INDEPENDEN, Jakarta --- Sembilan perempuan berkebaya dan mengenakan caping bambu berkerumun di seberang Istana Presiden. Mereka berdiri mengeliling sebuah lesung jati sepanjang kira-kira dua meter. Tangan keriput sebagian perempuan itu masih cukup kuat mengangkat alu kayu setinggi tubuh mereka. Mengimbangi gerak perempuan lain, menghasilkan alunan musik lesung. “Lesung ini kami bawa dari kampung kemarin,” kata Giyem, ketika ditemui di depan Istana Presiden, Rabu (12/4).
Bukan tanpa alasan mereka mengusung lesung yang biasanya juga digunakan untuk menumbuk padi itu. Sembilan perempuan dari desa di Pegunungan Kendeng itu datang kembali ke Jakarta, bersama lesung dan alu, mengingatkan Presiden Joko Widodo bahwa daerah mereka ada area pertanian yang subur. Pertanian adalah penghidupan bagi masyarakat dan generasi penerus. “Bertani agar kita tidak menjadi pengimpor pangan,” kata Sukinah, salah satu orator aksi itu.
Karena itu mereka berharap Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) tidak memaksakan kawasan cekungan air tanah (CAT Watuputih) menjadi area tambang untuk menyuplai kebutuhan pabrik semen. “Kami meminta wakil rakyat dan pemerintah berbuat untuk Kendeng yang terancam pabrik semen,” kata Giyem.
Sementara itu, hasil KLHS untuk Kebijakan Pemenfaatan dan Pengelolaan Pegunungan Kendeng yang Berkelanjutan merekomendasikan penambangan di CAT Watuputih belum dapat dilakukan. Pengumuman rekomendasi itu disampaikan dalam pertemuan di Istana Presiden, Rabu sore. Rekomendasi ini akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah mengambil kebijakan.
Para petani menyampaikan, mereka akan tetap melakukan aksi hingga pemerintah mengambil kebijakan menghentikan penambangan di Pegunungan Kendeng. “Rekomendasi ini hasil ditaati pemerintah,” kata Asfinawati, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), salah satu lembaga yang mendampingi petani Kendeng memperjuangkan haknya. Iddaily mendokumentasikan aksi mereka, kemarin. Selengkapnya Petani Kendeng Melawan Pabrik Semen dengan Lesung.
.
Independen I Y. Hesthi Murthi