Penulis : Ramadhan Wibisono
Independen.id --- Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan persentase penduduk miskin di Kabupaten Bungo, Jambi, selama 10 tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin pada 2025 di Bungo tercatat 5% atau menurun dibanding tahun 2024 yang mencapai 5,06%. Angka ini menempatkan Bungo sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan lebih rendah dibandingkan wilayah lain di provinsi Jambi seperti Tanjung Jabung Timur (10%), Tanjung Jabung Barat (9%), Batang Hari (8%), Merangin (8%), dan Sarolangun (8%)
Meskipun cenderung berkurang, kepedulian terhadap warga miskin di Bungo seharusnya tetap menjadi prioritas bagi semua pihak. Kemiskinan di Bungo memacu semangat Kanaya Malika Amanda berinisiatif membentuk komunitas education on the move sejak 2018. Melalui program Pendidikan Berjalan tersebut, Kanaya berupaya memberikan solusi berbagai masalah yang dialami warga kurang mampu, terutama generasi muda di kampung halamannya. Gadis kelahiran Muara Bungo Kabupaten Bungo tahun 2005 ini fokus penanganan masalah pendidikan karena ingin memotivasi generasi muda bersekolah dengan baik hingga meraih cita-cita.
“Ada peristiwa memacu aku intensif bergerak peduli pendidikan yaitu tingginya kasus penjualan sabu-sabu di Lubuk Tenam Kabupaten Bungo, mempengaruhi anak-anak bercita-cita sebagai penjual sabu-sabu karena cepat menghasilkan uang. Mereka tidak bersekolah. Karena itu, aku tergerak memotivasi mereka meninggalkan narkoba dan semangat bersekolah hingga memiliki cita-cita lebih baik,” ujar Kanaya belum lama ini.

Kanaya menjelaskan, hingga kini total 42 anggota education on the move tersebar di enam daerah yaitu Muara Bungo, Jakarta, Depok, Jambi, Padang Panjang, dan Bukittinggi, yang diperkuat lebih dari 900 relawan penggerak. Mereka melakukan beragam aktivitas memotivasi warga kurang mampu ataupun kaum marjinal berbuat positif bagi kemajuan diri sendiri dan masyarakat hingga lingkungan sekitar yang menjangkau lebih dari 78 ribu penerima manfaat. Tidak hanya penyalahgunaan narkoba, masalah yang sering dialami warga meliputi pemuda putus sekolah, perundungan anak, serta nikah usia dini. Selain kegiatan offline menyapa langsung warga kurang mampu, tim education on the move juga melakukan kampanye edukasi online via media sosial menuju perubahan lebih baik dengan capaian lebih dari 37 juta viewers warganet.
“Saat hari buku sedunia kita mengumpulkan buku-buku kemudian menyalurkan ke warga desa lalu mengajarkan warga termasuk anak-anak belajar berhitung. Kita berbagi keberhasilan tokoh-tokoh dunia agar memotivasi warga mencapai hidup lebih baik hingga sosialisasi perkuliahan yang benar. Aku ikut mengedukasi warga isu sosial mencegah penyalahgunaan narkoba maupun menghindari kekerasan seksual. Aku pun peduli masyarakat disabilitas meraih haknya” ujar Kanaya.
Lebih lanjut Kanaya menuturkan, saat mengedukasi warga, tim education on the move membuat beberapa kelompok. Satu kelompok berisi sepuluh peserta didampingi dua mentor. Selanjutnya para mentor menyampaikan materi isu sosial terkini seputar pemberdayaan masyarakat tingkat lokal sampai Asia Tenggara kemudian merancang permainan seru yang menarik.
Fokus awal Kanaya adalah mengajar karena di kampung halamannya sangat minim pengajaran jadi sejumlah warga setempat senang bila ada seseorang memberikan edukasi bahkan mereka menyumbang makanan dan minuman bagi tim education on the move. Kanaya mengaku pernah menerima beasiswa Kementerian Pendidikan terkait dedikasi pemuda. Jadi mahasiswi Universitas Indonesia ini turut menghibahkan beasiswanya untuk edukasi pemberdayaan masyarakat.
Kanaya sengaja memilih anak-anak kurang mampu maupun marginal sebagai target education on the move karena sering ditemukan kasus menimpa anak-anak yang rentan menerima perlakuan diskriminatif. Bahkan kepribadian maupun keberhasilan seseorang dipengaruhi kehidupan era anak-anak atau masa kecilnya. Kanaya kemudian mempelajari masalah yang dialami anak-anak marginal agar segera disampaikan edukasinya.
“Aku tergerak mengedukasi anak-anak marginal. Jadi biasanya sebelum mengadakan acara pengabdian masyarakat, aku koordinasi dengan kepala lingkungan untuk mengumpulkan anak-anak marjinal yang akan diberikan edukasi. Aku mempelajari masalah mereka agar bisa disampaikan solusi atau edukasinya,” tutur Kanaya.
Penyalahgunaan Narkoba, Salah Satu Masalah Ditangani Kanaya
Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu masalah cukup berat yang ditangani Kanaya di Lubuk Tenam. Dirinya imtesif memberdayakan warga marginal di sana setahun dua kali. Beberapa anak di wilayah yang dijuluki kampung narkoba tidak melanjutkan sekolah karena memilih menjual barang terlarang tersebut yang dianggap lebih menjanjikan uang. Namun narkoba justru berdampak parah merusak generasi muda sekaligus berujung kematian.
