Ging Punya Selera Humor Tingkat Dewa

Ging Punya Selera Humor Tingkat Dewa
Foto:
Pusara Ging Ginanjar (alm) /Dok : Nugroho Dewanto

Bersama Ging, kita sering merasa tenang, happy, anti-galau.

Ging adalah orang penting yang mengawaki INDEPENDEN, majalah bawah tanah AJI, periode 1994-1996.

Dari rumah sekaligus kantor eks Tabloid Detik di Jalan Morse Bandung, Ging dan para aktivis AJI (asal Bandung, Jakarta, Yogya, Surabaya, dan luar negeri), mengobarkan perlawanan terhadap rejim Orde Baru yang otoriter.

Inilah kelebihan Ging : dalam kondisi angker, tegang, sumpek, Ging selalu lucu. Dia punya selera humor tingkat dewa, terutama berkaitan dengan Hulaihi Wataala atau politik kontemporer. Ging adalah seorang jurnalis penggembira yang baik hati, tidak sombong, dan pandai berbahasa Sunda dan sedikit bahasa Prancis.

Bulan Maret 2017 lalu, saya kehilangan sahabat, kakak, guru, yang juga Ketua Presidium AJI pertama (1994-1995), Ahmad Taufik. Almarhum meninggal karena kanker paru akibat aktivitasnya yang luar biasa padat.

Malam ini, tak ada hujan atau angin ribut, saya menerima kabar duka di tengah UKJ AJI di Yogya : perginya sahabat, guru, kakak dari Bandung, Ging Ginanjar. Kabar itu terkonfirmasi via Twitter Goenawan Mohammad, eks pimred Tempo, membikin saya tak kuasa menahan tangis.

Sambil terisak membaca doa, wajah Ging muncul di pintu LRT Distrik Longchamp, bersama Luan, anaknya. Mereka menjemput saya (ah itu kenangan..) pada hari menginap di apartemen Ging, Luan dan Laurence (baca : Lorong), di Brussels sekitar Juni 2015.

Meskipun terkoneksi dan sesekali bertukar celoteh di grup WA, saya jarang ketemu Ging di Jakarta. Padahal dia mengepalai kantor redaksi BBC, dan sempat janjian ketemu untuk minum jus gandum bersama..

Mengenang Al Mukarrom Ging Ginanjar, sahabatku si jangkung, ahli ibadah : selamat jalan Ging. Semoga kamu tetap lucu dan bahagia dimanapun berada..

Penulis : Item (Eko Maryadi)

Kiprah Lainnya