Eko Sulistyanto*
Eko Sulistyanto, satu dari jutaan orang yang punya jadwal liburan akhir tahun. Liburan ke pantai atau pusat kota sudah terlalu mainstream. Eko memilih untuk liburan ke pedalaman Suku Baduy bersama isteri dan dua anaknya yang masih kecil. Berikut jejak cerita yang telah diunggah dalam akun Facebook pribadinya.
Orang-orang Rangkas
Rabu, 28 Desember 2016, kereta kami berhenti sementara di Rangkas Bitung. Kami turun dan membiarkan itu kereta kembali melanjutkan perjalanan ke Merak. Ini stasiun kecil dan tua. Tiang-tiangnya besi kokoh artistik khas selera Belanda. Belum terjamah KRL. Konon akan diset jadi pemberhentian kereta listrik

Almarhum Rendra pernah menulis sajak Orang-orang Rangkas Bitung. Entah apa yang mengilhaminya.
"Dahulu rakyat Rangkas Bitung tidak mempunyai hak hukum apabila berhadapan dengan kepentingan bupati Lebak. Sekarang, apakah rakyat kecil sudah mempunyai hak hukum bila berhadapan dengan bupati-bupati masa kini?"
Lebak, Kayu dan Aspal
10.00. Gerimis reda dan kami segera keluar dari stasiun kereta Rangkas Bitung. Beli nasi dibungkus lalu jalan kaki menyusuri jalan jenes dan pasar mungil dengan lapak-lapak pisang. Di sana ada mobil menunggu siap bawa kami menuju ke terminal Ciboleger, titik awal petualangan ke Kampung Baduy.
"Biasanya kami bawa naik Elf. Angkutan umum. Karena ada anak-anak, saya sewa Ertiga. Naik mobil sekitar 2 setengah jam, " ujar si pemandu, Zhahir.

Mobil melaju di tengah kota melewati kantor bupati Lebak yang bening lalu keluar meluncur menembus perkampungan sawah dan pedesaan. "Ini rasanya mirip Jogja. Mirip Mbantul," anak saya.
Jalan aspal meliuk-liuk. Sesekali turun curam dan menanjak tajam. Saya tertarik pada sentra-sentra penggergajian kayu di pinggir jalan. Woo.. rupanya Kabupaten Lebak itu pemasok kayu sengon. Pohon ini tumbuh cepat bisa dijual secara kilat.
Apesnya, aspal tak selalu mulus. Belok kiri kanan turun naik dan aspal remuk adalah oplosan cespleng. Tumben pusing kepala saya naik mobil.
Di tengah jalan isteri saya minta berhenti mau muntah. Namun justru anak saya yang akhirnya keok. Nasi tumpah dari mulutnya. Padahal baru saja dia makan.
"Aspal rusak berat. Korupsinya pasti top," ketus saya.
Luar-Dalam
Turun dari mobil kami disambut serombongan pria Baduy Dalam. Mereka yang akan temani kami selama perjalanan nanti. Seragamnya khas. Ikat kepala putih, baju dan rok berbahan kain kasar yang dijahit tangan, nyangklong tas kain, golok di pinggang. Kaki nyeker alias tanpa alas.
Tubuh ramping-ramping berotot dengan betis kekar. Pantaslah, ke mana-mana jalan kaki. Haram naik kendaraan.
Barang siapa yang menabrak aturan ini, mereka akan diusir dari Baduy Dalam. Perlu 40 hari untuk cuci dosa agar jiwanya kembali bersih dan diterima. Dan ingat, sistem budaya Baduy punya aplikasi yang mampu mendeteksi apabila ada pelanggaran. Memenuhi aturan adat ini, ke Jakarta pun mereka harus jalan kaki dua hari dua malam. Edanlah!
"Ternyata sakit ya jalan di aspal," komen mereka. Saya tertawa.

