IX AJI di Bukittinggi, 2014. (Dari kiri ke kanan) Didik Supriyanto, Nezar Patria, Sofyardi Bachyuljb, Eko Maryadi. Duduk bersebelahan dengan Ahmad Taufik adalah Ati Nurbaiti. Foto diambil dari facebook Sofyardi Bachyuljb.

Tidak hanya, saudara, teman dan kolega seperjuangan dan seprofesi yang menghadiri pemakaman Ahmad Taufik. Sejumlah pejabat dan politisi tampak hadir, seperti Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika), Ferry Mursidan Baldan (politisi Partai NasDem). Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga hadir saat pemakaman, menyampaikan pesan pada pelayat yang hadir:

Hari ini kita mengantar kepulangan sahabat, orang tua, alm Ahmat Taufik.  Kita semua bersedih. Tapi yakinlah, ini saat yang ia nanti, karena kepulangan menuju Sang Khalik.  Yakinlah almarhum bahagia.

Ajarannya yang  agung adalah konsistensi dan istiqomah, yang jauh lebih mulia.  Konsistensi beliau dalam membela kaum lemah.  Mudah-mudahan kita bisa belajar dari konsistensi yang ditujukkan dan melanjutkan.  Mari bersaksi almarhum orang baik.  Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di tempat sebaik-baiknya.

Selamat jalan sahabat... perjuanganmu tidak sia-sia....

 

Independen I Muhammad Irham

Kiprah Lainnya