Kuliah Online, Mahasiswa Alami Depresi

Independen -- Perempuan dua kali lebih rentan terkena depresi dibanding laki-laki, termasuk mahasiswi. Dari hasil survei online FK Unjani dan Ruang Empati (2021), angka depresi di kalangan mahasiswi meningkat selama pandemi Covid-19.

“Satu hari aku sedih karena nilai ngga sesuai ekspektasi, kemudian nggak sengaja ngedengerin salah satu lagu mixtapenya RM BTS. Dan semua kayak sembuh aja gitu,” ucapan itu keluar dari mulut Nabila Febriyanti, mahasiswi S2 Akita International University, Jepang.

Bukan sekali dua kali, Nabila merasa sedih. Stres dan depresinya datang selama empat bulan terakhir sejak memulai kuliahnya, April 2021 lalu. Selama empat bulan itu pula, perempuan yang akrab dipanggil Bila itu harus terkurung di kamarnya, duduk di kursi belajarnya, menatap layar laptop untuk mendengarkan paparan dari dosennya di Jepang.

Tekanan mental sudah dirasakan Nabila satu bulan sebelum semester pertamanya dimulai. Ketika dirinya gagal berangkat ke Jepang pada Maret 2021 lalu. Pandemi Covid-19 membuat Jepang menutup kedatangan internasional. Berdasarkan informasi dari situs Kementerian Luar Negeri Jepang, negara tersebut menutup pintu untuk 152 warga negara, termasuk Indonesia sejak April 2020 lalu.

“Padahal persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari, Maret 2021 itu seharusnya tinggal berangkat aja ke Jepang,” kata Nabila pada satu sore di awal Bulan September.

Kondisi tersebut akhirnya memaksa Nabila untuk melakukan kuliah jarak jauh dengan laptop. Komunikasi dengan dosen dan teman-teman yang kebanyakannya sudah berada di Jepang dilakukan dengan menggunakan laptop maupun handphone.

Pada semester pertamanya, Nabila mengambil tiga mata kuliah. Meski setiap hari hanya ada satu jadwal kuliah, namun dia harus duduk dan memerhatikan paparan dosen selama tiga jam. Jam kerjanya di depan laptop semakin bertambah saat dia harus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, baik tugas individu maupun kelompok.

“Sehari bisa lebih dari tujuh jam di depan laptop. Tiga jam kuliah, sisanya ngerjain tugas,” jelas Nabila.

Seluruh komunikasi yang dia lakukan selama empat bulan itu memang 100 persen dilakukan secara online. Bahkan acara hangout bersama teman-teman satu angkatannya pun dilakukan melalui meeting online.

Hangout memang umum dilakukan selepas kuliah, para mahasiswa dan mahasiswi menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk lebih mengenal satu sama lain. Umumnya, acara santai tersebut dilakukan di luar kampus, sambil menikmati beberapa gelas minuman dan camilan di kafe.

“Biasanya hangout di luar jam kuliah, tapi ya tetap lewat layar,” imbuhnya.

Melakukan seluruh interaksi melalui laptop dan handphone diakui Nabila lebih melelahkan ketimbang tatap muka. Selain lelah secara fisik karena harus menatap layar laptop selama berjam-jam dan duduk tegak di meja belajarnya, kuliah online juga membuatnya kelelahan secara mental. Terkurung berjam-jam dalam kamar selama berhari-hari juga semakin membuat kesehatan mentalnya terkikis.

Situasi tersebut juga diperburuk dengan meningkatnya kasus Covid-19 yang membuat pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang diberlakukan sejak awal Juli 2021 dan terus diperpanjang.

“Banyak tugas, situasi, semuanya bikin stres,” cetusnya.

Frustasi dengan keadaan membuat Nabila mendadak merasa sedih hingga sering menangis. Dia juga mengalami gangguan kecemasan yang membuat tidurnya terganggu, hingga terkadang dia mendadak bangun di tengah malam untuk mengerjakan atau memperbaiki tugasnya.

Namun bagi Nabila, tekanan yang dia hadapi belum sampai tahap untuk melakukan konsultasi dengan psikolog maupun psikiater. Sampai saat ini, Nabila mengaku masih bisa mengatasi segala depresinya dengan berbagai hal. Biasanya dia menyisihkan satu hari di akhir pekan untuk me time.

