Bansos Pakai Data 2015, Banyak Penyintas di Palu Terlewatkan

Independen  --- Sebagian para penyintas gempa likuifaksi dan tsunami di Palu tahun 2018 semakin terpuruk ketika pandemi Covid-19. Mereka baru saja berusaha bangkit dengan membuka usaha kecil-kecilan, langsung terhempas lagi karena pandemi. 

Sebagian masih tinggal di huntara (hunian sementara) karena rumahnya abis ditelan tsunami maupun likuifaksi. Bantuan sosial di Palu tidak selancar di Jakarta yang sering datang bantuan. Pemerintah Kota memang ada bantuan sosial, tetapi menggunakan data terakhir tahun 2015 yang sudah tidak relevan.  Akibatnya banyak penyintas bencana alam 2018 yang tidak masuk daftar. 

Situasi di huntara Palu cukup mengenaskan. Ada keluarga yang sampai 3 hari hanya makan nasi dan garam saja. Terakhir, ada yang bunuh diri karena putus asa dengan situasi.  Kisah ini dapat dibaca pada liputan Syamsu Rizal di Cerita Pilu Penyintas Palu di Masa Covid-19 (D02)

 

kali dilihat