Menkumham Pastikan Amnesti untuk Baiq Nuril

Menkumham Pastikan Amnesti untuk Baiq Nuril
Foto: ilustrasi

INDEPENDEN, Jakarta – Kementerian Hukum dan HAM memastikan memberi rekomendasi amnesti untuk penyelesaian kasus Baiq Nuril. Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly mengatakan opsi amensti lebih tepat ketimbang pemberian grasi dari Presiden Joko Widodo.

“Yang paling dimungkinkan amnesti. Karena grasi menurut UU No.22 tahun 2002, Junto No.5 tahun 2010 kalau grasi itu minimal hukumannya 2 tahun,” kata Yasonna dalam keterangan kepada media di kantornya, Senin (08/07).

Sebelumnya, upaya hukum terakhir atau peninjauan kembali (PK) korban pelecehan seksual, Baiq Nuril ditolak Mahkamah Agung. Baiq Nuril yang didakwa melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dihukum 6 bulan penjara ddan denda Rp500 juta karena tuduhan menyebarkan konten tidak senonoh Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram berinisial M.

Yasonna menilai ini bukan kasus kecil. Sebab Baiq Nuril mewakili korban pelecehan dan kekerasan seksual yang selama ini diam karena takut melaporkan kasusnya. “Ini adalah menyangkut rasa keadilan yang dirasakan oleh baik Ibu Nuril, dan banyak wanita-wanita lainnya,” katanya.

Jika tidak ditangani dengan serius, kekalahan Baiq Nuril akan menjadi contoh buruk bagi penegakkan hukum korban pelecehan seksual. “Ada mungkin ratusan, ribuan, ratusan ribu wanita-wanita korban kekerasan atau pelecehan seksual  tidak berani bersuara. Karena takut bisa-bisa kalau mengadu, aku yang dikorbanin,” tambah Yasonna.

Sementara itu, Anggota Tim Kuasa Hukum, Rieke Diah Pitaloka mengatakan bakal meminta penangguhan penahanan untuk Baiq Nuril. “Sedang akan mengajukan penangguhan eksekusi kepada Jaksa Agung,” katanya.

Baiq Nuril berharap dari pertemuan ini, Presiden Jokowi bisa memberikan amnesti. “Sampai saat ini saya berdiri di sini, saya ingin mencari keadilan,” katanya.

Sebelumnya, Baiq Nuril dan tim kuasa hukum menemui Menkumham Yasonna Laoly. Langkah ini diambil setelah MA menolak permohonan PK. Menurut MA, putusan hukuman bagi Baiq Nuril sudah tepat karena perbuatannya memenuhi unsur menstransmisikan konten susila.

Seperti diketahui, Baiq Nuril saat menjabat guru honorer di SMAN 7 Mataram, NTB dilaporkan ke polisi oleh atasannya, Kepala Sekolah SMAN 7 Muslim. Baiq Nuril dituduh telah mempermalukan Muslim karena merekam percakapan dengan dirinya. Dalam percakapan tersebut Muslim secara vulgar menceritakan pengalaman seksnya.

ID003

Politik Lainnya

“Ada mungkin ratusan, ribuan, ratusan ribu wanita-wanita korban kekerasan atau pelecehan seksual  tidak berani bersuara. Karena takut bisa-bisa kalau mengadu, a