Akankah Kecerdasan Buatan Jadi Akhir dari Jurnalisme?

 

INDEPENDEN-- Pada pertengahan Mei 2023, The Irish Times menerbitkan sebuah artikel yang menuduh perempuan pengguna produk fake tan (penggelap kulit buatan) telah mengejek mereka yang berkulit gelap alami. Artikel opini itu awalnya disebut ditulis oleh Adriana Acosta-Cortez, seorang pekerja kesehatan berusia 29 tahun asal Ekuador yang tinggal di Dublin utara.

Namun orang itu tidak pernah ada. “Artikel dan foto penulis pendampingnya kemungkinan besar diproduksi, setidaknya sebagian, menggunakan teknologi AI generatif,” tulis sebuah editorial The Irish Times empat hari setelah artikel tersebut terbit.

Dua bulan kemudian, HoldtheFrontPage—sebuah situs berita untuk jurnalis yang berfokus pada media regional di Inggris—menerbitkan laporan investigasi yang mengungkap bagaimana kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk meluncurkan publikasi palsu bernama The Bournemouth Observer. “Sudah jelas kontennya ditulis oleh AI karena kualitas tulisannya sangat buruk,” kata editor HoldtheFrontPage, Paul Linford, kepada Index

“Tapi sejak itu, AI menjadi jauh lebih baik dalam menulis, dan saya menduga lama-lama akan semakin sulit membedakan mana tulisan AI dan mana tulisan jurnalis sungguhan,” ujar Linford.

Index on Censorship juga sempat dikelabui oleh seorang “jurnalis” bernama Margaux Blanchard, yang artikelnya dimuat dalam edisi Musim Semi majalah tersebut. Ironisnya, artikel itu tentang jurnalisme di Guatemala—dan ternyata ditulis oleh AI. 

Media lain seperti Wired dan Business Insider juga menjadi korban “Margaux”.

Penulis Amerika James Barrat mengklaim bahwa AI “pada akhirnya akan membawa kematian bentuk penulisan seperti yang kita kenal.” 

Barrat yang pembuat film dokumenter dan penulis itu telah meneliti dan menulis tentang AI selama lebih dari satu dekade. Bukunya Our Final Invention: Artificial Intelligence and the End of the Human Era (2013) baru-baru ini digunakan sebagai bahan pelatihan oleh ChatGPT. 

“Saat ini sedang ada gugatan hukum mengenai hal ini karena OpenAI mengambil buku saya [tanpa izin] dan tidak membayar saya,” kata Barrat. “Kalau sekarang Anda menyuruh ChatGPT ‘tulis dengan gaya James Barrat’, ia memang tidak menghasilkan tiruan yang persis sama, tapi cukup mendekati. Dan kemampuan menulis mesin semakin meningkat tiap saat.”

 

AI “akan menghilangkan 30% dari seluruh pekerjaan”

Pada awal September, Barrat menerbitkan buku terbaru berjudul The Intelligence Explosion: When AI Beats Humans at Everything (2025). Buku itu membuat dua prediksi berani. Pertama, bahwa dalam waktu tidak terlalu lama AI berpotensi menyamai—bahkan melampaui—kecerdasan manusia. Kedua, bahwa pada 2030 AI akan menghilangkan 30 persen pekerjaan manusia, termasuk para penulis.

Barrat mengklaim jurnalis lepas justru akan mendapat manfaat jangka pendek. “Segera, seorang penulis feature biasa, dengan bantuan AI, bisa menghasilkan dua kali lipat konten dan dibayar dua kali lipat,” katanya. “Tapi dalam jangka panjang organisasi berita akan menyingkirkan [kebanyakan] penulis karena masyarakat tidak akan peduli apakah konten ditulis AI atau manusia.”

Namun Tobias Rose-Stockwell tidak sependapat. “Akan selalu ada pasar untuk informasi yang terverifikasi dan akurat—yang membutuhkan manusia,” kata penulis, desainer, teknolog, dan peneliti media asal Amerika itu. “Jadi jurnalisme yang benar tidak akan hilang, tetapi akan terganggu oleh AI, yang kini dapat menghasilkan konten secara real time. Ini akan memicu lebih banyak kepalsuan viral, kebingungan, dan kekacauan dalam ekosistem informasi.”