“Kalau lagi mau sekalian butuh motivasi biasanya olahraga. Kalau lagi malas olahraga, tidur atau malas-malasan di tempat tidur,” ujarnya.

Cara lain yang dilakukannya untuk mengobati stresnya adalah menyisipkan satu jam menonton konten atau mendengarkan lagu BTS, boy band grup favoritnya, saat sedang mengerjakan tugas. Menurutnya, BTS selalu jadi obat stresnya.

Namun jika merasa belum cukup dan butuh teman untuk cerita, Nabila selalu mengontak salah satu sahabatnya. Di mana dia akan mencurahkan kekesalan, frustasi, dan segala masalah yang membuatnya tertekan.

“Dulu sempat dua kali ke psikolog, karena memang butuh bantuan. Sekarang, lebih bisa mengendalikan emosi, belajar dari masalah sebelumnya,” katanya. Meski dia juga mengaku akan kembali melakukan konseling jika depresinya tidak tertahankan lagi.

sumber: survei online FK Unjani dan Ruang Empati - 2021

 

Kuliah Sambil Mengasuh Anak

Pandemi Covid-19 juga mengikis kesehatan mental Ratih, seorang mahasiswi S2 Kesehatan Hukum, Universitas Pasundan.

Saat Covid-19 pertama kali menghantam Indonesia, Ratih harus menjalani kehidupan awal sebagai seorang mahasiswa dengan metoda belajar yang sama sekali berbeda. “Ini dunia baru,” katanya saat ditemui satu sore di awal bulan Oktober 2021.

Tentu saja ini dunia baru baginya yang sejak lulus kuliah pada 2013, Ratih memilih untuk rehat dari dunia pendidikan dan memilih untuk menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Namun dengan berbagai pertimbangan dan desakan dari orangtua, Ratih akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2. Sang ayah berharap, Ratih bisa meneruskan jejaknya sebagai dosen.

Menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswi di tengah kondisi Covid-19 sudah tidak mudah bagi Ratih. Terlebih, sang suami hanya setengah hati memberinya izin kuliah. Bukan itu saja, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi, Ratih juga perlu menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dari balita yang susah untuk ditinggal barang sebentar.

“Awal-awal semester bisa kuliah sambil menyusui,” katanya.

Ketika dosen-dosennya tidak menuntut untuk menyalakan kamera, Ratih menjalankan kuliahnya sambil melakukan tugas-tugas ibu rumah tangga. Menyuapi anaknya, memasak, mengasuh, bahkan terkadang sembari mandi. Selesai kuliah, Ratih bahkan bisa begadang untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Tidak ada waktu istirahat untuk Ratih.

Kondisi itu juga diperburuk dengan suami yang hanya memberi dukungan ala kadarnya. Bahkan Ratih merasa bisa mengikuti kuliah dengan tenang ketika sang suami tidak ada di rumah. Kebetulan, jadwal kuliahnya memang hanya dua hari di akhir pekan. Sabtu dan Minggu. Tapi sekali kuliah bisa memakan waktu empat hingga sembilan jam, dengan dua hingga empat mata kuliah.

“Kalau udah liat muka suami mukanya ngga enak, itu yang paling bikin tertekan,” ungkapnya.

Sebisa mungkin Ratih berusaha untuk tidak mengambil pusing sikap suami demi bisa menjalani kehidupan gandanya sebagai mahasiswi dan ibu dengan tenang. Sementara tekanan-tekanan lain dari orang tuanya sudah jarang dia dengarkan.

Ketika kepalanya sudah terlalu penuh, dia akan cerita beberapa masalah yang sedang dihadapinya kepada dua orang teman terdekatnya. Setidaknya, menurut Ratih hal itu cukup membantu melepas beban dan ganjalan di hatinya, meski hanya sementara.

Namun terkadang usaha keras Ratih mengendalikan emosinya bobol. Beberapa kali dia membentak putrinya dan berakhir dengan menyesal lantaran sadar anaknya tidak tahu apa-apa.

