Mudik 2020, Nikmat Membawa Sengsara

Mudik 2020, Nikmat Membawa Sengsara
Foto: dok : istimewa

Independen --- Kampanye #MediaLawanCovid19 mengajak masyarakat untuk tidak mudik. Mudik di saat pandemi Covid-19 justru berpotensi menyebarkan virus tersebut. 

Mudik adalah tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia, ketika jelang Lebaran. Merayakan Lebaran bersama di daerah asal menjadi kebiasaan positif menyambung silaturahmi kekerabatan. Namun ceritanya menjadi lain, ketika pandemi Covid19 sedang terjadi. Para pemudik, yang umumnya dari kota besar seperti Jakarta, berpotensi besar membawa virus corona dan menularkan pada warga di daerah asal. Para pemudik ini bisa menjadi pembawa virus (carrier) tanpa harus menunjukkan gejala sakit. 

Pada tahun-tahun sebelumnya, Jakarta adalah daerah penyumbang terbesar jumlah pemudik. Tahun 2019, pemerintah mencatat arus mudik saat jelang Lebaran sebesar 18,3 juta. Dan 14,9 juta orang di antaranya berasal dari Jakarta. Tahun ini jika kondisi normal, diperkirakan 15 juta pemudik dari Jakarta bersiap atau sudah mudik ke daerah asal.   

Padahal Jakarta saat ini adalah episentrum atau daerah terbanyak terjangkit Covid-19. Data per tgl 29 Maret 2020, Jakarta tercatat 701 pasien positif Covid-19 dari jumlah total nasional 1.285 pasien positif. Ini menunjukkan 54,5% pasien positif Covid-19 berada di Jakarta. Prosentase ini akan lebih besar lagi jika kita masukkan jumlah pasien Covid-19 di wilayah Jabodetabek.  

Oleh karena itu #MediaLawanCovid19 kembali meluncurkan konten edukasi bersama bertajuk “Jangan Mudik” pada Minggu (29/3) ini. Sekitar 100 media nasional dan lokal kembali akan berpartisipasi, termasuk Independen.id . Kampanye ini dilakukan untuk meredam potensi kian luasnya penyebaran virus Corona dari Jakarta ke berbagai daerah. 

Melalui kampanye masif ini, diharapkan ajakan dan imbauan kepada masyarakat untuk tidak pulang kampung bisa tersebar luas hingga ke kelompok masyarakat di unit terkecil, seperti di tingkat RT/RW, kelompok arisan, aktivitas keagamaan, dan lainnya. 

Penulis : Bayu Wardhana

Opini Lainnya