Campak Mengganas di Areal Tambang

Oleh Suryani

INDEPENDEN--  Punya anak tumbuh sehat adalah harapan semua orang tua. Begitu juga Agus yang kini memiliki balita berusia 3 tahun, Salma namanya.

Warga Halmahera Tengah (Halteng) ini tidak menaruh kira jika Salma bakal terserang campak saat dia sibuk bekerja melayani pelanggan yang masuk di rumah makan miliknya.

Rumah makan Agus cukup sederhana namun menu utama ayam lalap itu rasanya pas di lidah pelanggan. Jadi jangan heran tempat itu ramai dikunjungi orang, tentu saja berbagai virus juga akan ikut bersamaan orang yang masuk keluar rumah makannya.

Agus tidak pernah memberikan imunisasi campak untuk anaknya. Seperti warga umumnya di Halteng. Ada kepercayaan warga lokal penyakit campak bisa disembuhkan cukup dengan memberi bedak. Tak perlu imunisasi.

Angka imunisasi di Halteng sendiri sangat menurun setelah pandemi Covid-19. Namun dalam beberapa bulan terakhir atau hingga September lalu, cakupan imunisasi sudah mulai membaik. Ada sebanyak 906 bayi atau 73,7 persen yang sudah dicampak dari total sasaran 1230 bayi.

Agus mengaku sedari kecil ruang permainan anaknya lebih banyak di dalam rumah. Apalagi sudah diberikan gadget, anaknya hanya bermain dalam kamar. Karena itu jarang sekali bertemu orang.

“Karena anak saya sehat-sehat saja jadi selama ini belum dibawa ke PKM (Puskesmas) untuk dapat imunisasi campak,” ucapnya saat berbincang dengan Malut Post, baru-baru ini.

Namun, di luar dugaan anaknya tiba-tiba mengalami demam, disertai kulit bercak merah sehingga langsung dibawa ke PKM Weda. Setelah diperiksa, anaknya positif terkena campak. Untungnya seminggu kemudian, si kecil sembuh setelah mendapat imunisasi dan penanganan di puskesmas.

Pengelola Surveilans PKM Lelilef, Fahria Artika Yudi mengakui ada kepercayaan lokal bahwa campak tidak perlu disuntik, cukup disembuhkan dengan menggunakan bedak.

Selain itu mereka juga percaya jika penderita campak tidak boleh mandi. Padahal campak merupakan virus yang harus dibersihkan melalui mandi atau dibilas, jika tidak akan makin menyebar ke seluruh tubuh. Namun, jangan mandi atau dibilas dalam keadaan demam.

“Pemahaman yang masih awam ini membuat orang tua tidak membawa anaknya periksa ke PKM untuk mendapatkan imunisasi. Anaknya dibiarkan begitu saja sehingga kontak dengan orang lain. Padahal penyakit ini punya risiko besar jika terjadi komplikasi,” terangnya.

Dia mengungkapkan, sudah ada satu anak dari pekerja tambang di Lelilef, Halteng yang meninggal akibat campak.  Balita berusia 15 bulan ini awalnya hanya demam biasa dan batuk, tanpa ada bintik merah yang menunjukkan gejala campak sehingga dokter mengira hanya sakit biasa.

Belakangan baru diketahui setelah muncul bintik, sehingga petugas mencoba menghubungi kembali orang tua anak tersebut, tapi empat hari kemudian baru ada respons.

Petugas langsung mendatangi tempat tinggal mereka dan mendapati anak itu dalam kondisi demam dan dehidrasi berat karena muntah serta diare.

Petugas lalu mengajak untuk membawa balita tersebut ke PKM Lelilef. Namun orang tuanya sempat menolak karena tak punya uang dan BPJS kesehatan. “ Tapi kami tetap ajak, walau belum punya uang yang penting mau berobat dulu,” kenangnya.

Namun setelah tiba di Puskesmas kondisi anak tersebut memburuk sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Weda. Sayangnya, balita ini meninggal dunia dalam perjalanan ke RSUD. Kejadian ini dicatat sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di PKM Lelilef.

