Jurnalisme Membuat Perbedaan

Jurnalisme Membuat Perbedaan
Foto: Dok: Bayu/Independen.id

Konferensi regional dengan tema "The Biggest Challenge of Journalism in Digital Era" diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 6 Agustus 2019 di Jakarta. Di era digital ini, apakah jurnalisme masih diperlukan atau tidak, sebuah pertanyaan publik yang coba dijawab lewat konferensi regional ini. 

Hadir sebagai narasumber adalah  Nonoy Espina (NUJP - the National Union of Journalists of the Philippines), Steven Gan (Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com, Malaysia), Jane Worthington (Direktur IFJ Asia Pasific -International Federation of Journalists ), Adam Portelli (Victorian Branch of Media Entertainment and Art Alliance, Australia) dan Asep Setiawan (Anggota Dewan Pers, Indonesia). 

Konferensi ini diselenggarakan dalam rangka 25 tahun berdirinya AJI. Dalam sambutannya, Ketua Umum AJI Abdul Manan menjelaskan, ada banyak kegelisahan mengenai pers dan praktek jurnalisme hingga model bisnis di era digital. Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara tetapi mengalami perubahan cukup signifikan di berbagai negara di seluruh dunia. Era digitalisasi juga mendatangkan kekhawatiran terhadap iklim kebebasan pers.

"Diskusi ini mengemuka dalam Kongres IFJ di Tunisa Juni lalu. Hampir 50 persen peserta mengkhawatirkan tentang ancaman terhadap kebebasan pers,” ujar Abdul Manan. . 

Komisioner Dewan Pers Asep Setiawan dalam paparannya mengatakan, tantangan nyata di era digitalisasi ini adalah  adaptasi jurnalis dan media terhadap beragam bentuk platform digital. Realitanya adaptasi itu menuntut lingkungan dan kemampuan kerja baru bagi jurnalis. Di era digitalisasi, media di Indonesia dan Asia Tenggara berhadapan dengan kecepatan serta memanfaatkan big data. Karena itu Jurnalis harus lebih profesional dan dilatih kembali untuk memenuhi kebutuhan publik. 

"Salah satu solusi yang ditawarkan  oleh Dewan Pers untuk meningkatkan kualitas jurnalis ini dengan menerapkan sertifikasi kepada jurnalis dan media" ujar Asep.

Digitalisasi, kata Asep juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Banyak media di sejumlah negara masih menghadapi masalah seperti penyensoran, kekerasan dan hingga pembunuhan terhadap jurnalis. Bahkan ancaman terhadap kebebasan pers menunjukkan trend meningkat. Indeks kebebasan pers Indonesia yang dikeluarkan Dewan Pers tahun 2018, menyimpulkan kondisi agak bebas. Ini menjadi penanda bahwa kebebasan pers di Indonesia belum sepenuhnya bebas.  

Sementara itu, Jane Worthington, dari IFJ Asia Pasific mengatakan tantangan media dan jurnalis saat ini tidak mudah. Agar dapat bertahan  hidup, salah satu satu caranya adalah dengan bekerja sama, berjejaring dan memperkuat serikat. 

Adam Portelli dari MEAA, khusus menyinggung masalah industri pers sebagai dampak dari digitalisasi. Dia menjelaskan, pengalamannya untuk mengadvokasi masalah ketenagakerjaan para pekerja lepas dan pekerja media digital. MEAA membuat kampanye Good Jobs Charter for Digital Media untuk membela hak-hak pekerja media.  

"Pentingnya serikat kerja kepada  para jurnalis muda yang bekerja di outlet digital karena meningkatnya tantangan jurnalisme," ucapnya.

Sementara itu  Nonoy Espina membagi kondisi pers Filipina yang mengalami tantangan berat. Salah satu ancaman terbesar di negara ini adalah ancaman kekerasan terhadap jurnalis. Sejumlah orang terbunuh ketika menjalankan tugas mereka. Setidaknya 13 jurnalis tewas selama pemerintahan Durterte, memperburuk situasi pers sejak tragedi pembunuhan masal para jurnalis pada 2009 . 
Perkembangan media sosial  juga  menjadi momok ancaman bagi para jurnalis. Pemerintah setempat, katanya, menggunakan media sosial untuk  menyebarkan fakenews. 

"Facebook disebut sebagai tool yang paling populer untuk menyebarkan fakenews dan hal itu dipercaya oleh masyarakat," katanya.

Sementara itu Pemimpin redaksi  Malaysiakini.com Steven Gan merefleksikan perjalanan karirnya sebagai jurnalis dan pemimpin redaksi Malaysiakini.com, mengatakan, " Percayalah, jurnalisme mampu membuat perbedaan , membantu memberdayakan orang dan membawa perubahan, " Malaysiakini.com bisa klaim bahwa media inilah yang berkontribusi menjatuhakan dan menaikkan kembali Mahathir Mohammad sebagai pemimpin Malaysia. 

Steven Gan menekankan bahwa media yang independen memerlukan independen keuangan. Sehingga media harus bebas dari kepentingan partai politik maupun pasar. Tantangan di era digital sekarang adalah bagaimana jurnalisme mampu sajikan informasi berdasarkan fakta, di tengah maraknya berita bohong. Demokrasi yang sehat membutuhkan jurnalisme. (D002)

Media Lainnya