Sensasi Liburan Akhir Tahun ke Baduy Dalam (Bag. II-selesai)

*Eko Sulistyanto

Bermalam di Baduy Dalam saat pergantian tahun merupakan kenangan yang tak terlupakan. Merasakan hidup tanpa teknologi, listrik, dan menyatu kembali dengan alam. Pilihan ruang kontemplasi hidup yang khusyuk di pergantian tahun. Selengkapnya: Sensasi Liburan Akhir Tahun ke Baduy Dalam (Bag. I).

Setelah berjalan kaki selama berjam-jam melewati bukit-bukit, Eko Sulistyanto beserta isteri dan kedua anaknya tiba di Baduy Dalam. Berikut lanjutan perjalanan Sensasi Liburan Akhir Tahun ke Baduy Dalam yang sebelumnya telah diposting melalui akun Facebooknya.

Aren, Lesung dan Ronda

Kokok ayam jago dari kolong rumah Baduy membangunkan saya. Di dunia luar sana toa masjid pasti sedang menyalak-nyalak. Di sini, nyenyet. Hening.

Malam tadi dingin sekali. Sarung kekecilan. Hanya cukup menutup perut ke atas. Apes.

Pagi buta saya dan salah satu anak saya menuju sungai berjembatan bambu. Saat itu beberapa perempuan bercaping lebar dan anak lari-lari menyeberang jembatan hendak meladang.

Saya seperti menyaksikan adegan film-film Cina kuno. Di pinggir sungai yang rimbun, di atas pohon aren yang menjulang, seorang pria tua sedang menurunkan wadah bambu berisi air hasil sadapan.

Bagaimana cara dia naik turun? Mudah saja. Ada bambu besar panjang bersender di pohon aren. Tiap ruasnya dilubangi sebagai tangga. Simpel bin brilliant.

"Boleh nyoba air arennya Pak?" Tanya saya setelah dia menjejak tanah.

"Silakan. Tapi di rumah saja ya, " jawabnya dalam bahasa Baduy. Pria tua itu kemudian saya kenal namanya, Saminan.

Kami ikut ke rumahnya. Dia mengambil mangkok kecil dan menuangkan air hasil sadapan. Manis rasanya. Anak saya bilang, rasanya seperti minuman berkarbonat.

Dari rumah Saminan kami berdua mampir ke gubuk penggilingan pagi. Suaranya jlang.. jlung.. menghadirkan suasana magis.

Dua perempuan dewasa berkemben sibuk menumbuk padi dengan alu dan lesung. Lesungnya panjang dari kayu besar yang dibelah dan dilubangi. Mirip kano. Beberapa bocah kecil mengikuti aksi mereka.

Tiba-tiba, saya teringat lukisan Jawa kuno yang terukir di candi-candi. Persis adegan di depan mata kami. Bagi fotografer, ini obyek foto kualitas premium. Sayang, haram mengambil gambar.

Saya ingin mencoba ikut numbuk. Tapi perempuan itu melarang. Konon, numbuk padi adalah hak prerogatif perempuan Baduy, sedangkan pria bertugas cari makan dan kebagian tugas teknis yang lebih berat.

Pagi itu Cibeo sepi. Hanya ayam yang berlarian mencari makan atau saling mengejar untuk kawin. Begitulah. Tiap siang dusun ini sepi. Semua meladang.

"Di sini tak ada ronda malam. Adanya ronda siang," kata Kang Sarip, salah satu warga Baduy Dalam.

Sarip

Salah satu pria Baduy Dalam yang mengawal kami namanya Sarip. Kami panggil dia Kang Sarip. Asyik orangnya. Tak bicara kalau tak ditanya. Dia jalan paling belakang memastikan kami, terutama isteri saya, baik-baik saja.

Dia menikah saat usia 22 tahun. Istrinya, Teh Yati, waktu itu 19 tahun. Anaknya dua perempuan semua. Sunarti dan Nuriah. Masih bocah.

"Kang, gimana dulu sampai kawin sama Teteh?," tanya saya penasaran. Lalu meluncurlah obrolan kami.

Dia bilang semua pasangan suami istri Baduy Dalam merupakan hasil perjodohan orang tua. Tak perlu repot-repot cari. Tapi tak boleh memaksa. Boleh nolak calon pilihan orangtua.

Mereka yang jatuh cinta dengan orang luar dan ingin menikah wajib keluar dari Baduy Dalam. Setelah nikah, mereka pun dibuatkan rumah. Dapat tanah ladang. Anak-anak hasil pernikahan lahir dibantu dukun. Anak lelaki saat usia 3 tahunan disunat.

Tak ada puskesmas atau mantri kesehatan di sini. Semua ditangani dukun yang memanfaatkan kebun dan hutan sebagai sumber obat.

"Kami jarang sakit. Kalau sakit dibawa ke dukun. Dukun ambil obat-obat tradisional langsung dari kebun. Kalau ada yang sakit parah, baru panggil dokter. Tapi itu jarang sekali. Biasanya luka jatuh atau berdarah," tutur Kang Sarip.

Kehidupan di Kampung Baduy Dalam memang serasa di surga. Tak ada persaingan, kebencian, perselisihan, konflik. Jangan harap ada hoax di sini. Yang ada hanya tenang dan tentram. Nikmat sekali sepertinya. Semua selaras dengan alam.

