Melawan Berita Bohong dengan Literasi Media

Melawan Berita Bohong dengan Literasi Media
Foto: istimewa
Peserta training literasi media di Depok

Independen --- Mencegah berita bohong dan penyebaran ideologi ekstremisme maka diselenggarakan Training Literasi Media pada Sabtu-Minggu lalu (31/08 - 01/09) di kampus Universitas Indonesia, Depok. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Task Force Jawa Barat, yang  dikoordinir oleh Ni Loh Gusti Madewanti . 

Peserta training diikuti oleh banyak elemen, seperti  mahasiswa, pelajar, aparatur negara dan masyarakat sipil yang tertarik dengan jurnalisme maupun pegiat media sosial. Mereka di antaranya mempunyai latar belakang organisasi/komunitas seperti Serikat Buruh Migran Indonesia, Badan Informasi Geospasial, Kementrian Perhubungan, Arjuna Pasundan, Redaksi Perempuan Berkisah, Komunitas The Young Journos, Compassionate Action Indonesia, Mahasiswa/ Persma dari Universitas Nasional, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UPI YAI, Universitas Jayabaya, Universitas Paramadhina, Universitas Tama Jagakarsa, Universitas Indonesia serta siswa dari SMA Negeri 11 Depok.

Training dilakukan selama dua hari penuh. Peserta mendapatkan materi Dasar-dasar Komunikasi, Dasar-dasar Jurnalistik, Jurnalisme Berita Bohong atau disiformasi, Analisis Media, Peran Media di dalam Masyarakat, Media dan Pembacanya, Perspektif HAM dalam pemberitaan media, Periksa Fakta dan Data, dan Berfikir kritis dan membangun argumen.

Eko Maryadi, jurnalis senior dan salah satu narasumber training menekankan pada peserta bahwa, “Jurnalis dan media profesional tidak boleh menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap Suku, Agama, Ras, Antar golongan. Pegiat media sosial atau Jurnalis harus bertanggung jawab untuk menyebarkan nilai - nilai kemanusiaan, meredakan ketegangan atau konflik karena perbedaan, terutama yang mengeksploitasi kebencian." 

Para peserta setelah dari training ini diharapkan dapat membuat aksi-aksi (kegiatan) yang berbasis toleransi, keberagaman dan pluralisme di tengah masyarakat. Mereka akan berjejaring dengan peserta training dari kota-kota lain di Jawa Barat. 

“Depok adalah salah satu kota yang kami singgahi untuk rangkaian pelatihan ini. Kami memahami bahwa mendorong toleransi dan pluralisme dengan sasaran pemuda di bawah usia 39 tahun (milenial) adalah kerja panjang yang membutuhkan banyak kawan mendukung. Salah satu isu yang dibahas adalah soal Papua dan bagaimana hoaks dan ujaran kebencian merajalela semakin mengkisruhkan situasi dan keadaan di Papua dan Papua Barat," ujar Ni Loh Gusti Madewanti .

Task Force jawa Barat sendiri adalah forum kolaborasi kerjasama antar lembaga, yang di antaranya  komunitas DROUPADI , Young Journos , Akademisi Universitas Indonesia dan Akademisi Universitas Moestopo (Beragama).  Jawa Barat dipilih sebagai  wilayah untuk literasi media, karena provinsi ini menurut Komnas HAM salah satu daerah zona merah atau tingkat intoleransi yang tinggi.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2018 Jawa Barat menurun di poin 65,5 dibandingkan tahun 2017 yang berada di poin 68,78. Tahun 2018 Jawa Barat menempati urutan ke empat untuk provinsi yang memiliki indeks demokrasi terendah serta di bawah rata-rata nasional yang mencapai 72,39.  Data ini menggambarkan kecenderungan turunnya IDI, mencerminkan suburnya pandangan-pandangan ekstrem dan intoleran.  (D002)

Media Lainnya