“Di PKM Lelilef awalnya hanya satu pasien pada bulan Mei. Pasien ini tinggal di Lelilef Sawai, kemudian karena diduga kontak dengan lingkungan sehingga tersebar,” terangnya.

Di kawasan lingkar tambang, dalam enam bulan terakhir, kasus campak kian mengganas. Selain berobat di klinik yang telah disediakan di perusahan tambang, para pekerja tambang dan keluarga yang tertular campak juga berobat di PKM Lelilef, sehingga angka pasien meningkat.

Ada ratusan kasus campak yang ditangani, karena itu, jam pelayanan puskesmas dibuka sampai malam. Meski PKM Lelilef bukan kategori rawat inap tapi, karena jumlah pasien membludak jam pelayanan dibuka sampai malam. Bahkan pernah cairan infus di PKM Lelilef habis. Begitu juga  dengan tabung oksigen dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya yang sangat terbatas.

PKM Lelilef juga kekurangan tenaga medis padahal, Lelilef merupakan pusat pengoperasian pertambangan sehingga jumlah pasien yang berkunjung begitu banyak.  “Ada banyak tenaga medis yang melamar kerja tapi, tidak diterima karena mau gaji mereka dengan apa,” ucap Fahria.

Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, cakupan imunisasi pada saat Covid-19 rendah sehingga kekebalan tubuh yang dibentuk dari imunisasi tidak ada. Karena itu sekarang mudah terserang campak.

Sebagai pencegahan, PKM Lelilef melakukan imunisasi menyeluruh bagi anak usia 9 bulan-12 tahun. Namun, ada saja yang menolak, terutama pendatang atau bukan penduduk asli Halteng.

Sebagian orang tua tidak mau anak nya mendapatkan imunisasi dengan alasan takut anaknya sakit.  “Harusnya mereka ikut aturan di sini kalau tinggal di Lelilef, karena ini menyangkut kedaruratan kesehatan masyarakat,” ujar Fahria lagi.

Kondisi ini diperburuk setelah mayoritas orang yang terserang campak di Lelilef, tidak langsung melakukan pemeriksaan dan membiarkan pasien sampai dalam kondisi parah baru datang ke PKM. Ini yang kadang menjadi penghambat dalam pencegahan dan pengobatan campak.

Kata dia, penderita campak lebih banyak pendatang ketimbang masyarakat lokal. Dari ratusan kasus campak, penduduk asli Lelilef hanya dua orang, sisanya dari luar atau para pekerja tambang dan keluarganya. “Hampir rata-rata anak yang menderita campak itu punya riwayat keluarga kerja di tambang, baik itu orang tua atau keluarga lainnya yang tinggal se-rumah,” ujarnya.

“Kita tidak menyebut campak ini disebabkan tambang tapi kenyataannya penderita itu punya orang tua atau kakak yang kerja di tambang. Artinya kontak dengan orang lebih banyak sehingga potensi virus itu lebih mudah menyebar,” sambung Fahria.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Halteng, Lutfi Djafar menuturkan, awalnya mereka telah mendeteksi ada pasien yang menderita campak. Namun belum bisa ditetapkan, karena itu  sampel darah pasien tersebut diambil, lalu diuji ke laboratorium.

Dua minggu kemudian, penyebaran penyakit sangat cepat hampir seratus orang tertular. Belakangan hasil uji lab dari kementerian kesehatan keluar jika pasien tersebut terkena campak. “ Karena tingginya kasus, Halteng lalu ditetapkan KLB (kejadian luar biasa) campak pada Mei lalu,” tandasnya.

Proses penyebaran campak yang mudah dan cepat melalui udara, menyebabkan jumlah kasus campak di lingkar tambang Halteng menembus 416 kasus. Paling banyak penderita berasal dari pekerja tambang, yakni 300 kasus, sisanya masyarakat umum.

Dilihat dari usia penderita, campak banyak menyerang pasien pada usia 15 tahun ke bawah yang sebanyak 231 orang. Ini disebabkan daya tahan tubuh anak rendah akibat belum imunisasi campak. Walau begitu yang sudah imuniasis juga masih bisa terserang campak bila daya tahan tubuh turun.

