Suatu Hari di Wae Hihina dan Wae Manawa

 

Oleh Sofyan Muhammad

INDEPENDEN -- Sebuah pagi yang cerah. Bayangan sinar matahari lambat laun menyelimuti keheningan setiap sudut perlintasan. Sisa-sisa hujan menjadikan aspal sepanjang perjalanan beruap.

Di kedua ruas jalan ditanami pohon kelapa, pala, cengkih, dan cokelat. Juga berjejer pohon sagu berdiameter sekitar 50 cm. Tinggi pelepah makanan pokok itu, seperti memberi temaram di sekitarnya. Beberapa juga tumbang karena batangnya busuk dalam semak belukar. Pakis, ilalang seakan melambai  saat diterpa semilir angin.

Ketika mentari datang, pagi menjadi hangat. Bau pesing, amis, yang datang dari pantai, menemani perjalanan saya dengan sepeda motor dari menuju Desa Haya.

Desa Haya terletak di wilayah Seram Selatan, tepatnya di Kecamatan Tehoru,  Kabupaten Maluku Tengah. Saya sendiri berangkat dari Kecamatan Tehoru yang jauhnya 12 kilometer dari Desa Haya.

Karena cukup dekat dengan pantai, pengendara motor seperti saya bakal dimanjakan pemandangan eksotis, deru ombak meliuk, menggulung-gulung di bibir pantai. 

Sebuah pagar besi pembatas menarik perhatian saya.

Talut sekitar 15 meter di bawah pagar, itu retak. Sepanjang pembatas tersisa kerikil dan bebatuan yang dibawa ombak ke bahu jalan. Awalnya talut dibuat setinggi 2 meter, karena sering diterjang ombak, sudah masuk melewati pembatas. 

"Sekarang tinggi talut itu seng sampe 1 meter, bahkan ada yang rata deng pasir pantai," kata Su'ud Samalehu saat ditemui di kompleks Perteli (sekitar Masjid Desa Haya). 

Motor saya pun melaju--di bawah bayangan sinar matahari--tidak jauh dari pagar pembatas saya menyaksikan sebuah bangunan berdiri di seberang jalan, sisi kanan. Luasnya seperti dua kali lapangan sepak bola. Halaman depan dipagari beton setinggi sekitar tiga meter. Pintu utama tertutup, namun sebuah motor hitam terparkir rapi. Karena cukup dekat dengan bahu jalan, saya tahu tembok itu sebagian dicor separuh juga disusun bata.

"Gedung putih, tembok basar itu lokasi perusahan," kata Su'ud Samalehu yang juga staf di Kantor Desa Haya.

Setelah tikungan yang tidak jauh dari perusahan, sekitar 100 meter, dua buah jembatan yang didesain saling terhubung dan menjadi salah satu ikon menarik untuk saya berswafoto.

Yang pertama Wae Hihina dan Wae Manawa. Kedua jembatan inilah yang memisahkan aktivitas perusahan pasir garnet dan Desa Haya yang dikelola PT Waragonda Minerals.

"Perusahan dan kampung basar (Negeri Haya) itu dekat saja ae," kata Sahlan Tomagola, mantan sopir oto Ambon-Tehoru.

Saya menyaksikan orang lalu-lalang di jembatan ini; pekebun yang lewat memikul karung berisi singkong. Beberapa remaja duduk di trotoar jembatan. Ada yang merobek bungkus biskuit, ada yang memegang satu kaleng susu, dan yang satunya membelah kelapa. Semua mereka tuang dalam wadah plastik berukuran sedang. Pagi yang begitu hangat di jembatan ini.

Sungai
Sungai yang tereksploitasi untuk diambil pasirnya ( Foto : Sofyan Muhammad)

Su'ud Samalehu bercerita, bertahun-tahun, walaupun hujan lebat, kedua sungai tersebut tidak pernah membanjiri dan merusak kawasan itu karena masih banyak pepohonan, bebatuan yang menjaga debit air tersebut. Sekarang semuanya berubah dan sudah rawan banjir. Pohon, ladang petani di sekitar sungai ikut terseret dari hulu ke hilir.

"Sekarang dong (pihak perusahan) masih gale batu, pasir tarus di dalam air itu," kata dia.

Setelah dikonfirmasi soal tujuan perusahan mengeruk pasir dan bebatuan tersebut, Su'ud tidak banyak tahu dengan maksud perusahan. 