Rose-Stockwell menjelaskan topik tersebut dalam bukunya Outrage Machine (2023). Buku itu memaparkan bagaimana kebangkitan media sosial di pertengahan 2000-an dimungkinkan oleh algoritme—instruksi matematika yang memproses data untuk menghasilkan keluaran tertentu.

Pada masa awal, linimasa media sosial ditampilkan secara kronologis. Namun platform seperti Facebook, Instagram, X, TikTok kemudian menyadari bahwa lebih menguntungkan untuk menyusun konten berdasarkan feed algoritmik, ditenagai AI dan machine learning (ML), yang menganalisis perilaku pengguna dan menjaga keterlibatan emosional lebih lama.

“Algoritme lebih baik dalam mengkoordinasikan ulang konten dibandingkan manusia mana pun,” kata Rose-Stockwell. “Mereka bahkan bisa membuat koran atau acara televisi kecil yang dibuat khusus untuk setiap pengguna.”

 

“AI sudah mulai mengubah jurnalisme dengan cepat”

Menurut Dr Tomasz Hollanek, pakar etika teknologi dari Universitas Cambridge, “Saat sistem AI semakin mampu menghasilkan konten yang tampak autentik, mendeteksi materi palsu akan makin sulit.”

Hollanek menekankan pentingnya redaksi memiliki panduan jelas tentang kapan dan bagaimana AI boleh digunakan. Misalnya, Associated Press mengizinkan staf menguji alat AI tetapi melarang mereka menerbitkan teks yang dibuat AI secara langsung.

“Yang penting dari panduan ini adalah bahwa meskipun AI diakui sebagai alat baru, jurnalisme sudah memiliki mekanisme akuntabilitas,” kata Hollanek. Ia juga mengkritik nada sensasional yang sering digunakan jurnalis ketika menulis tentang AI, yang menimbulkan hype dan berujung pada pemahaman publik yang keliru.

“Jurnalis yang memperkuat literasi kritis mereka sendiri tentang AI akan membuat publik lebih paham tentang AI dan lebih mampu membentuk arah perkembangannya.”

 

Peran AI dalam berita “harus dapat dilacak”

Petra Molnar, pengacara dan antropolog asal Kanada yang fokus pada migrasi dan HAM, mengatakan bahwa publik harus memahami bahwa AI bukanlah alat abstrak, tetapi sudah membentuk kehidupan kita sehari-hari.

Molnar menilai perlu adanya kampanye kesadaran publik yang menjelaskan bagaimana AI bekerja dalam ranah berita dan politik, serta bagaimana perannya dapat dilacak. Ia menggambarkan perusahaan seperti Meta, X, Amazon, dan OpenAI sebagai “penjaga gerbang informasi global yang memiliki kekuasaan untuk memperkuat beberapa suara dan membungkam yang lain, sering kali memperkuat ketimpangan yang sudah ada.”

“Kebanyakan orang mengalami AI melalui news feed, teks prediktif, atau mesin pencari, tetapi mereka tidak sadar betapa dalam AI membentuk apa yang mereka lihat dan pikirkan,” lanjut Molnar. Ia menekankan bahwa AI “sering dipresentasikan sebagai alat netral, padahal kenyataannya ia mengodekan kekuasaan.”

Tahun lalu, Molnar menerbitkan The Walls Have Eyes: Surviving Migration in the Age of Artificial Intelligence (2024), yang menyoroti maraknya teknologi digital untuk memantau pengungsi, pembangkang politik, dan aktivis garis depan di seluruh dunia.

Molnar percaya bahwa “AI mengancam mempercepat runtuhnya jurnalisme dengan memprioritaskan kecepatan dan keterlibatan, bukan akurasi dan kedalaman.” Ia menyebut contoh jurnalis yang menggunakan alat teks AI untuk menghasilkan artikel dangkal dengan framing sensasional tentang migrasi—tanpa riset mendalam.