Jalan kaki nyeker di medan berbatu dan berlumpur santai, ngeluhnya di jalan aspal. Dunia memang gitu ya.
Eh, di sebelah sana saya lihat ada si pria Baduy yang tempo hari pernah bertemu di Senayan sedang jualan madu. Celananya pendek dengan ikat kepala gelap. Ikat kepala warna gelap nenandakan dia warga Baduy Luar. Gaya hidupnya lebih santai.
Tata tertib di Baduy Luar tidak sekeras dan seketat Baduy Dalam. Silakan naik motor, punya televii, radio dan main ponsel pintar. Pakain lebih bebas.
Tapi aturan umum tetap sama. Salah satunya tidak boleh bersekolah. Kaum Baduy punya sistem pendidikan sendiri. Mirip bule dalam film-film petualangan yang membawa seluruh anggota keluarga ke Afrika dan Asia.
Mereka didik generasi muda untuk berladang dan menyerap pelajaran hidup langsung dari alam. Setiap hari. Namun, ada juga sih beberapa generasi muda yg ikut program belajar baca. Tapi ini hanya terjadi di Baduy Luar. Dalam? No way!
Sandal dan Krucils
Tumben, kali ini istri mau dengar kata saya. Saya bilang pakai sandal. Tak perlu sepatu. Ini ke Baduy, bukan mau jogging di Senayan. Apalagi musim hujan.
Dengan mulut lancip bersudut 45 derajat, akhirnya dia setuju melepas sepatu. Tadinya dia terprovokasi seseorang berinisial LMA yang pernah ke sana. Sepatu disarankan, katanya.
Beberapa hari sebelumnya, saya juga meyakinkan Zhahir, si pemandu. Saya dapat namanya di internet. Biasa bawa travelers ke Kampung Baduy. Dia ragu kalau saya ajak anak. Jalan kaki bisa berjam-jam dengan medan yang tak ramah.
"Saya belum pernah bawa anak-anak," katanya.

Namun akhirnya dia setuju setelah saya jelaskan bahwa duo krucils kami ini sejak bayi asupan dan makanannya jalan kaki. Bukan yang lain. Saya jamin tak ada masalah dengan mereka. Justru saya mengkhawatirkan istri saya. Potongannya bukan ala Ryani Djangkaru. Lebih cocok jadi pemandu sorak. Dia terpaksa ikut atas perintah anak-anaknya.
Zhahir hanya berpesan supaya kami tidak lupa bawa bekal perjalanan. Obat-obatan, cemilan, minum, senter, pakaian ganti, seliter beras dan sayur asem mentah untuk masing-masing peserta.
Setelah barang-barang itu masuk ransel, ternyata berat juga. Lumayan tidak ketambahan sabun mandi odol dan aneka produk perawatan tubuh. Semua benda ini dilarang masuk ke Baduy Dalam.
Pemandu juga wanti-wanti agar kami siapkan kamera dan hape buat motret. Sayang bila kelewatan. Hanya saja dia kasih catatan. "Motret hanya di Baduy Luar. Dalam nggak boleh," pesannya. Padahal, yang di Dalam itu yang ada surge.
Huma
Santai saja kaki saya nginjak alang-alang. Benci sekali saya dengan tanaman ini. Tapi sejujurnya dia teladan yang baik. Daya tahan hidupnya luar biasa. Tak mempan dibabat dibakar disemprot kimia. Tetap saja dia ngeyel tumbuh dan beranak pinak. Lihat tubuhnya.
"Eh maaf. Itu jangan diinjak. Itu tanaman padi, " ujar pemandu mengingatkan saya.
Saya terperanjat dan buru-buru kembali ke jalan. Kaki berjungkit supaya tidak menginjak lagi. Yang saya kira alang-alang ternyata padi. Padi Huma namanya. Khas Baduy.
Menurut cerita sih hanya tumbuh baik di tanah yang miskin air. Di persawahan yang mirip kolam ikan, justru dia ogah tumbuh. Pantas saja, sepanjang perjalanan tebing-tebing ditumbuhi padi huma. Macam rumput liar saja. Tak perlu perawatan spesial. Tidak rewel sebagaimana padi air.
Saya pernah dengar adanya padi yang tahan nggak minum air. Tapi baru kali ini bisa melihat dan mencium aroma daun batangnya.
Hari-hari ini ladang-ladang di Kampung Baduy sedang berwarna hijau. Isinya padi remaja yang siap berbuah. Ingin sekali menyaksikan masa panen.
Lumbung Padi
Setelah terseok-seok selama 3 jam, kami mulai mencium aroma kampung Baduy Dalam. Dari jarak seratusan meter, di balik rerimbunan pohon, rumah-rumah tua mungil seperti menyambut kami.
Eh, itu bukan rumah, bos. Tapi sekumpulan lumbung padi. Mengelompok seperti sepasukan kerbau. Disainnya bikin jidat mengkerut. Perpaduan tiang kayu, gedek bambu, atap daun sagu. Artistik sekali. Wajahnya sepuh. Konon ada yang berusia seratusan tahun, tapi tetap berdiri gagah. Masing-masing penuh padi.