Untuk itu, setelah ditetapkan KLB, Kementerian Kesehatan memberikan instruksi imunisasi secara menyeluruh.

Data kasus campak bulan Mei hingga Oktober yang masuk ke Dinas Kesehatan Halmahera Tengah, dari tujuh PKM yang berada di lingkar tambang menunjukkan kasus terbanyak berada di PKM Lelilef dengan jumlah 236 kasus, disusul PKM Weda 89 kasus, PKM Sagea 42 kasus.

“ Kasus campak ini marak ketika pengoperasian tambang makin masif,” terangnya.

 

 

 

 

Untuk orang lokal atau masyarakat asli Halteng bukan pindahan itu hanya 10-20 penderita, sisanya dari kabupaten/kota dan provinsi lain. Ini menunjukkan imunisasi dari daerah luar juga perlu dievaluasai.

Sedangkan, untuk Tenaga Kerja Asing (TKA) tidak ada laporan terserang campak. Menurutnya, TKA biasanya lebih patuh terhadap aturan yang diterapkan. “ Di Halteng sendiri sudah dilakukan imunisasi, walau masih ada masyarakat yang bandel dan tidak mau melakukan sehingga menyulitkan petugas kesehatan,” pungkasnya.

 

Mobilisasi Tinggi Diduga jadi Penyebab

Campak kian mengganas sejak kehadiran tambang. Ini diakui Rifayanti, KTU PKM Weda. Kata dia, Weda merupakan pintu utama masuk Halteng. Sejak pengoperasian tambang di Lelilef makin masif angka campak terus meningkat. Bahkan menyebar hingga desa sekitar.

Penyebaran campak terbanyak di daerah lingkar tambang seperti Weda, Lelilef, Sagea dan Kobe. Sedangkan daerah jauh seperti Wairoro, relatif aman dari sabaran campak.

Rifayanti menduga, kemungkinan penyakit campak datang dari luar karena, selama ini tidak pernah ada kasus campak yang tercatat di PKM Weda.

Namun, sejak campak muncul pertama kali di Lelilef bulan Mei, satu bulan kemudian langsung menyebar ke Weda karena ada pekerja tambang yang tinggal di Weda. Bulan Juni hanya muncul 1 kasus. Kemudian bulan Juli baru mulai meningkat. “Juli sampai Agustus itu kita laporkan sudah lebih dari 80 kasus,” ujar dia.

Karena penyebaran lewat virus bagi anak yang sistem imun tidak kuat sangat mudah terkena. Karena itu, tindakan pencegahan dan pengobatan yang dilakukan PKM Weda yaitu, tim Penyelidikan Epidemiologi (PE) melakukan kunjungan dan pemantauan jika ada warga terkena campak.

Tim PE turun langsung ke rumah untuk melakukan pengobatan sampai sembuh. Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan imunisasi campak di hari campak dalam rangka pencegahan. Sedangkan tim dari Promosi Kesehatan (Promkes) gencar melakukan sosialisasi terkait campak di posyandu dan pertemuan-pertemuan pengajian.

 

Bukan hanya anak kecil, penyakit campak juga menyerang orang dewasa terutama mereka yang beraktivitas di wilayah sekitar industri pertambangan. (Foto Istimewa)

 

Kepala PKM Sagea, Abdul Basit S. Farm menambahkan terjadinya KLB Campak di Halteng dipengaruhi mobilisasi orang yang tinggi, sehingga proses penyebaran virus campak makin meluas. Untuk wilayah kerja PKM Sagea saja sudah puluhan kasus.

Penderita yang berdomisili di Sagea itu, sambungnya, dari minggu ke 27-40 sebanyak 36 kasus, belum termasuk orang yang berdomisili luar yang berobat di PKM Sagea.

Orang yang berdomisili luar seperti di Lelilef dan Weda itu kalau berobat di Sagea, akan dikembalikan ke tempat asalnya. Namun sebelum dikembalikan, PKM Sagea tetap memberikan penanganan.

