Obor Rakyat Ingin Daftar ke Dewan Pers

Obor Rakyat Ingin Daftar ke Dewan Pers

foto: Irham l Independen.id

Tabloid Obor Rakyat Reborn edisi terbaru

INDEPENDEN, Jakarta - Peluncuran Tabloid Obor Rakyat batal karena sekelompok orang mencopot spanduk satu jam sebelum acara dimulai. Pemimpin Redaksi Obor Rakyat Reborn, Bagus Wijanarko yang mengaku peluncuran dibatalkan dengan alasan penurunan spanduk oleh sekelompok orang.

“Artinya kan penurunan backdrop itu kan istilahnya itu sudah memberi kami keputusan untuk membatalkan launching,” katanya di Jakarta, Selasa (19/03).

Kata dia, sebanyak 18 orang bersepeda motor datang ke lokasi acara sebuah cafe di kawasan Jakarta Barat. Tiga orang turun dan masuk ke dalam cafe, lalu menurunkan spanduk peluncuran Obor Rakyat Reborn. Namun belasan orang tersebut tidak diketahui identitasnya.

Lebih lanjut, Bagus mengeklaim Obor Rakyat Reborn berbeda dengan tabloid serupa yang sempat mengundang kontroversi di Pemilu 2014. 

Pada Pemilu 2014 lalu, Pemimpin Redaksi Obor Rakyat, Setiyardi Budiono dan wakilnya, Darmawan telah diproses hukum dengan kasus menyebarkan berita fitnah dan bohong.

Tapi, Bagus mengukuhkan, semangat Obor Rakyat Reborn sama dengan Obor Rakyat Pemilu kemarin. "Kita mengambil spirit dari kedua orang yang saya anggap sebagai senior saya di bidang jurnalistik," katanya.

Dari contoh cover Obor Rakyat edisi terbaru yang ditampilkan Bagus, terlihat foto Rizieq Sihab dengan liputan utama wawancaranya: “Rezim Zalim Harus Tumbang”. Judul tulisan yang ditampilkan di halaman muka lainnya adalah “Investigasi: Udang di Balik Divestasi Freeport”, “Wawancara Khusus Penyidik KPK, Novel Baswedan” dan “The Phenomenon Sandiaga Salahudin Uno”.
Cover lainnya termuat headline “Awas Pasal Karet!”, “Kepala Dipegang Kaki Bergoyang” dan “Hukum: tumpul ke Koalisi Tajam ke Oposisi?”

Lebih lanjut, Bagus mengatakan Obor Rakyat Reborn akan didaftarkan ke Dewan Pers. Kata dia, struktur redaksi dan badan usahanya sudah disiapkan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Revolusi Riza mengatakan perlu ada peninjauan terkait dengan konten dari Obor Rakyat “Reborn”. “Jangan sampai nanti kemudian, produk yang dihasilkan itu, mencederai pers Indonesia,” katanya, Selasa (19/03).

Revolusi Riza juga menggaris bawahi tentang ketentuan kode etik jurnalistik. Kode etik ini harus dijunjung tinggi oleh seluruh perusahaan pers. “Negara ini menjamin kebebasan pers, tapi pers juga memiliki kode etik yang harus ditaati oleh internal pers itu sendiri,” katanya.

Salah satu kode etik jurnalistik yang diatur komunitas pers dan Dewan Pers adalah menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Selain itu, kode etik jurnalistik juga mengatur insan pers tidak membuat berita bohong .

Pada Pemilu Presiden 2014, Dewan Pers menyatakan Tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik. Tabloid ini menyebarkan kampanye negatif terhadap Joko Widodo yang saat itu mencalonkan diri menjadi presiden. Dua pimpinan tabloid Obor Rakyat, Setiyardi Budiono dan Darmawan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara.

Dengan peristiwa ini Obor Rakyat 2 kali gagal diluncurkan. Pada 8 Maret lalu, tabloid ini berencana diluncurkan tapi batal karena pentolannya, Setiyardi Budiono masih mendekam di penjara.

ID003