Tiap rumah punya satu lumbung. Di sebelah sana beberapa pria tua sedang membuat satu lumbung. Tangannya sibuk memasang balungan kayu. Jangan pandang remeh soal teknik bangunan. Dengan cerdik mereka memanfaatkan kearifan lokal.
Cukup dengan memasang semacam baut kayu bulat lebar di tiap kaki lumbung untuk menghadang tikus naik. Hanya tikus yang punya kesaktian ala Dimas Kanjeng yang sanggup melompat dan membobol padi. Rayap pun dibuat bertekuk lutut. Semua kaki lumbung diganjal batu.
Puas menikmati lumbung padi, kami kembali mengayun kaki melewati sejumlah rumah panggung dengan disain seragam. Suasana hening seperti kuburan. Tiap siang semua warga Baduy Dalam memang pergi meladang. Bisa berhari-hari. Tua, muda, bayi dan anak-anak semua diangkut. Rumah ditinggal begitu saja.
Tak berapa lama, kami menuruni jalan berbatu super licin. Mas Zhahir si pemandu sempat terjerembab. Lalu samar-samar, terdengarlah suara air sungai. Keluar dari rerimbunan bambu dan pepohonan, mata kami menubruk pemandangan sedap: rumah-rumah panggung warga Baduy Dalam.
Areanya kira-kira satu setengah kali lapangan bola. Bersih dan hening. Ada suara bocah. Dari dalam rumah pria Baduy yang mengawal kami, mereka melongok menyambut.
Jaman Batu
Kampung Baduy Dalam yang kami kunjungi ini bernama Cibeo. Ini puak terbesar di antara 60 puak Baduy Dalam. Isinya sekitar 95 rumah. Lokasinya di lembah yang dijepit bukit terjal di kanan kiri.
Sungai bening deras berbatu selebar 7 meteran mengular melewati belakang rumah-rumah. Ini sungai vital. Urat nadi warga Cibeo. Di situ mereka mandi cuci kakus.
Di situ pula mereka ambil air buat masak dan minum. Tak ada sumur. Meski begitu, saat masuk kerongkongan, kesegarannya mengalahkan air mineral kemasan. Mata air juga banyak. Sebagian dialirkan dengan bambu ke bak penampungan dari pohon besar untuk mandi turis. Air melimpah.
Rumah-rumah Bady Dalam berdempetan. Mirip kawasan kumuh di perkotaan. Bedanya, yang ini asri, artistik, kinclong. Rumah-rumah dipisahkan lorong atau jalan berbatu mulus. Batu kali. Tak mudah menemukan sampah di sini.
Halaman dan kanan kiri rumah bebas sampah. Tumpukan kayu bakar tertata rapi di kolong rumah. Tiap rumah dipastikan punya bak sampah dari bambu utuh yang ujungnya dibelah lalu dianyam. Mirip bambu untuk metik buah. Tapi yang ini ukurannya jumbo.

"Rasanya mirip di film Moana," komen anak saya menggambarkan sensasi Cibeo.
Malam itu kami menginap di rumah Kang Sanip. Dia adalah salah satu pria Baduy Dalam yang mengawal perjalanan kami. Rumahya berukuran 7 x 7 meter. Paduan kayu, bambu, beratap blarak pohon sagu. Lantainya bilah bambu dan tikar pandan.
Tak ada meja kursi. Semua lesehan. Rumah sebesar ini dibelah tiga. Satu ruang utama, satu dapur, dan secuil ruang ganti pakaian. Kami dapat bagian ruang utama. Tuan rumah ambil ruang dapur multi fungsi.
"Aku betah banget di sini," ujar anakku.
Kang Sanip sudah beristri. Anaknya dua perempuan. Semua masih balita. Mereka mengenakan kebaya dan jarit yang dijahit tangan. Gelang dan kalung etnik melingkar di pergelangan tangan dan leher.
Saya segera buka tas menyerahkan beras dan bahan sayur asem. Itulah menu santap malam dan sarapan kami besok. Saya juga membagi roti pada anak-anak dan ayam yang tiba-tiba merubung menyambut kedatagan kami. Sedang istri Kang Sanip segera beres-beres menyalakan tungku kayu bakar untuk memasak. Kami sejenak tergolek melepas penat. Sampai akhirnya terlelap.
Sore itu kami tak berani mandi. Udaranya terlalu dingin. Jam enam petang langit mulai gelap. Lalu gelap sekali. Juga sunyi. Sunyi sekali. Kang Sanip menyalakan lampu berbahan bakar minyak goreng. Apinya imut kelap-kelip tenang. Syahdu.
Saya menyalakan sebatang lilin biar sedikit lebih terang. Gelap gulita di luar, lampu temaram di dalam rumah, sesekali terdengar percakapan dan cekikikan anak-anak dari rumah sebelah. Tak ada gemerisik suara mesin, sinetron alay, atau dering telepon. Hening yang sempurna. Hanya orong-orong yang lantang mengisi malam dengan dengung yang membosankan. (Bersambung)

*Mantan Jurnalis yang kini bekerja untuk Japan International Cooperation Agency (JICA). Punya hobi keluyuran dan blusukan serta merawat bunga.