Sementara penderita yang berdomisili di wilayah PKM Sagea yaitu, Desa Gemaf, Kiya, Sagea, Belitu, Wale dan tambahan satu desa persiapan, 90 persen pendatang yang ngekost karena bekerja di tambang.

Kasus pertama yang ditemukan di PKM Sagea itu berasal dari Karyawan IWIP. Banyak kasus di Sagea itu pekerja dan keluarga pekerja tambang. Dari total orang yang datang berobat di PKM Sagea, 80-85 persen pekerja dan keluarga pekerja tambang.

Di wilayah PKN Sagea, sejauh ini belum ada kasus campak yang sampai meninggal tapi, kemungkinan itu bisa terjadi jika sudah komplikasi ke penyakit lain. Karena itu, bila ada pasien yang datang berobat, khususnya para pekerja, langsung diberikan surat keterangan sakit. Tujuannya jangan bekerja dulu sampai benar-benar sembuh.

“Mereka juga diminta untuk isolasi diri agar tidak kontak dengan orang lain. Langkah yang dilakukan sebagai upaya pencegahan,” ujar dia.

Isolasi sangat penting supaya tidak menyebar ke orang lain terutama ke anak-anak. Karena, jika terserang ke anak dengan daya tahan tubuh rendah dan akan memperparah kesehatannya. Apalagi menyerang di area mata akan mengakibatkan kebutaan.

Dokter Spesialis Anak RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie, sekaligus anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malut, dr. Husen Albar mengatakan, risiko kebutaan dan kematian bisa saja terjadi jika, campak komplikasi dengan diare berat, radang paru-paru, radang otak dan infeksi selaput mata.

Biasanya, komplikasi dengan penyakit tersebut, apabila anak yang terserang campak mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Komplikasi ini menjadi lebih berat jika menyerang anak dengan gangguan gizi. “Infeksi selaput mata bisa menyebabkan kebutaan,” terangnya.

Campak ini virus sehingga proses penularan bisa berupa batuk, bersin-bersin, dan percikan ludah sehingga sangat cepat, terutama dari anak ke anak. Apalagi yang belum imunisasi, risiko terserang virus lebih tinggi. Orang dengan riwayat belum imunisasi juga biasanya campak berat karena komplikasi.

Gejala terserang campak yaitu, demam disertai batuk dan kadang disertai juga diare. Kemudian 3-4 hari baru muncul ruam atau bercak merah di belakang telinga, setelah itu menyerang wajah lalu turun ke seluruh badan.

Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak tapi juga orang dewasa. Hanya saja yang paling berbahaya menyerang anak-anak karena daya tahan tubuhnya masih rendah.

Langkah pencegahan yang harus dilakukan saat ini yaitu, harus menaikan cakupan imunisasi karena cakupan imunisasi rendah pada saat Covid-19 sehingga Malut sampai terjadi KLB campak. Imunisasi sebagai langkah proteksi agar anak-anak yang belum terkena kekebalannya naik. Kalau yang sudah terkena harus diobati, terutama yang terjadi komplikasi berat.

Kekebalan tubuh sewaktu-waktu bisa turun atau drop karena itu harus ada imunisasi lanjutan agar meningkatkan system kekebalan. Imunisasi ini ada imunisasi awal di usia 9 bulan, kemudian ada beberapa imunisasi lanjutan di usia sekolah. “Imunisasi ulangan ini yaitu imunisasi bosternya,” ucapnya.

Bagi yang sudah imunisasi juga, sambungnya, bisa terserang campak lagi tapi, tidak terjadi komplikasi berat kalau kondisi gizinya baik.

Berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS) Malut yang dihimpun Malut Post, jumlah penduduk di Halteng meningkat secara signifikan sejak tambang beroprasi. Belum lagi pemerintah Halteng pernah mewajibkan pekerja di Halteng harus ber-KTP Halteng.