Mantan Penjabat (Pnj.) Kepala Desa Haya, Farit Samalehu juga mengaku pada 2023, perusahan pasir garnet sudah beraktivitas di sungai tersebut. Pasir, bebatuan di dalam sungai diangkut dengan truk.

"Setelah saya cek, ternyata dijadikan timbunan di kawasan perusahan," katanya.

Pada masa jabatannya pada 2022 lalu, Samalehu mengaku bersikeras menolak aktivitas perusahan. Menurutnya itu bertentangan karena belum mengantongi izin operasi dari pemerintah negeri.

"Dari saya menjabat, bahkan sampai sekarang itu belum ada izin operasi khusus perusahan pasir garnet," kata dia, "Jika ada, beta mau tanya, keluar atas dasar apa, izin dari siapa dan melibatkan elemen masyarakat mana."

Mediasi berulang kali dilakukan Samalehu. Langkah itu dibuat supaya pihak perusahan bisa menjelaskan maksud, tujuan dan terbuka dengan masyarakat. Namun upaya itu selalu gagal.

"Beta minta ketemu bae-bae, surati namun seng pernah lihat direktur, direktur utama punya batang hidung," katanya kesal. 

Menurutnya pengerukan pasir garnet bukan saja berdampak pengikisan tanah dan batuan di pesisir pantai, juga berpengaruh terhadap pencaharian nelayan dan ekosistem laut.

"Dong ambil pasir itu di pantai, dan terjadi abrasi besar-besaran," tutur Su’ud baru-baru ini. 

Abrasi kini menjadi momok yang menimpa pesisir Desa Haya. Su’ud memperkirakan pengikisan telah mencapai 10-15 meter dari bibir pantai, akibatnya Talut rusak, air laut menggapai jalan, bahkan pemakaman umum tak luput dari terjangan ombak. Ia mengaku perusahan sejauh ini tidak pernah merespons pengaruh besar yang telah menimpa desa--tempat perusahaan berdiri.

Muh. Hajriadin Yapono, mengaku sudah berulang kali menghadiri mediasi yang difasilitasi pemerintah desa. Dia (sebagai masyarakat) meminta direktur bisa hadir agar dapat mengawal berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat.

 "Namun direktur tak pernah hadir. Ujungnya kita ketemu orang yang mengaku humas." Kata Hajriadin.

Pertemuan akhirnya digelar di Kantor Desa Haya, pada Jumat 12 Juli 2024. Kepada saya, Yapono yang sempat hadir menjelaskan beberapa poin yang menjadi tuntutan masyarakat yang harus disepakati, yakni:

  1. Pembuatan talud dari Dusun Namasula sampai Dusun Waya (Daerah administratif Desa Haya).
  2. Sektor pendidikan, yakni wajib memfasilitasi peserta didik yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
  3. Pemanfaatan daerah pantai yang semula tidak berguna (reklamasi pantai).
  4. Harga dibeli 10 kg, seharga 100-250.
  5. Pembangunan pelabuhan bongkar muat (membuka lapangan kerja untuk masyarakat Haya).

Hal tersebut yang perlu disepakati pihak perusahaan jika ingin terus beroperasi, Yapono mengatakan, sudah sangat sesuai supaya masyarakat tidak merasa dirugikan dengan adanya tambang pasir garnet tersebut.

"Kalau tidak dapat mengakomodir kemauan masyarakat, perusahan seng usah jalan. Begitu saja. Karena masyarakat juga seng dapat apa pun," kata Yapono menambahkan secara pribadi ia menolak karena dampaknya sangat merugikan masyarakat.

Sebagai Komisaris PT Waragonda Minerals Pratama (WMP) Sarfan Ode mengonfirmasi tuntutan tersebut. Namun menurutnya perusahan juga perlu persiapan yang matang, karena investasi yang bakal dikeluarkan juga tidak sedikit. Sarfan mengaku semua orang tahu situasi dan kondisi perusahan yang belum beroperasi hingga saat ini. Ia meminta perhatian dan dukungan semua pihak, terkhusus di dalam desa.

“Permintaan itu... Okelah. Beta juga berpikir, juga prihatin. Karena menurut beta solusi untuk mengurangi kemiskinan itu juga pendidikan. Saya juga setuju kalau pendidikan itu sangat bisa, kenapa tidak. Kita sangat ingin. Tapi jang pasang target karena situasi dan kondisi perusahan juga to,” katanya.

