Pageblug Belum Usai, Pentingnya Pekerja Media Bersolidaritas

Pageblug Belum Usai, Pentingnya Pekerja Media Bersolidaritas
Foto: fotografer: Nurul Nur Azizah

Independen --- Joko Tri Her Riadi (39) menangkap kegelisahan kawan-kawan di tempatnya bekerja sejak pandemi awal-awal tiba. Perusahaan media yang konon terbesar di Jawa Barat, Pikiran Rakyat, tidak lagi tertib membayarkan hak-hak pekerjanya. Seperti, Tunjangan Hari Raya (THR) hingga gaji yang dicicil. 

Pandemi mengoyak keuangan perusahaan semakin kencang, meski sebelumnya disrupsi media pun beberapa tahun ke belakang sebetulnya telah terjadi. Kondisi seret keuangan yang terjadi itu, lantas mendorong para pekerja mesti memutar otak untuk menambah penghasilan. Mayoritas, berjualan kebutuhan pokok hingga makanan ringan.

“Di kantor, teman-teman sudah akrobat macam-macam, yang paling banyak jualan untuk bertahan hidup di pandemi. Ada yang beras, batagor, donat, macam-macam lah,” ujar Joko kepada Independen.id beberapa waktu lalu. 

Gejolak finansial di tengah pandemi itu, menurutnya juga berimbas pada mental dan psikologis para pekerja media.  Hal itu, diketahui Joko dari obrolan-obrolan dengan sesama kawan-kawan pekerja yang merasakan kecemasan atas ketidakpastian.

“Tuntutan (berita) masih tetap, tapi jadi deg-degan (nasib ke depan),” imbuhnya.

Suatu hari tak disangka obrolan Joko dengan beberapa kawan jurnalis memantik sebuah ide untuk membuat gerakan bersama agar bisa bertahan di masa pandemi. Gerakan bersama yang bisa dilakukan para pekerja media, setidaknya untuk menambah penghasilan di masa pandemi. 

“Kita melakukan sesuatu dengan kemampuan kita, menulis dong berarti. Bisa nggak kemampuan menyumbang sesuatu buat bertahan hidup, kita bikin buku saja,” celetuknya. 

Ia pun lantas menyebarkan idenya ke grup kecil jurnalis. Setelah direspons baik, dia kemudian mematangkan konsepnya menjadi kompilasi tulisan seputar pengalaman personal selama menjadi bagian dari media yang lebih jadi setengah abad hadir utamanya di tengah masyarakat Jawa Barat. 

Menurutnya, tak hanya motif ekonomi, tapi setidaknya buku ini nantinya bisa menjadi bagian dari sejarah yang ditorehkan: perjalanan surat kabar terbesar Jawa Barat menghadapi tantangan zaman.  

“Dengan sejarah sedemikian panjang, 54 tahun, masih terlalu sedikit yang menuliskan “PR” sebagai media. Anggap saja buku ini penafsiran baru, menambah literatur “PR” yang masih sedikit. Apalagi, terkait perkembangan “PR” yang 10 tahun terakhir mengalami disrupsi,” terangnya.  

Dari sekian banyak pekerja media yang diajak, akhirnya terkumpul sebanyak 22 jurnalis hingga layouter koran yang kemudian mau saling bekerja sama bersolidaritas. Alhasil, jadilah buku pre-order berjudul “Di sinilah, Cerita Kami Titipkan” yang kini dicetak 500 eksemplar seharga Rp 55.000.

“Semua dikerjakan mandiri, mengedit juga diedit sendiri. Designer dari kawan PR, ilustrator juga temen PR. Semuanya kita gak hitung-hitungan, menyumbang aja apa yang kita bisa,” katanya.  

Hasil penjualan buku itu, kata Joko, akan sepenuhnya keuntungannya diberikan kepada para penulis. Setiap orang berhak mendapatkan jatah sesuai dengan jumlah eksemplar yang bisa mereka pasarkan. Misalnya, keuntungan tiap buku terjual beberapa puluh ribu rupiah, maka tinggal dikalikan jumlah yang laku dipasarkan hingga jadi pendapatan tiap orang. 

“Karena dipasarkan sendiri, masing-masing orang ya mencari pembelinya sendiri, buku itulah yang kemudian menjadi pendapatan mereka sendiri. Semua hasil penjualan, ya itu pendapatannya,” katanya. 

Meski kini Joko sudah tidak lagi di PR dan berpindah menjadi jurnalis di salah satu media online di Bandung, ayobandung.com, namun jasanya untuk menggerakkan inisiatif membuat buku tersebut diapresiasi. Salah satu jurnalis PR yang terlibat dalam gerakan solidaritas buku itu, Hilmi Abdul Halim (31) mengaku cukup terbantu secara ekonomi. Setidaknya, menambah penghasilan di kala perusahaan media tempatnya bekerja tidak membayarkan upah penuh secara tepat waktu. 

Kesempatan untuk bisa memasarkan buku hasil karyanya dan pekerja media “PR” itu pun, tidak Ia sia-siakan. Selama masa pre-order pada sekitar bulan September dia rajin menawarkan ke berbagai media sosial hingga grup komunitas. 