Tak usah omong politik. Semua dibicarakan dengan musyawarah. Ada balai khusus pertemuan. Tak besar. Biasanya untuk menyimpan alat musik angklung. Oh iya, tiap orang Baduy wajib bisa memainkan angklung. Mereka akan memainkan angklung menjelang musim tanam padi.

Bayangkan, tak seberapa jauh dari Jakarta, ada perkampungan super tradisional yang kebal dari kehidupan modern yang keras, kejam, ganas, sering kali palsu. Masyarakat yang harmoni. Tak ada ormas semacam FPI.

"Bagaimana Kang Sanip lihat Jakarta?," saya penasaran pada alam pikir mereka tentang dunia modern.

Beberapa kali dia jalan kaki main ke Jakarta. Bahkan sampai Kota Tua. "Biasa saja," jawabnya singkat. Ia sama sekali tak tertarik hidup macam orang kota.

Saya iri dengan Kang Sarip. Iri dengan kaum Baduy. Hidup mereka seperti sudah selesai. Tak ada yang dikejar. Tinggal menjalani.

Sagu

Bambu dan pohon sagu adalah dua mahluk hidup yang menempati posisi kunci di masyarakat Baduy. Tak ada rumah tanpa bambu dan daun sagu. Daun sagu berfungsi sebagai genting untuk segala jenis bangunan.

Sebagaimana di Papua, pohon sagu tumbuh liar di Baduy. Biasanya dekat di area yang banyak air. Bedanya, di Baduy pohon ini sebatas diambil daun dan batangnya. Tidak dijadikan sebagai sumber pangan.

 

Jembatan Bambu

Begitu melangkahkan kaki keluar dari Kampung Cijahe tempat kami diantar mobil, kami langsung disambut jembatan bambu. Belum apa-apa sudah meleleh hati ini. Itu jembatan konstruksinya aduhai. Kokoh walau minus semen. Apa rahasianya?

Biasanya, jembatan bambu dibangun di atas sungai yang ada rumpun bambunya. Rumpun bambu petung. Besar dan kuat. Bambu yang masih hidup menjadi bagian penting dari konstruksi jembatan.

Mereka berfungsi sebagai tiang-tiang dirangkai dengan bambu yang sudah ditebang. Dengan teknologi cerdas ini, lihatlah, jembatan seakan menyatu dengan sungai dan menjadi bagian pertunjukan dari alam Baduy.

Jembatan bambu adalah trade mark masyarakat Baduy. Mainlah ke Baduy dan lewati banyak jembatan bambu. Lihat jembatan bambu, ingatnya Baduy

Pulang

Pukul 8 pagi kami meninggalkan Cibeo, Baduy Dalam, menenteng sekeranjang cerita dan kenangan.

Saat menyeberangi sungai melalui jembatan bambu tua, jalan di depan kami naik tajam, terjal, tinggi, licin, kelok-kelok. Dan mulailah perjalanan pulang yang melelahkan, terutama buat isteri saya. Duo anak saya sih bernyanyi-nyani menikmati hutan dan pemandangan di bawah sana. Sedang ibu mereka bolak-balik berhenti ambil nafas.

"Kira-kira 5 jam," ujar pemandu ketika kami tanya berapa lama perjalanan pulang. Kurang lebih 12 kilometer jalan kaki turun naik bukit licin berbatu.

Lunglai lah isteri saya. Ini kabar buruk buatnya. Ia tak membayangkan jalan pulang akan lebih parah dan lebih lama ketimbang berangkat. Bolak-balik dia ngomel bahkan mewek. Tapi Apa boleh buat. Sepanjang jalan saya bertugas sebagai Mario Teguh. "Just enjoy," kata saya menenangi isteri.

Buat para petualangan, jalur pulang ini asyik dan menantang. Namun bagi yang sekedar ingin mencoba atau senang-senang, bisa jadi siksaan.

Kang Sarip, si Baduy pengawal kami cerita, belum lama ini dia dan seorang teman terpaksa menggotong traveler yang tak sanggup jalan pulang.

"Tubuhnya gemuk. Tak kuat jalan. Akhirnya kami tandu," tuturnya.

Demikianlan, naik turun bukit berbatu, sungai, jalan berlumpur, jurang, perdu, menjadi sajian pulang dari Baduy Dalam. Sekitar jam setengah 3 sore, kami berhasil menggapai terminal Ciboleger dan mengakhiri petualangan. Dalam hati saya bertepuk tangan untuk isteri dan kedua anak saya.

Mampir ke Ciboleger

Sejenak kami mampir di salah satu rumah yang menggelar suvenir di Ciboleger. Ini adalah perkampungan Baduy (paling) Luar yang telah ada, dan menjadi tujuan piknik dengan aneka menu khas Baduy.

Suvenir itu di antaranya tenun, kendi, tas, golok, madu, gelang, macam-macam suvenir dari bambu. Ciboleger juga dipetik menjadi nama terminal tempat traveler memulai perjalanan ke Baduy.

Tak lama kami di sini. Beres mengisi perut dengan makan, kami bablas naik mobil ngejar kereta ke stasiun Rangkas Bitung. Pulang...

 

 *Mantan Jurnalis yang kini bekerja untuk Japan International Cooperation Agency (JICA).  Punya hobi keluyuran dan blusukan serta merawat bunga.

kali dilihat