Era Digital, Kekuasaan yang Bergeser

Era Digital, Kekuasaan yang Bergeser
Foto: Dok : Andi Muhyiddin
Suasana di Global Media Forum, Bonn Jerman

Independen --- Antrean sekitar 30 meter mengular di depan pintu utama World Conference Center, Bonn, Jerman. Pakaian hangat membalut para peserta di tengah cuaca 10 derajat celsius. Beberapa orang memutuskan membuka payung. Gerimis mulai turun.

Global Media Forum (GMF) kembali digelar selama dua hari di Bonn, Jerman, 27-28 Mei. Konferensi yang digelar Deutsche Welle (DW) kali ini mengusung tema utama "Shifting Powers". Sekitar 2.000 peserta dari 140 negara memenuhi seluruh ruangan hingga ke balkon di Plenary Hall.

Diskusi dibuka dengan tema "Siapa mendapat kekuatan di Lanskap Media?".   Mathias Dopfner, CEO Axel Springer, menyoroti media digital yang sangat tergantung pada platform digital eksternal. Ini terpaksa dilakukan untuk memaksimalkan jangkauan, dan mendapat penonton atau pembaca sebanyak-banyaknya. Ketergantungan terhadap platform digital seperti Facebook, Google, dan Youtube telah mengubah struktur kekuatan dalam landskap media global.

"Siapa yang mendapat kekuatan dalam landskap media global?" tanya Edith Kimani, jurnalis dan news anchor di DW di akhir diskusi.  

"Jurnalis terbaik yang akan mendapatkan kekuatan." jawab Mathias Dopfner, yang kemudian dijawab sama oleh dua pembicara lainnya Aroon Purie, Pemimpin Redaksi India Today dan Mark Peters, Direktur Media Partnership Facebook.

"Ada kekuatan dalam sebuah berita." kata Aroon Purie singkat.

Para narasumber sepakat, di era disrupsi, ketika berita bohong secara masif disebarkan, ketika platform jejaring sosial memonopoli bisnis digital, hanya jurnalisme yang baik yang bisa mengatasi dan bisa bertahan.

Kebebasan Terancam

Di sesi berikutnya, Direktur Utama DW, Peter Limbourg menyoroti banyak politikus dari berbagai kubu politik mengancam integrasi Eropa. Mereka ingin meraih kekuasaan dengan mengendalikan informasi. Pada saat yang sama, banyak politikus yang juga ikut menyebarkan disinformasi di media sosial namun berusaha mengendalikan debat di media sosial dengan sensor.

"Kebebasan berpendapat terancam," kata Limbourg.

Sementara itu Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyoroti pentingnya hasil pemilihan Eropa dan tingkat partisipasi yang cukup tinggi.

"Jumlah pemilih lebih tinggi daripada 25 tahun terakhir, terutama di sini di Jerman, dengan lebih dari 61%. Tingkat polarisasi yang tinggi selama kampanye pemilihan benar-benar membuat pemilih sadar betapa pentingnya Eropa dalam kehidupan sehari-hari mereka..." kata Steinmeier.

Namun Steinmeier memperingatkan para politikus untuk tidak terjebak menyalahkan teknologi atas perubahan-perubahan itu.

"Tak perlu dikatakan perkembangan itu telah mengubah cara kami berkomunikasi baik secara pribadi maupun politik. Jumlah orang yang menggunakan media sosial untuk menginformasikan diri mereka secara politis telah meningkat."

Steinmeier menambahkan bahwa yang paling mengkhawatirkannya adalah cara penggunaan media sosial mengubah wacana politik.

"Bisa jadi tanpa henti, yang muncul hanya hitam dan putih, tanpa ada lagi dorongan untuk berdialog. Mereka yang memiliki pendapat yang bertentangan sering dicap sebagai lawan atau musuh."

Kecerdasan Buatan

Salah satu yang mencuri perhatian peserta di forum kali ini adalah kehadiran robot bernama Sophie. Robot buatan Hanson Robotics Limited menjadi contoh penerapan articial intelligence di media.

"Kebebasan berbicara adalah hal yang sangat penting, itu adalah hak asasi manusia. Mungkin suatu hari nanti, itu juga menjadi hak dasar robot." kata Sophie diikuti tepuk tangan peserta.

Kini makin banyak perusahaan digital yang menggunakan algoritma khusus untuk menjaring pengguna dan memengaruhi diskusi publik. Di lain pihak, peranti lunak untuk penerjemahan juga makin sempurna, sehingga memudahkan akses untuk konten-konten berbahasa asing.

Freedom of Speech Award

Sebagai penutup hari pertama GMF 2019, Dutsche Welle memberikan penghargaan Freedom of Speech Award, penghargaan tahunan untuk kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Pemenang tahun ini adalah jurnalis Meksiko Anabel Hernández. Ia membongkar koneksi oknum pemerintah Meksiko dengan kartel narkoba

Mereka ingin kita mati, mereka ingin kita diam...namun kita tetap berdiri, membuat suara kita didengar...”

Sepenggal kalimat penutup dari pidato Anabel Hernandez itu, kemudian diikuti  tepuk tangan sambil berdiri seluruh peserta.

Ia adalah perempuan pertama yang mendapat penghargaan ini, penghargaan yang diprakarsai DW sejak lima tahun terakhir.

Memulai karir sebagai jurnalis sejak 1993, Anabel sering menulis tentang kasus-kasus korupsi, kekerasan seksual dan sindikat narkoba di Meksiko. Investigasi selama lima tahun mengenai aktor-aktor di belakang kartel narkoba kemudian ia bukukan, dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul: “The Mexican Drug Lords and Their Godfathers”.  

Kegiatan Anabel sebagai jurnalis investigasi membuatnya menjadi sasaran pembunuhan kartel narkoba. Ia kemudian terpaksa meninggalkan negaranya dan kini hidup di Eropa. Selama 10 tahun terakhir, 100 jurnalis terbunuh di Meksiko. Ini menempatkan Meksiko sebagai negara dengan tingkat pembunuhan jurnalis tertinggi di dunia.

"Tidak masalah apakah mereka perdana menteri, presiden, anggota kongres, bankir, pengusaha, politikus, pemimpin agama atau jika mereka adalah kepala kartel narkoba. Terserah kita wartawan untuk mengetahui apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka lakukan itu, mengapa mereka melakukannya dan siapa kaki tangan mereka," lanjut Anabel.

 

Penulis : Andi Muhyiddin / D002

Media Lainnya