“Sejak SMA per semester setahun dua kali bikin program edukasi setiap pulang sekolah. Bahkan sampai kuliah, aku selalu menyempatkan ke sana. Anak-anak di sana berterima kasih ke aku karena mereka mau kuliah setelah menerima motivasi atau edukasi dari aku,” cerita Kanaya.
Beberapa masalah lain yang ditangani Kanaya bersama education on the move di antaranya menikah usia muda dan kekerasan dalam rumah tangga hingga perundungan anak. Bahkan Kanaya menyaksikan kakak perempuannya yang menikah usia muda menanggung tekanan psikologis luar biasa. Kakaknya terpaksa meninggalkan impian demi mengasuh anak-anaknya hidup dalam kemiskinan dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kanaya juga melihat perundungan yang dialami teman-teman penyandang disabilitas. Parahnya permasalahan ini mendorong Kanaya menggencarkan program Edukasi Berjalan sejak usia 13 tahun.
Kanaya merasa kegiatan anak muda bagi sebagian pemerintah daerah masih sebatas formalitas bukan upaya transformasi jadi lebih baik, padahal seharusnya tidak begitu. Kehadiran education on the move seolah menjadi cambuk bagi pemerintah yang memiliki kebijakan dan kekuasan termasuk anggaran agar lebih memperhatikan kesejahteraan warganya terutama kaum marginal. Kanaya selalu menyuarakan pemberdayaan masyarakat ataupun keluh kesah warga marginal, tapi jarang direspon pemerintah. Jadi dirinya langsung membantu warga marginal. Pemerintah seharusnya lebih peduli kegiatan pemuda apalagi terkait pemberdayaan masyarakat bukan hanya ekspresi tapi upaya transisi menjadi lebih baik.
“Setelah tujuh tahun menggencarkan education on the move di Muaro Bungo, aku berhasil menyuarakan pemberdayaan masyarakat ke Bupati dibanding kepala daerah sebelumnya yang kurang peduli kegiatan pemuda. Begitu pula saat aku di Sumatra Barat, pemda selalu mendukung kepedulian pemuda memberdayakan masyarakat. Setiap edukasi isu perempuan dan anak-anak, aku turun langsung dengan education on the move karena jika menyuarakan ke pemerintah jarang direspon. Generasi muda sebaiknya berperan aktif ke grass root,” ungkap Kanaya.
Sepanjang tahun 2025, komunitas education on the move melakukan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Edukasi tiap daerah berbeda tergantung masalah krusial yang dihadapi warga setempat. Penanganan prioritas program Edukasi Berjalan mencakup masalah pendidikan, lingkungan, dan perempuan hingga anak marginal. Di Depok misalnya, penggerak education on the move mengedukasi kaum perempuan menjaga kebersihan organ sensitifnya serta sosialiasi hak perempuan yang harus dipenuhi. Sedangkan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, para relawan Edukasi Berjalan mengedukasi anak-anak peduli kebersihan lingkungan sekalian antisipasi perubahan iklim.
“Kita edukasi anak-anak memilah dan mengolah sampah hingga sosialisasi cegah banjir dengan tidak membuang sampah sembarangan. Mayoritas mereka dari keluarga kurang mampu. Aku juga sempat mewakili Indonesia ke forum Asia Tenggara di Vietnam membahas konservasi hutan dan edukasi pemilahan sampah oleh 400 anak,” kata Kanaya.
Kanaya Mengedukasi Anak Marginal Peduli Kebersihan Lingkungan
Puluhan anak mulai tingkat TK sampai SMA antusias mengikuti edukasi dari penggerak education on the move di Balai Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat, pertengahan Oktober 2025. Kanaya bersama teman-teman kampusnya mengedukasi anak-anak peduli kebersihan lingkungan. Mayoritas anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Menurut Vita Sri Rezeki, pengurus bank sampah Kelurahan Kampung Bali yang mendampingi peserta, kehadiran tim education on the move di Kampung Bali sangat bermanfaat meskipun hanya berlangsung sehari. Para peserta dibagi beberapa kelompok yang didamping dua mentor. Mereka belajar memilah dan mengolah sampah agar tidak mengotori lingkungan hingga mencegah banjir.
“Sampah dipilah seperti plastik, botol, dan kardus kemudian diserahkan ke bank sampah. Hasil pilahan di bank sampah, kita jual lalu terima uang. Dari kegiatan itu, anak-anak menerima edukasi jangan membuang sampah sembarangan dan memilahnya agar mencegah banjir dan tidak mengotori lingkungan. Kegiatannya dikemas permainan seru dan menarik sehingga tidak bosan,” tutur Vita.

Berbekal kemampuan mengembangkan ide kreatif dan berempati mengatasi masalah di lingkungan sekitar bersama komunitas education on the move, Kanaya meraih gelar Ashoka Young Changemaker pada 22 Mei 2025. Penghargaan ini diberikan oleh lembaga nonprofit pelopor kewirausahaan sosial Ashoka Indonesia. Kanaya terpilih bersama 13 remaja lainnya setelah lolos seleksi ketat dari 356 kandidat yang mewakili berbagai daerah di Indonesia. Ke-14 remaja tersebut dinilai memiliki insiatif pembaharu atau penggerak perubahan yang berkontribusi besar bagi masyarakat luas menjadi lebih baik. Kanaya juga dinilai berhasil membangun tim yang solid dan memotivasi semua pihak terutama generasi muda hingga pemerintah daerah berbuat positif bagi lingkungan maupun warga setempat.