Sarfan menjelaskan mereka akan memajukan sektor pendidikan dan pembangunan. Namun pembangunan talut atau pelbagai sektor yang diajukan dalam mediasi, namun  jangan sampai bertabrakan dengan program pemerintah.

Hal yang perlu dilakukan perusahaan WMP, menurutnya harus saling koordinasi dengan pemerintah desa juga Pemda, karena ada hal yang menjadi kewajiban perusahaan namun di sisi lain menjadi program kerjanya pemerintah.

“Ya kan kita cek dulu, apakah menjadi tugas pemerintah. Jangan campur aduk. (Dan yang kedua kalau memang dia dampak langsung dari kegiatan kita) Ya... kita akan tanggung jawab. Kita akan bantu, tapi jangan semua dibebankan kepada kita,” kata Sarfan Ode

•••

Keberadaan perusahaan pasir garnet di Negeri Haya berawal dengan modus usaha perkebunan kasbi (singkong) di lahan warga yang mereka beli.

Farid Samalehu menuturkan, usaha kebun singkong itu tak berjalan lama, mereka pun mulai mengeruk pasir. Tempat yang sebelumnya kebun singkong dipagari--untuk menutupi aktivitas mereka--dijadikan tempat penampungan pasir merah.

"Dong (perusahan) tipu katong," kata Su’ud yang juga mantan Pnj. Kepala Desa Tehoru pada 2018-2019 itu.

Keprihatinan akan dampak jangka panjang tetap menjadi perdebatan antara pihak-pihak terkait. Seperti yang disampaikan Farid Samalehu. Negeri Haya pernah kena banjir pasang laut (rob) hingga merendam rumah-rumah warga. Dia khawatir, aktivitas pertambangan pasir merah makin memperburuk keadaan.

Dari jembatan Wae Hihina dan Wae Manawa, saya menuju tempat pemakaman umum (TPU) Tutuni. Luas pemakaman Tutuni sekitar 2 hektare.

Wilayah keramat itu dipagari beton, saparoh dengan kayu balok, juga batang kelapa agar lebih kuat dari jangkauan ternak. Ada dua pintu masuk dari depan yang sudah di setapak. Di belakang kuburan itu, berbatasan dengan bibir pantai. Saya masuk dengan Su'ud Samalehu lewat pantai. Hamparan pasir putih hiasi tepi laut.

Motor saya parkir di depan sebuah Mushola. Sekitar 10 langkah kaki, pasir membumbung di pelataran rumah suci itu. Batang kelapa, akar pohon mangga, melintang hampir ditutupi kerikil halus.

Kata Su'ud, beberapa tahun lalu talut masih kokoh berdiri menghadang ombak, kemudian pecah, bocor, roboh setelah itu hilang dibawa air laut.

"Ombak pukul tembok itu langsung patah-patah," kata pria kelahiran 1960-an itu.

Pantai
Masyarakat makin sering menghadapi banjir rob (Foto : Sofyan Muhammad)

Di depan surau terdapat halaman luas sekitar 20x10 meter. Lokasi itu juga terdapat sebanyak enam makam yang bersebelahan dengan pemakaman Tutuni.

"Ada 4 yang hilang, pasir su tutup akang," kata Siwa, nama samaran salah satu warga yang enggan namanya ditulis. Ia mengaku telah memungut sisa tulang-belulang saat banjir rob melanda pada 2022 lalu. Menurut Siwa air laut saat itu naik ke jalan, langgar, dan menggali pekarangan rumahnya.

"Saya punya bukti. Bahkan saya masih simpan foto, video lengkapnya,” ujar Siwa.

Sebelum memasuki pekuburan Tutuni, sebuah jurang dengan ketinggian sekitar 2 meter memisahkan tepi laut dan makam. Bukan di satu tempat saja, tapi lurah tersebut terlihat sepanjang bibir pantai dalam kawasan pemakaman.

"Ombak hantam sepanjang 500 meter ka sana itu," kata Su'ud Samalehu, "Abrasi paling parah di bagian kubur-kubur sini." 

Samalehu bilang waktu itu pemerintah negeri bersama masyarakat membuat pembatas dari peralatan seadanya, yakni batu, kayu dan pasir yang dibungkus dalam karung dan diletakkan sepanjang hantaman ombak untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi.

