Energi terbarukan sering dielu-elukan sebagai jawaban atas krisis iklim—bersih, hijau, dan menjanjikan. Indonesia pun punya semua modal alamnya: matahari berlimpah, angin, air, hingga panas bumi. Tapi di balik ambisi besar transisi energi, realitasnya jauh lebih rumit. Ketergantungan pada batu bara masih kuat, regulasi tak konsisten, dan energi fosil terus dimanjakan. Lantas, apakah transisi energi terbarukan di Indonesia benar-benar menjadi jalan keluar, atau sekadar slogan hijau yang tersendat di lapangan?