Independen -- Kisah para penyintas Tragedi 65 selalu pilu, karena hak-hak mereka sebagai manusia sering diabaikan. Banyak penyintas Tragedi 65 adalah masyarakat biasa yang tidak terlalu tahu politik di era 60-an. Seperti yang dialami Nadiani (80), seorang guru SD di Bukittinggi, Sumbar sebelum Tragedi 65. Nadiani adalah seorang penari dan masuk Lekra karena merasa diberi ruang mengekspresikan jiwa seninya.
Nadiani, 2 bulan sebelum peristiwa G30S, menjadi lakon utama dalam pementasan seni di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi. Pementasan seni itu dalam rangka menyambut kedatangan Hartini Soekarno yang mendapatkan gelar kehormatan Bundo Kanduang. Kemeriahan pentas di Jam Gadang itu, dengan cepat berubah 2 bulan kemudian. Paska peristiwa G30S, Nadiani dipecat sebagai guru SD, suaminya ditahan, dan ekonomi rumah tangga terjun bebas.
Apa yang dialami Nadiani ini, adalah kisah berulang seperti yang dialami para penyintas. Mereka dipenjara tanpa pengadilan, disiksa dalam penjara, dan jika tidak beruntung akan masuk dalam daftar nama yang dieksekusi mati. Di Bukittinggi, ada lokasi tempat eksekusi yang dilakukan di pinggir jurang. Peristiwa ini dikenal sebagai Pembunuhan Padang Hijau.
Mereka yang tidak dipenjara atau keluar dari penjara, stigma sosial pun menghadang. Makian PKI, pembunuh jenderal, atheis sudah sering diterima. Stigma ini bahkan turun sampai ke anak cucu. Dalam kisah para penyintas di Sumatera Barat, ada seorang anak penyintas Tragedi65, akhirnya bercerai dari suaminya, karena sering dimaki "dasar anak PKI".
Bagaimana para penyintas Tragedi65, khususnya di Sumatera Barat meneruskan hidupnya dan bertahan menghadapi stigma, simak liputan Langgam.id: Masa Lalu Kelam Jangan Kembali: Gelap di Hati Nadiani Penyintas 65
(D02)