Mengenang Sepak Terjang Ahmad "Ate" Taufik

Mengenang Sepak Terjang Ahmad

foto: Diambil dari dokumen pribadi di facebook Ahmad Taufik.

INDEPENDEN, Jakarta --- Banyak cerita, kesan yang ditinggalkan Ahmad Taufik yang biasa dipanggil Ate pada koleganya. Semua itu muncul di laman-laman facebook, twiiter dan dalam perbincangan mengantar kepulangannya di kehidupan abadi pada Jumat, 24 Maret lalu. 

Ada cerita lucu, impresi tentang semangatnya melawan tirani Orde Baru dalam kondisi apapun, dan kemampuannya menginjeksi semangat rekan-rekannya memperjuangangkan hak.Termasuk di kalangan mereka yang masih muda. Ate dikenal tidak hanya humoris, senang berbagi pengalaman, dan berbicara banyak hal tentang cita-cita bersama, tentang komitmen. 

Ini adalah sebagian cerita-cerita berserak di sosial media tentang Ate. Seperti impresi Abdullah Alamudi, wartawan senior dan mantan anggota Dewan Pers 2007-2010. 

Cerita lucu itu dari rekan sekantor di Tempo, tentang Ate yang suka bersarung ketika di kantor. Selengkapnya di laman facebook Anton Septian.  Cerita yang sama disampaikan Bagja Hidayat tentang kegemarannya tidur di bawa kolong meja ruang rapat kantor, usai presentasi dan kelelahan karena deadline. Selengkapnya di laman Bagja Hidayat. 

 

Pun cerita dari Nezar Patri, kolega yang saat menjabat sebagai Komisioner Dewan Pers, tentang seniornya yang membela juniornya ketika mengalami kesulitan di lapangan, karena berpegang pada prinsip, menolak amplop. Catatan panjang Nezar Patria ia torehkan di sini. 

 

 

Cerita tentang bagaimana seorang Ate menyikapi perbedaan pendapat dengan koleganya. Membangun semangat,  dan berbagi informasi, berdiskusi pada kolega tentang memperjuangkan hak di sela-sela deadline. Seperti cerita Jalil Hakim di timeline facebooknya. 

Cerita lain tentang berbagi semangat dan membangun komitmen, yang dia lakukan saat bertemu dengan kawan-kawannya di daerah. Menyempatkan diri sekedar menginap di rumah, berbagi cerita bersama Abdi Purnomo, selengkapnya di sini. 

Tetap teguh saat perjuangan menyampaikan kebenaran menuntut konsekuensi. Dipenjara, terpisah dengan keluarga, atau harus membuka jalan dan nyaris sendiri. Selengkapnya: Belajar Memperjuangkan Kebebasan Pers dari Semangat Bang Ate.

Catatan Satrio Arismunandar tentang Ahmad Taufik mendapat komentar panjang di halaman facebooknya. Cerita lain tentang sosok Ate pun mengalir. Selengkapnya di sini.

Mereka mengenang dengan cara melakukan napak tilas. Seperti yang dilakukan Sandy Indra Pratama, juniornya ketika di Tempo dan saat ini mengajar di STIKOM Bandung. Selengkapnya di facebook Sandy Indra Pramata. 

Begitu pula seorang kawan Ate, Dwijo Utomo Maksum, mantan jurnalis Tempo yang saat ini bermukim di Kediri, Jawa Timur, mengenang kebersamaan mereka saat masih bekerja di media yang sama. Selengkapnya klik instagram Dwijo U. Maksum. 

Iddaily.net mendokumentasikan perjalanan Ate menuju keabadian, dengan diantar ratusan saudara, kolega, sahabat. Selengkapnya Pemakaman Perjalanan Terakhir Ahmad Taufiq. Selamat jalan Bang Ate... Doa kami menyertaimu....

Independen I Hesthi