"Bapak dong gunakan peralatan seadanya. Tapi seng efektif, karena su terlalu parah," kata pria berkulit sawo matang itu, sembari memilin sejumput kretek di tangan tangannya.

Ia menuturkan sejak 2022, bekerja sebagai staf di pemerintah desa, belum pernah ada upaya pihak perusahan dalam menangani dampak yang sudah bertahun-tahun terjadi. Sedangkan banjir rob yang merusak pemakaman, menurut Su'ud, merupakan dampak galian C, yang dilakukan perusahaan pasir merah.

"Ada 10 kubur yang rusak parah karena ombak. Dan perusahaan seng pernah buat apa-apa," keluhnya. 

Desa Haya memiliki luas wilayah 214,89 km², dan berada Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah. Jumlah pendudukan 8.990 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1870.

Jumlah laki-laki sebanyak 4402, sedangkan perempuan sebanyak 4588.

Data tersebut saya dapatkan dari Meidi T. Ratuhanrasa, pencacah yang melakukan pendataan lewat Survei Potensi Desa (Posdes) Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Tengah pada 2-31 Mei 2024.

Matahari semakin terik. Saya dan Pak Su'ud turun melewati jurang pasir putih bekas abrasi. Ia menghela nafas panjang sembari melesatkan kretek di tangannya dengan dua jari. Kretek itu terbang jauh, jatuh di bawah pohon mangga yang masih berdiri kokoh. Pokok kayu besar seperti beringin itulah yang selama ini bertahan dari terjangan ombak sekaligus menaungi makam Tutuni. 

Pak Su’ud menggunakan celana jeans dengan menggulung lingkar kaki beberapa lipatan, sepatu kain hitam dengan motif garis putih di bagian luar. Pasir tersangkut di lipatan celananya, masuk merembes sepatunya.

Kami tertawa sembari Ia mengobok-obok kedua pengalas kaki tersebut. Rambutnya seperti disemir, hitam dan tebal. Jarang saya melihat uban di kepalanya. Begitu juga kumisnya. Ketika berbicara selalu terdengar jelas juga keras. Kalau tersenyum lebar, terlihat gigi geraham yang masih utuh dan tersusun rapi. 

Saya beranjak pulang melewati rute saat datang. Melaju meninggalkan desa, melewati gapura, namun berhenti di jembatan Wae Hihina dan Wae Manawa, melakukan satu kali 'ritual' selfie.

Pagi dan sore memang membuat ikon desa ini menjadi tempat paling nyaman. Motor, mobil sampai diparkir berjejer di seberang jalan. Banyak muda mudi berkumpul. Ada juga yang berpasangan. Mereka sesekali bergumam, separuh terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan. 

Saya turun ke sungai. Terlihat tanah berserakan membuat pola roda truk, masuk dan keluar. Di dalam air ada beberapa pohon kelapa tumbang yang terbawa banjir musim dingin. Juga ranting-ranting pohon berserakan di dalam air. Kering kerontang melengkung di atas cekungan mirip telaga di bawah jembatan.

Di tepi sungai yang keruh itu, dedaunan terbaring kaku. Begitu kering hingga seekor kadal membuat bunyi berisik lantang ketika berlari melintas.

Di sekitar sungai ada beberapa pokok pisang yang melintang. Roboh. Hanyut dibawa air dari hulu. Di permukaan pasir, ada juga jejak burung yang mengais seperti cakar ayam, juga telapak kaki anjing liar, dan jejak kuku belah sapi. Barangkali datang untuk minum dalam gelap. Di depan sebuah batang pohon besar melintang yang turun bersama banjir, terdapat gundukan abu sisa-sisa sekian banyak api unggun. Permukaan batang pohon itu halus, bekas diduduki pelbagai orang.

Airnya cukup jernih. Segar ketika diminum. Tapi ketika bebatuan, kerikil, terus diangkut dari dasar sungai, kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Alam selalu berdampingan dengan kita. Seperti monumen yang harus dijaga. Jika masih punya rasa takut kehilangan dan bersedia menanggung nya, itulah yang seakan-akan membuat kita abadi. Begitulah sebuah sore yang sendu di sungai itu. Saya kembali melintasi hutan yang sepi. Ada cinta. Ada luka. Keduanya memiliki harapan yang sama persis seperti namanya, Air Laki-laki dan Air Perempuan.

==

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu/Ambon dan Deutsche Welle (DW) Akademie

kali dilihat