Di bawah matahari terik Poto Tano, Amir pernah menjadi bagian dari kerusakan laut yang ia saksikan sendiri. Bom ikan, kompresor, karang hancur dan nyawa melayang. Kini, nelayan yang dulu merusak itu justru berdiri di garis depan menjaga Gili Balu. Kisah Amir adalah tentang kesadaran yang datang terlambat tapi tidak sia-sia: bagaimana laut yang nyaris habis memaksa manusia belajar, berubah, dan memilih masa depan yang lebih waras. Ini bukan cerita heroik instan ini tentang menebus luka, satu sentimeter karang demi satu sentimeter harapan.