Iming-iming derap kesejahteraan yang dijanjikan narasi oligarki membuat sebagian besar masyarakat pindah penduduk ke Halteng untuk bekerja sebagai buruh tambang. Walau kenyataannya, selama melintasi jalur Weda-Sagea dengan jalan terjal dan berkolek itu, terlihat banyak kosan dan rumah warga di samping jalan yang tak layak huni.

Wajah perkampungan yang kumuh tampak jelas menujukan terjadi ketimpangan di daerah yang produksi nikelnya terbesar di Malut itu.

Mereka yang datang dengan harapan hidup lebih baik justru mengalami sebaliknya. Begitu juga dengan mereka yang mendiami Halteng sejak dulu, ketika tambang masuk dengan harapan ekonomi bisa berubah, tapi banyak konsekuensi yang justru harus mereka terima salah satunya, penyakit masuk ke Halteng.

Jumlah penduduk di Halteng diproyeksikan sampai dengan tahun 2035 mencapai 76.568 jiwa, dari jumlah penduduk 56.630 jiwa pada tahun 2020.

Orang-orang yang datang ke Halteng, bukan hanya dari kabupaten/kota yang ada di Malut tapi, juga dari provinsi lain dan negara luar terutama dari Tiongkok. Jalan masuk ke Halteng selain  melalui pelabuhan Sofifi juga dapat melalui bandara milik PT Indonesia Wedabay Industrial Park  (IWIP). Eksodus pekerja yang besar-besaran, membuat  Halteng yang dulunya begitu sepi, kini menjadi sangat ramai.

Banyaknya pekerja tambang menyebabkan kemacetan sering terjadi di jalan utama Desa Lelilef tempat perusahan tambang beroperasi.  Karena itu, sebelum ke Lelilef, beberapa orang yang ditemui mengingatkan agar jangan berangkat di jam masuk dan pulang para pekerja karena akan terjebak macet.

Benar saja, walau melakukan perjalanan sudah di atas pukul 10.00 pagi, tapi kendaraan yang lalu-lalang sepanjang jalan pusat kota Halteng yaitu, Weda-Sagea masih tetap ramai, karena ada pekerja shift malam yang baru pulang. Begitu juga ketika kembali dari Sagea ke Weda pada sore nya, ada beberapa titik di Lelilef yang macet.

Di tengah tingginya mobilisasi orang ke Halteng, tidak ada pengawasan di pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan. Bandara IWIP yang menjadi pintu utama orang masuk, tidak ada pengawasan kesehatan dari tenaga kesehatan. Itu diakui Fifie Fani Polak, Kepala Kantor Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) Ternate.

Fifie mengatakan KKP sudah mengajukan permohonan ke Dinkes Halteng untuk melakukan pengawasan di pintu masuk orang ke Halteng seperti bandara dan pelabuhan. Namun, sampai sekarang belum disetujui. “KKP mau buka pos pengawasan tapi sampai sekarang surat yang dikirimkan belum dapat jawaban,” ungkapnya.

Pengoperasian tambang tidak berada dalam kawasan terisolasi tapi, berpaparan langsung dengan masyarakat karena itu, kata dia, harus diawasi Karantina. Namun, karena Halteng menjadi wilayah kerja Dinkes maka diajukan surat izin membuka posko pengawasan sebelum melakukan pengawasan.

Terkait jumlah orang yang masuk keluar bandara IWIP, Humas IWIP, Rizal Syam saat  dikonfirmasi melalui WhatsApp dan telepon belum memberikan keterangan. Dia beralasan  masih harus mengkonfirmasi lebih dulu ke departemen yang bertugas menangani bandara. Setelah itu baru akan memberikan penjelasan.

“Yang pasti bandara IWIP itu merupakan bandara khusus, soal berapa banyak yang keluar masih saya akan konfirmasi dulu ke departemen terkait,” ujarnya.

Meski begitu sejak surat yang dikirimkan Malut Post pada 13 Oktober sampai berita ini diterbitkan, pihak IWIP belum memberikan penjelasan.

===

CATATAN EDITOR

Berita ini merupakan hasil republikasi dari Malut Post pada tanggal 10 November 2023. Redaksi melakukan pengeditan yang tidak mengubah isi tulisan.

 

kali dilihat