Tragedi Rabu Berdarah yang Terlupakan di Flores

Independen  -- Konflik agraria di Indonesia seringkali memakan korban jiwa. Seperti kasus Mesuji di Lampung yang telah memakan korban jiwa. Ironisnya, kasus-kasus agraria ini sangat banyak dan sering kali tidak masuk dalam pemberitaan media. Ada banyak faktor, salah satunya adalah kejadian konflik agraria ini berada jauh dari pedalaman, sementara para jurnalis umumnya tinggal di kota atau ibukota Kabupaten. 

Salah satu peristiwa konflik agraria yang luput dari perhatian publik (nasional) adalah Tragedi Rabu Berdarah 10 Maret 2004 di kota Ruteng, NTT.  Peristiwa ini awalnya petani kopi desa Colol yang sedang berdemonstrasi di depan Polres Manggarai, Ruteng. Demonstrasi ini berakhir ricuh dan polisi mengeluarkan tembakan sehingga mengakibatkan 6 orang tewas dan 28 luka-luka. Sebagian yag luka ini mengalami cacat permanen dan tidak mampu bekerja, seperti yang dialami Wandy (bukan nama sebenarnya) harus kehilangan kaki kanannya. 

Bagaimana kronologi peristiwa ini, dapat disimak di floresa.com pada berita: Korban Tragedi Rabu Berdarah yang Dilupakan Negara . Namun polanya kurang lebih sama dengan kasus-kasus agraria yang lain. Tanah petani atau masyarakat diklaim pihak lain, seperti perusahaan, pemerintah atau institusi lain. Proses dialog kurang dikedepankan, masyarakat kemudian harus berhadap-hadapan dengan aparat keamanan sehingga menimbulkan korban, seperti yang terjadi di Pulau Bunga, Flores ini. (D02)

kali dilihat