* Hasan Aoni
Independen -- Pernahkah kita mendengar istilah guru "killer" atau guru yang "mematikan" waktu kita sekolah dulu? Istilah guru “killer” biasanya diberikan kepada guru yang galak atau yang ditakuti murid-murid.
Label "killer" atau tidaknya disematkan pada seorang guru tergantung pada cara guru tersebut membangun relasi dengan murid-murid. Makin enjoy relasi yang dibangun, makin jauh guru dicap "killer". Tetapi, makna "killer" juga dipengaruhi oleh penting tidaknya mata pelajaran yang diampu guru.
Guru "killer" rata-rata mengampu mata pelajaran dianggap sulit, seperti matematika, IPA (kimia, fisika). Atau mata pelajaran lain yang menentukan kenaikan kelas, seperti Bahasa Inggris.
Jika melihat itu, kadar ke-killer-an bisa jadi merupakan sifat yang melekat pada mata pelajaran itu sendiri karena terdapatnya beban rumus yang dikandung, kedisiplinan tinggi untuk memperhatikan, serta keterhubungan antara rumus satu dengan rumus selanjutnya.
Kesulitan murid-murid dalam memahami mata pelajaran itu, celakanya sering berjodoh dengan kesulitan guru dalam mengurai mata pelajaran itu kepada murid-muridnya. Jadi, pas lah seperti botol ketemu tutupnya. Ilmu yang bersifat pasti (exact) – yang sifat kepastiannya biasanya tak memberi banyak pilihan jawaban, atau jawaban yang tersedia hanya satu dan pasti – berubah menjadi ketidakpastian di kepala murid-murid. Sesuatu yang seharusnya lebih mudah justru berbalik rumit.
Seperti kesan Appu terhadap pelajaran matematika dan gurunya dalam film Nil Battey Sannata. "Sakit kepala dua kali aku mengikuti pelajaran ini,” kata Appu, tokoh anak dalam film ini ketika menghadapi gurunya yang "killer" dan mata pelajaran matematika yang memusingkannya. Bahkan dalam satu scene Appu sempat berdoa, “Ya Tuhan, selamatkan aku dari matematika”.
Film itu memang cukup apik menggambarkan situasi ketakutan murid mengikuti pelajaran matematika di kelas. Dengan guru yang tak menoleransi ketidakmampuan murid menyelesaikan soal-soal, dan uraian rumus yang rumit di papan tulis, membuat suasana kelas bagi murid yang tak menyukai matematika, serasa seperti neraka. Jika ada yang bisa menyelamatkan mereka dari suasana itu tak lain hanyalah bunyi bel tanda pelajaran berganti.
Seperti itulah potret kelas di sekolah-sekolah formal hari ini. Ruangan yang baru saja menebarkan tawa dan kegembiraan ketika pelajaran kesenian berlangsung, berubah muram ketika berganti matematika. Padahal di ruangan yang sama, murid yang sama, dan waktu yang relatif sama.
Apa yang salah dengan situasi seperti ini? “Di depan kelas guru gagal menjelaskan rumus matematika dengan mudah. Sifat kaku pelajaran eksakta berpindah ke dalam kekakuan gurunya,” kata seorang pengamat pendidikan.
Apa memang begitu? "Harusnya tidak. Saya bahkan masih memberi tutorial kepada murid-murid saya ketika ulangan matematika berlangsung. Saya beri sedikit stimulan cara pengerjaan yang benar, tanpa saya memberi tahu jawabannya,” kata M. Basuki Sugita, guru matematika SMP Keluarga, di Kudus.
Kepada murid yang pintar dia masih menengok proses pengerjaan sambil berpesan: "Lebih teliti lagi, ya,” katanya.
Ulangan menurut Basuki adalah latihan menerapkan rumus dalam soal, jadi perlu diciptakan suasana rileks supaya mereka mudah mengerjakan. Ulangan dan soal itu sendiri, kata guru matematika teladan itu, mengandung ketegangan. Jadi, guru jangan menambah ketegangan baru.
Dengan memberi stimulasi itu mungkin Basuki sedang ingin memanfaatkan golden momentum daya ingat murid terhadap rumus atau cara saat suasana genting seperti momen ulangan. Suasana-suasana tertentu dalam episode kehidupan memang bisa memberi kesan yang sangat dalam untuk diingat seseorang.
Guru, kata Edy Supratno, pegiat di Sekolah Omah Dongeng Marwah (ODM), sebaiknya tidak berpikir takut turun martabatnya dengan memilih cara mengajar yang lebih komunikatif dan demokratis. Risiko mengajar dengan metode ini biasanya menciptakan suasana kelas yang lebih "cerewet" karena banyaknya pertanyaan murid. "Kecerewetan" bukan wujud ketidakhormatan.
Kewibawaan guru dan penghormatan terhadap mata pelajaran di mata murid-murid, tidak ditentukan oleh seram tidaknya guru memaksa murid supaya patuh, tapi lebih karena pintarnya guru menciptakan suasana senang saat murid mengikuti pelajaran di kelas. Dengan cara ini, seharusnya hari ini sudah tak ada lagi guru "killer" di mata murid-murid.
*Hasan Aoni, Pegiat Dongeng