Independen – “Apabila masyarakat tidak percaya dengan teknologi, maka sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk beralih dari uang tunai menjadi jasa keuangan formal kepada digitalisasi.”
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar webinar dengan tema “Aman dan Nyaman Bertransaksi Online“. Dalam webinar tersebut, AJI bekerjasama dengan GOJEK untuk memberikan informasi kepada khalayak mengenai e-wallet.
Webinar yang diadakan pada 08 Oktober 2020, dihadiri oleh sejumlah toko seperti, Dr. Anung Herlianto E.C, Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Budi Gandasobata, Managing Director Gopay, Dino Milano Siregar, Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK, Winny Triswandhani, Head of Corporate Affairs Greater Gopay, dan Ir. Tony Seno Hartono, M, Ikom, Research CfDS UGM.
Dalam pemaparannya, Budi Gandasoebrata menjelaskan bahwa “Gopay mampu memberi manfaat luas untuk rekan-rekan dengan menjadi jembatan khususnya antara pengguna, mitra driver dan rekan usaha.”
GoPay adalah uang elektronik yang bisa dipakai untuk melakukan transaksi pembayaran dan keuangan melalui aplikasi GoJek. Dengan adanya dompet digital diharapkan memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi. Selain itu dengan menggunakan dompet digital transaksi bisa dilaksanakan dengan lebih aman dan efektif.
“Selaras dengan misi kami dimana kami ingin menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan akses keuangan di Indonesia,” sambungnya.
Dompet digital merupakan suatu skema atau paradigma baru dimana orang-orang belum tentu terbiasa sehingga kepercayaan sangat penting. Semasa pandemi, untuk melakukan transaksi secara tunai kurang diminati. Oleh karena itu, masyarakat beralih dalam melakukan transaksi.
Kini transaksi digital mengalami pertumbuhan pesat. Hal tersebut terjadi dikarenakan banyak masyarakat yang melakukan transaksi secara online. Tetapi secara tidak langsung, hal tersebut dapat memicu kejahatan dalam dunia siber.
“Data kejahatan siber terus meningkat, mereka akan berupaya segala cara untuk masuk ke bank,” ujar Anung Herlianto.
Edukasi terhadap keamanan teknologi atau keamanan digital sangatlah penting. Resiko siber berdasarkan data penelitian saat ini lebih dari 350.000 malwares.
“Di masa pandemi seperti ini, penggunaan platform digital dapat digunakan oleh semua kalangan, secara tidak langsung dapat memudahkan penyerangan secara siber,” ujar Dino Milano Siregar.
Center for Digital Society UGM telah mengadakan penelitian mengenai kompetensi keamanan teknologi digital. Dalam pemaparannya, Tony Seno Hartono menyatakan bahwa adanya pandemi Covid-19 menghasilkan perubahan gaya hidup di dalam kehidupan bermasyarakat. Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap platform digital pun semakin tinggi. Sangat disayangkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai keamanan digital masih sangat rendah. Oleh karena itu, KKTD yang baik selalu memastikan aktivitas masyarakat di platform digital supaya tetap berjalan aman dan nyaman.
“Berdasarkan kajian CfDS UGM terdapat lima jenis penipuan teknik social engineering yang paling umum ditemukan di Indonesia. Yaitu, Phising, Phone scams, SMShing, Impersonation, Pretexting,” jelas Tony Seno Hartono.
(Penulis: Ajeng Puspa / D02)