AJI Ingatkan Jurnalis dalam Pemberitaan Sriwijaya Air

AJI Ingatkan Jurnalis dalam Pemberitaan Sriwijaya Air
Foto: sumber: situs aji.or.id

Independen --- Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya pada 9 Januari 2021 langsung menjadi berita utama di banyak media. Di tengah viralnya berita tersebut, muncul banyak protes di media sosial tentang bagaimana media memberitakan kejadian tersebut. Mereka menganggap pemberitaan media kurang mempunyai empati pada korban maupun keluarga korban .  

Seiring dengan itu,  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengingatkan pada para jurnalis yang sedang bertugas untuk memamtuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Dalam rilisnya, Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan mencontohkan beberapa tindakan jurnalis yang dinilai tidak sesuai KEJ. Antara lain, jurnalis yang mencecar dengan pertanyaan "bagaimana perasaan Anda”, “Apa Anda punya firasat sebelumnya" dll., kepada seseorang yang keluarganya menjadi korban kecelakaan. Ada juga media yang mengangkat topik soal gaji pilot pesawat nahas itu. Contoh-contoh ini mengesankan jurnalis dan media kurang menghormati pengalaman traumatik keluarga korban dan juga publik. Ada juga media yang menulis soal ramalan kejatuhan pesawat itu yang sumbernya dari peramal.

"Sikap menghormati pengalaman traumatis korban memang tidak disebut eksplisit dalam Pasal 2 KEJ, namun itu terdapat penjelasannya. Pasal 2 KEJ menyebutkan Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Salah satu bentuk dari sikap profesional itu adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara,” kata Abdul Manan. 

Menghormati pengalaman traumatis nara sumber adalah impementasi dari prinsip minimizing harm atau meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dampak kerja jurnalistik. Prinsip ini pula yang menjadi dasar penyamaran identitas anak pelaku kejahatan dan korban kejahatan susila dalam pasal 5 KEJ. Beberapa prinsip penting lain dalam KEJ adalah:  fungsi jurnalisme “mencari kebenaran”, “bekerja untuk kepentingan publik”, “berusaha menjaga independensi”.

Buku Saku Meliput Pengalaman Traumatik yang diterbitkan Yayasan Pulih Indonesia juga menyebutkan agar jurnalis mengedepankan ungkapan yang simpatik pada korban/keluarga korban.  Dalam wawancara hindari  menanyakan perasaan: “bagaimana perasaan anda?”. Karena pertanyaan tersebut akan membuka trauma korban. 

Merespon berita - berita soal peristiwa kecelakaan Sriwijaya Air tersebut, AJI Indonesia menyerukan jurnalis dan media harus menghormati pengalaman traumatik keluarga korban Sriwijaya Air dengan tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya lebih trauma, termasuk dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan Anda” dan semacamnya.

Jurnalis juga harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya. Tugas jurnalis memang mencari informasi, namun hendaknya juga memperhatikan hak narasumber untuk dihormati perasaan traumatik atau sikap enggannya. Sebagai bagian dari sikap penghormatan ini, media juga hendaknya tidak mengeskploitasi informasi, foto atau video yang bisa menimbulkan trauma lebih lanjut bagi keluarga dan publik. 

(D02)

Media Lainnya