Korban UU ITE Akan Terus Ada

Embed from Getty Images

Independen --- Bebasnya Baiq Nuril cukup melegakan kita semua. Setidaknya mantan guru honorer dari kota Mataram ini tidak perlu menjalani hukuman penjara, meskipun statusnya tetap bersalah. De facto, keadilan ditegakkan, mereka yang tidak bersalah tidak dihukum. 

Tetapi secara de jure, Baiq Nuril tetap dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung. Ini sebuah ironi (massal), karena sang korban justru dinyatakan bersalah. Pada kasus lain, seperti Saidah, seorang ibu rumah tangga dari Surabaya, Zakki Amali, jurnalis Serat.id dari Semarang dan masih banyak nama lain, terkena jerat pasal karet UU ITE. 

UU ITE sejak awal muncul tahun 2008 sudah menimbulkan kontroversi. Pasal-pasal karet yaitu mulai dari pasal 27, 28 dan 29. Ancaman pasal-pasal ini adalah menyebarkan konten pornografi seperti yang dialami Baiq Nuril, ujaran kebencian sampai pencemaran nama baik seperti yang dialami Saidah dan Zakki. Kriteria penyebaran pornografi, ujaran kebencian sampai pencemaran nama baik tidak mudah untuk didefinisikan. Sesuka tafsir sang penegak hukum. 

Akibatnya UU ITE ini sudah memakan ratusan korban, yang umumnya ibu rumah tangga, pekerja, aktivis hingga jurnalis. Dan yang sering mengadukan dengan pasal karet UU ITE ini adalah pejabat, politisi maupun pengusaha/manajemen. Sehingga terlihat, bagaimana timpangnya relasi kekuasaan di sini. 

Desakan untuk revisi UU ITE sudah semakin kuat. Baiq Nuril yang baru akan terus bermunculan, selama pasal-pasal karet UU UTE ini masih ada. Oleh karena itu, sebaiknya Pemerintah dan DPR mencabut 3 pasal karet UU ITE, yaitu pasal 27, 28 dan 29. Karena pasal-pasal ini lebih banyak mudharatnya.  (D002)

Opini Lainnya