Media Bisa Raup Untung dari Monetisasi Konten di Platform Digital

Independen.id - Platform teknologi seperti Google, Meta dan TikTok makin membuka peluang bagi media untuk memonetisasi kontennya. Dalam Forum Platform Media: “Platform Tools for Media Sustainability” yang digelar Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital Untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB) dan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) pada Selasa, 3 Desember 2025 di Antara Heritage Center, Jakarta, setiap platform memaparkan bagaimana memonetisasi konten yang diproduksi media. 

Facebook Content Monetization. Mestinya cukup menarik untuk teman-teman media. Selama ini, monetisasi berdasarkan jumlah viewers. Tapi kali ini orisinalitas, engagement dari konten tersebut dan seberapa berkualitas konten yang dihasilkan,” kata Berni Moestafa, Kepala Kebijakan Publik Meta Indonesia dan Filipina dalam Forum Platform Media yang menjadi bagian dari Media Sustainability Forum 2025 “Memperkuat Daya Hidup Media Dalam Ekosistem Digital: Berdaya, Bertumbuh dan Berkelanjutan” yang digelar sampai 4 Desember 2025.

Meta meluncurkan Facebook Content Monetization pada Maret 2025. Dalam program ini, mereka benar-benar memilih content creator yang bisa masuk program ini. Mereka yang terpilih akan mendapat performance bonus yang bisa menjadi peluang penghasilan tambahan bagi media.  “Karena yang kita mau kembangkan di sini adalah konten yang original. Kalau hanya kejar viewer, bisa ambil konten orang lain”, ujar Berni. 

Meta, jelas Berni, ingin mendorong pengguna menghasilkan konten yang berkualitas. “Kemudian engagement positif dalam arti konten banyak di like, di komen yang positif dan dishare. Untuk masuk ke program ini harus di invite. Kalau sudah bisa monetize konten kalian”. 

Ada tips bagi media yang belum pernah kerjasama dengan Meta. “Mulai dengan monetisasi kontennya. Jadi buat konten yang bagus, supaya viewer meningkat. Atau bisa ajukan proposal ke kami, akan kami pertimbangkan,” tutur Berni. 

Meta juga menawarkan bagi media yang ingin memanfaatkan Instagram Channel, Whatsapp Channel dan Threads untuk menampilkan update, mempromosikan konten untuk mendorong engagement ke landing page media (website). 

Tawaran yang sama juga diberikan oleh TikTok. “Di TikTok semua elemen itu penting. Foto, video, caption itu penting. Ini membantu growing content-content teman-teman semua”, kata Emil Gaffar Head of SEA Publishers TikTok.                          

Platform media tidak membedakan peluang monetisasi antara media massa maupun content creator. Teman-teman media, bisa mempelajari sendiri peluang monetisasi yang ditawarkan TikTok di laman Monetization Opportunities on TikTok.

 

“Harus perhatikan juga soal elemen visual, video yang menarik, editing, karena ini membuat 34 persen orang menonton lebih lama”, tambah Emil. Jadi di sini, media didorong untuk lebih kreatif.

“Semakin banyak upload video setiap harinya, semakin Anda reach audience baru, memperbesar peluang. Jadi mulai saja dengan foto yang kalian punya, atau video yang penting mulai dulu, perbanyak quantity dulu,” kata Emil yang membagikan tips bagi media pemula yang belum berpartner dengan TikTok. 

Adapun Yos Kusuma News Partner Manager Google Asia Pacific menyatakan hingga saat ini, belum ada pendapatan langsung yang didapat dari konten media yang  digunakan untuk membangun konten berbasis kecerdasan buatan di platform Google. “AI direct revenue belum ada. Kami masih kembangkan. AI lebih ke productivity tools”, kata Yos. 

Ia mendorong jurnalis dan teman-teman di media memanfaatkan AI tools yang dikembangkan Google di laman  Google Tools for News Publishers. Belajar dari media di Filipina, menurut Yos, mereka bisa menghemat waktu kerja yang semula 14 hari kerja menjadi hanya 20 menit misalnya dengan menggunakan AI Studio. Yos menawarkan pelatihan bagi jurnalis atau media yang ingin memanfaatkan Google Tools untuk menambah cuan media. 

“Silakan teman-teman koordinasi dengan asosiasinya. Karena asosiasi menjembatani dengan Dewan Pers. Ke depan kami akan lebih dalam lagi kerjasamanya dengan asosiasi, Dewan Pers untuk menyelenggarakan pelatihan yang cocok dengan Indonesia”, kata Yos.

Google juga membuka peluang bagi media baru, yang masih bertumbuh untuk memanfaatkan Program Global News Gap dengan mendaftarkan diri ke https://rsvp.withgoogle.com/events/global-news-gaps-project.

Bagi yang belum tahu bagaimana cara berpartner dengan Google, Yos mendorong media untuk berlangganan newsletter agar tetap terhubung dengan event ataupun pelatihan Google untuk media. 

Setiap platform teknologi menyediakan fitur untuk pembuat konten mengenal lebih baik para audiencenya. Kenali audience, pelajari cara mereka mengkonsumsi media, dan terus kreatif untuk berinovasi mengembangkan konten.

Media kini dituntut makin inovatif mencari sumber cuan baru di era ekosistem digital. Tentu tetap memperhatikan etika, demi mempertahankan jurnalisme berkualitas. 

 

kali dilihat