AJI Kecam Remisi Presiden Joko Widodo

AJI Kecam Remisi Presiden Joko Widodo

Independen --- Komunitas pers kecewa dan mengecam langkah Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi terhadap Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa. Keputusan itu tertuang dalam Kepres No. 29 tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara tertanggal 7 Desember 2018. Susrama merupakan satu dari 115 terpidana yang mendapatkan keringanan hukuman tersebut.

Merespon langkah Presiden, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Denpasar dengan didukung AJI Indonesia mengecam tindakan tersebut. Ini merupakan langkah mundur pada penegakan hukum kekerasan pada jurnalis yang terjadi berulang kali. . 

“Berdasarkan data AJI, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia. Kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang sudah diusut. Sementara, 8 kasus lainnya belum tersentuh hukum, “kata Abdul Manan, Ketua AJI Indonesia. 

Delapan kasus itu, antara lain: Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010).

“Pemberian remisi dari seumur hidup menjadi 20 tahun ini bisa melemahkan penegakan kemerdekaan pers, karena setelah 20 tahun akan menerima remisi dan bukan tidak mungkin nantinya akan menerima pembebasan bersyarat. Karena itu AJI Denpasar sangat menyayangkan dan menyesalkan pemberian remisi tersebut,”ujar Nandhang R. Astika, Ketua AJI Denpasar.

Maka baik Abdul Manan maupun Nandhang R. Astika satu suara menuntut agar Presiden Joko Widodo menganulir Keputusan Presiden tersebut. Kebijakan Presiden yang memberi remisi pada Susrama selain melukai rasa keadilan keluarga korban, juga para jurnalis di Indonesia. Karena di fakta persidangan, terbukti kuat Susrama adalah pelaku pembunuhan Prabangsa. Susrama diadili karena kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, 10 tahun lalu.

Pembunuhan itu terkait dengan berita-berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkannya oleh Prabangsa di harian Radar Bali, dua bulan sebelumnya. Hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan bahwa Susrama adalah otak di balik pembunuhan itu. Ia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli, pada 11 Februari 2009 itu. Dan selanjutnya Prabangsa dianiaya hingga tewas. (D002)

Politik Lainnya