Para pembeli yang berminat pun, kemudian dia catat hingga terkumpul belasan hingga puluhan daftar pesan.  Tak hanya bantuan finansial, solidaritas membuat buku itu juga membantunya bersama kawan-kawan pekerja media lainnya untuk bisa menuangkan pengalaman selama bekerja bertahun-tahun di “PR”. Utamanya, menyoal tantangan di era disrupsi media. 

“Banyak yang saya rasakan selama adanya perubahan industri media (disrupsi). Bagaimana tempat kita meresponsnya. Buku ini merekam pengalaman dan sudut pandang kami selama di lapangan,” kata dia di lain kesempatan.

Tak hanya dari perorangan, gerakan solidaritas di tengah pandemi oleh pekerja media pun digalakkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Sejak Agustus 2020 lalu, AJI Jakarta telah menggalang dana bantuan untuk putra-putri jurnalis terdampak pandemi Covid-19. 

Koordinator gerakan yang diberi nama “Jangan Menyerah”, Hayati Nufus menjelaskan solidaritas ini ditujukan bagi jurnalis yang di PHK, dirumahkan, upah dipangkas atau sejenisnya yang memiliki tanggungan anak yang masih sekolah. Total bantuan senilai Rp 450.000 per tiga bulan.

“Ini bisa digunakan untuk keperluan membayar SPP, membeli kuota internet, buku pelajaran dan lainnya yang relevan,” ujar Nufus. 

Hingga kini, total patungan sesama pekerja media itu setidaknya sudah berhasil mengumpulkan donasi sekitar Rp 30 juta sejak awal. Sementara, sudah ada belasan jurnalis yang telah menjadi penerima selama dua batch ini. 

Jurnalis lepas (freelance), Jacko Ajun (46) menjadi salah seorang penerima manfaat gerakan “Jangan Menyerah” yang digalakkan AJI Jakarta. Sebagai korban PHK salah satu media televisi di Jakarta setahun lalu, dia pun turut merasakan dampak kesulitan ketika pandemi tiba. 

“Gak bisa ngapa-ngapain, terpukul. Karena kan gue juga korban PHK, apalagi ditambah pandemi ini. Ruang mencari pekerjaan terbatas, faktor umur juga berpengaruh kalau di atas 40 tahun susah mencari pekerjaan secara formal,” ceritanya. 

Sehari-hari, Ia bekerja lepas sebagai jurnalis yang mengerjakan fotografi, mengedit video jurnalistik hingga mengikuti beasiswa peliputan untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia juga mulai merintis channel youtube yang telah coba dikomersialkan.  

Meski begitu, sebagai seorang jurnalis lepas apalagi di masa pandemi juga menghadapi tantangan tersendiri. Selain meski berhemat, kebutuhan sekolah ketiga anaknya yang kini kelas 6 SD, 2 SMP dan 1 SMA juga tak bisa diabaikan. Dia pun bersyukur, solidaritas “Jangan Menyerah” AJI Jakarta bisa sedikit meringankan utamanya untuk pemenuhan internet dan tambahan biaya anak sekolah.  

“Lumayan juga untuk biaya kuota internet. Karena kan anak-anak sekolah semua secara online, itu kuotanya berebut biasanya, semuanya pakai. Nah, cukup terbantu dengan adanya bantuan setidaknya support untuk kuota internet sekolah,” ujar Jacko. 

Pekerja di salah satu media cetak di Jakarta, Asep (49), bukan nama sebenarnya, juga merasakan manfaat dari adanya gerakan solidaritas itu. Donasi yang diterima, membantunya untuk biaya sekolah anaknya yang kini kelas 2 SD dan 1 SMP. Utamanya, dalam mendukung belajar online. 

“Alhamdulilah banget, anak kan belajar online, di saat kondisi sulit ini, kemarin tiba-tiba teman menawarkan untuk menerima bantuan. Yaudah, saya coba ikut,” kata Asep.  

Asep merupakan salah seorang korban perumahan akibat pandemi yang kini tengah mengurus kasus ketenagakerjaannya di tahap mediasi Suku Dinas (Sudin) Ketenagakerjaan di Jakarta.  

Awal pandemi pada Maret 2020, dia bersama belasan pekerja media lainnya dirumahkan selama tiga bulan dan tidak digaji. Hingga akhirnya, dia bersama teman-temannya kemudian dimutasi ke bagian marketing secara tiba-tiba. Gajinya pun, dipangkas jadi hanya 50 persen. 

“Padahal kita karyawan tetap semua,” kata Asep. 

Di usia kepala empat ini, Asep mengaku memang tak punya banyak pilihan dalam kondisi saat ini. Kebutuhan keluarganya tetap harus dipenuhi, sementara penghasilannya terkikis. Sementara, pilihan untuk mencari kerja lain juga tidak semudah itu. Sehingga, bantuan sekecil apapun baginya adalah berkah. 

“Mau cari kerja udah usia gini juga susah. Mau usaha juga bingung. Jadi lumayanlah bantuan ini, di masa yang seperti ini,” ujarnya.  

Gerakan solidaritas “Jangan Menyerah” AJI Jakarta ini, rencananya akan dibuka untuk gelombang selanjutnya. Tak hanya menyasar kalangan jurnalis, namun juga diperluas bagi pekerja yang ada di sektor media yang terdampak pandemi Covid-19.  

Penulis: Nurul Nur Azizah/D02

 

Sebelumnya: Nasib Jurnalis Pada Masa Pandemi: PHK, Pemotongan hingga Penundaan THR

Media Lainnya