“Satu kali saya pernah sangat ngga tahan dan memutuskan untuk mencari bantuan ke psikolog,” katanya. Kebetulan, psikolog pilihannya adalah teman semasa kuliahnya yang kini membuka praktik. Di sana, Ratih menumpahkan masalah yang tidak bisa dia ungkapkan kepada sahabat-sahabatnya.

Meski merasa konselingnya tidak maksimal, namun keputusan untuk menghubungi psikolog membawa sedikit perubahan. Sedikit demi sedikit, Ratih mampu mengurai dan mengatasi masalahnya, baik sebagai seorang mahasiswi, sebagai istri, maupun sebagai ibu.

 

sumber: survei online FK Unjani dan Ruang Empati - 2021

 

sumber: survei online FK Unjani dan Ruang Empati - 2021

 

Jumlah Kasus Gangguan Kesehatan Jiwa Meningkat

Saat ini kesehatan jiwa menjadi masalah yang harus segera ditangani saat ini. Menurut Elvine Gunawan, dokter spesialis kejiwaan yang bekerja di Rumah Sakit Ibu dan Anak Limijati dan Klinik Surya Medika, kesehatan jiwa erat kaitannya dengan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Sementara jumlah kasus gangguan mental selama masa pandemi Covid-19 meningkat. Terutama di kalangan perempuan dan mahasiswi (87% dari 3.901responden adalah perempuan).

Dari data hasil riset yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Unjani dan Ruang Empati, yang dilakukan sejak Juni hingga September 2021, ditemukan ada kenaikan jumlah kasus gejala mental emosional di kalangan mahasiswa dan remaja hingga 78 persen.

Dari 3.901 responden yang terlibat dalam survei online itu, sebanyak 1.202 reseponden mengalami stres, 1.505 mengalami depresi, dan 3039 mengalami gangguan kecemasan (anxiety).

sumber: survei online FK Unjani dan Ruang Empati - 2021

“Ini menjadi masalah, karena selama masa adaptasi perkuliahan online, kasus gejala mental emosional di mahasiswa meningkat,” kata Elvine saat ditemui di Klinik Surya Medika, Bandung, 1 Oktober 2021 lalu.

Sistem kuliah online yang dilakukan selama masa pandemi Covid-19 ini menjadi penyebab utama dari meningkatnya kasus gejala mental emosional di kalangan mahasiswa. Mayoritas mengaku kewalahan dengan sistem belajar di masa pandemi. Kondisi itu juga diperparah dengan ketidakpastian akhir dari pandemi serta merasa jenuh dengan situasi dan kondisi yang membuat mereka tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Cemas dengan nilai akademik selama menjalani kuliah online juga menjadi penyebab lain dari gangguan mental emosional yang dialami mahasiswa saat ini.

“Sebenarnya di luar negeri sudah ada penelitian tentang apapun yang dikerjakan di rumah, work from home, learning from home, pokoknya semua yang from home, dapat menyebabkan stres karena meningkatkan angka konflik,” terang Elvine.

Kebanyakan, mahasiswa memilih meninggalkan rumah untuk kuliah demi menghindari konflik dengan orang tua. Sementara saat ini, mereka harus menghadapi dosen di rumah, berinteraksi dengan teman dari rumah. Belum ditambah harus menghadapi orang tua, kakak atau adik di rumah.

Elvine menilai, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada semua kalangan. Karena semua orang dipaksa untuk berinteraksi selama 24 jam di rumah dan melihat watak asli dari setiap individu dalam satu keluarga

“Mereka tidak siap dipaksa berkomunikasi intens selama 24 jam. Saat pandemi semua harus berada di rumah, orang tua yang tadinya toxic, tambah toxic karena stres. Orang tua yang sudah stres akan melampiaskan kekesalan kepada anak-anaknya, akhirnya jadi kacau,” lanjut Elvine.

Ini juga menjadi masalah baru. Elvine menyebutkan, banyak pasien mahasiswa dan mahasiswi yang akhirnya mencari teman virtual untuk mengurangi beban stres selama masa pandemi. Mereka berkenalan atau bahkan membayar orang-orang yang dijumpai di dunia maya untuk sekadar mencari teman curhat (curahan hati) hingga mencari pacar.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan minimnya peran pemilik kebijakan dalam mengatasi masalah gangguan kesehatan jiwa. Karena sampai saat ini, layanan-layanan kesehatan khususnya yang menangani masalah kejiwaan belum berjalan optimal karena kebanyakan dilakukan secara online. Ditambah, minimnya kesadaran masyarakat terkait kesehatan jiwa.

Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan, angka gangguan mental emosional sudah mencapai hampir 10 persen. Dari angka tersebut hanya 9 persen yang sudah menjalani pengobatan. Lebih dari 90 persen yang belum mendapatkan perawatan. Jika melihat kondisi saat ini, angka tersebut bisa dipastikan mengalami kenaikan yang signifikan.

“Rasanya setelah pandemi ini kita bisa melihat mana yang jadi prioritas dan mana yang engga,” kata Elvine.

Menurut Elvine, salah satu solusi untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa adalah dengan melakukan diskusi publik. Dan pemerintah bisa menyediakan ruang-ruang publik sebagai tempat diskusi, misalnya di taman kota.

Selain itu, Elvine juga berharap masyarakat bisa lebih aware terhadap dirinya sendiri. Ketika sudah masuk dalam fase awal burnout atau kelelahan secara emosional, sebaiknya segera mencari bantuan ke mental health care untuk segera membuat janji konseling dengan psikolog ataupun dengan psikiater.

Dosen Harus Pro Aktif Untuk Menjaga Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiwa

Menghadapi masalah gangguan kesehatan jiwa di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian dari pihak universitas. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kuliah online yang sudah dilakukan selama hampir dua tahun ini memengaruhi kondisi kesehatan jiwa. Namun, menurut salah satu dosen Ilmu Komunikasi Telkom University (Tel-U), Ira Dwi Mayang Sari, saat ini baik dosen maupun mahasiswa sudah mulai beradaptasi dengan situasi.

Sejak Maret 2020, Tel-U sudah menerapkan Learning Management System (LMS). Di mana mahasiswa dapat mengakses materi berupa dokumen, video, bahkan mengikuti kuis dalam satu web. Dengan harapan, mahasiswa dapat belajar secara mandiri. Namun faktanya, Ira mengatakan, mahasiswa terlalu pasif dan lebih memilih untuk mendengarkan paparan dosen melalui meeting online.

“Awalnya metode ini juga menjadi kendala, bukan hanya mahasiswa tapi dari dosen. Tapi sekarang sudah mulai adaptasi, mayoritas sudah bisa menjalankan LMS dan menggunakan berbagai fiturnya,” terang Ira.

Meski begitu, dari hasil survey online learning activities yang dilakukan Ira sejak awal 2021 lalu ditemukan fakta bahwa mayoritas mahasiswa merasa bosan dengan kuliah online karena kurang interaksi, metode mengajar yang tidak menarik, terlalu banyak tugas, tidak bisa interaksi dengan teman, hingga susah fokus.

Sebagai dosen, Ira juga menyebutkan, meski lebih fleksibel dan bisa dilakukan di manapun, namun kuliah online kerap membuat konsentrasi terganggu. Ditambah dengan kendala jaringan yang kadang terjadi, terutama untuk mahasiswa dan mahasiswi yang berada di luar Pulau Jawa. Kondisi itu membuat dosen harus lebih toleransi menghadapi situasi tersebut.

Toleransi dimulai dari memangkas jam kuliah menjadi lebih singkat, dispensasi tugas, hingga masalah absensi. Saat ini mahasiswa diberi kelonggaran jumlah kehadiran hingga 60 persen untuk dapat mengikuti ujian.

“Sebelumnya saya sudah membuat kesepakatan jam belajar dengan mahasiswa. Mayoritas di satu jam untuk break. Kalau sudah lebih dari satu jam sudah tidak konsentrasi,” kata Ira.

Artinya, kondisi ini juga menuntut para pengajar untuk lebih kreatif untuk memberikan metode belajar yang lebih menarik untuk mahasiswa. Memperbanyak interaksi selama jam kuliah menjadi salah satu cara untuk memecahkan kebosanan.

“Karena pada dasarnya kebanyakan mahasiswa memang suka ngobrol,” tutupnya.

 

Penulis: Mega Dwi Anggraeni

kali dilihat