“Sistem otomatis mungkin menghasilkan konten yang tampak seperti jurnalisme, tetapi kehilangan akuntabilitas dan penyelidikan kritis yang dibutuhkan untuk menceritakan kisah kompleks,” kata Molnar. “Masa depan jurnalisme bergantung pada reporter manusia yang mampu menyelidiki kekuasaan dan melakukan verifikasi fakta secara ketat—sesuatu yang tidak bisa ditiru AI.”

 

Pengawasan manusia

Sam Taylor, pejabat kampanye & komunikasi di National Union of Journalists (NUJ) Inggris, sependapat. “Editor dan penulis harus berhati-hati sebelum menggunakan AI dalam pekerjaan mereka,” katanya. “AI generatif menarik data dari internet yang penuh stereotip, bias, dan misinformasi.”

“Untuk menjaga dan memperkuat kepercayaan publik terhadap jurnalisme, AI harus digunakan hanya sebagai alat bantu, dengan pengawasan manusia,” kata Sekretaris Jenderal NUJ, Laura Davison.

Semua narasumber yang diwawancarai Index sepakat bahwa meskipun punya kekurangan, AI menawarkan banyak manfaat bagi jurnalis: otomatisasi tugas rutin seperti transkripsi, penyortiran data, dan peningkatan akses ke jurnalisme data. AI bisa mengolah dataset besar dan menemukan pola jauh lebih cepat daripada manusia — memberi jurnalis lebih banyak waktu untuk berpikir kritis dan menceritakan kisah kompleks.

Namun ada konsensus kuat bahwa AI tidak dapat memverifikasi fakta secara akurat dan tidak dapat dipercaya sebagai pemeriksa kebenaran. Salah satu alasannya adalah masalah halusinasi AI. “Karena kompleksitas yang terjadi di dalamnya, AI bisa berhalusinasi,” jelas Barrat. “Ketika ini terjadi, AI bingung dan menghasilkan kebohongan.”

“Belum jelas apakah masalah halusinasi ini bisa diselesaikan atau tidak,” kata Rose-Stockwell.

“Jurnalisme harus tetap berlandaskan tanggung jawab etis dan konteks,” tambah Molnar. “Yang kita butuhkan adalah penilaian manusia yang kritis dan etis, didukung oleh teknologi, tetapi bukan digantikan olehnya.”

 

Apakah AI sebuah ancaman?

Siapa pun yang percaya pada misi utama jurnalisme—menantang kekuasaan dengan menyelidiki kebenaran—mungkin sepakat dengan pandangan itu. Tetapi apakah ini hanya optimisme dari era yang telah lewat?

Barrat berpendapat demikian. Ia mengatakan bahwa pada akhirnya kita mungkin tidak bisa memilih. “Skenario yang mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah AI dapat menjadi musuh kita,” katanya. “AI bisa mengambil alih sistem air dan listrik kita. Baru-baru ini, sebuah model bahasa besar (LLM) menyatakan bahwa penciptanya harus dibunuh.”

Barrat juga menyinggung wawancaranya dengan penulis fiksi ilmiah terkenal Sir Arthur C. Clarke, sebelum kematiannya pada usia 90 tahun pada 2008. Clarke menulis skenario film 2001: A Space Odyssey (1968), yang disutradarai Stanley Kubrick. Film peraih Oscar itu mengisahkan komputer AI bernama HAL di pesawat Discovery One menuju Jupiter. Ketika HAL mengalami konflik program, ia menganggap para kru sebagai ancaman dan mulai melawan mereka.

Arthur C. Clarke berkata kepada Barrat, “Manusia mengendalikan masa depan karena kita adalah spesies paling cerdas di planet ini, tetapi ketika kita berbagi planet ini dengan sesuatu yang lebih cerdas dari kita, merekalah yang akan mengendalikan masa depan.”

“Kecerdasan AI berkembang secara eksponensial,” simpul Barrat. “Ketika ia semakin pintar, kita akan berhenti memahaminya. Kita benar-benar sedang mengundang bencana.”

 

=====

Tulisan ini adalah terjemahan dari tulisan JP O’Malley yang dipublikasikan di Index on Censorship. Tulisan asli bisa ditemukan di https://www.indexoncensorship.org/2025/09/will-artificial-intelligence-be-the-death-of-journalism/

kali dilihat