Independen -- Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental. Hari itu semestinya jadi momentum bagi seluruh warga dunia untuk mulai peduli terhadap kesehatan mentalnya, tak terkecuali jurnalis. Apalagi, profesi ini rentan mengalami gangguan mental, bahkan sebelum pandemi Covid-19.
Pada 2019, CareerCast.com –situs yang menyajikan informasi tentang peluang karir dan peringkat pekerjaan- merilis 10 pekerjaan yang paling membuat stres. Jurnalis salah satu di antaranya, dengan skor stres sebesar 49,96.
Menurut Kazi Huda, seorang peneliti Bangladesh, pemicu stres yang paling signifikan pada jurnalis adalah tekanan keluarga dan kompensasi yang tidak memadai. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data kuantitatif yang dikumpulkan melalui wawancara pribadi dengan 50 jurnalis dari berbagai surat kabar Bangladesh. Huda melakukan penelitian yang menggambarkan hubungan antara stres kerja dan pemicunya.
Sementara, Marcie A. Cavanaugh, dalam risetnya "An Empirical Examination of Self-Reported Work Stres Among U.S. Managers", menyebutkan, sumber potensi stres bisa muncul dari lingkungan, organisasi atau tempat kerja, dan faktor pribadi. Ketidakpastian lingkungan kerja dan situasi yang dihadapi, tekanan bekerja tanpa kesalahan, mengerjakan tugas dengan tenggat waktu yang ketat, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan, bisa memicu stres. Selain itu, faktor pribadi, seperti keluarga, ekonomi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang, pun menjadi stresor yang kuat.
Semua faktor pemicu stres tersebut dihadapi jurnalis. Dan di masa pandemi Covid-19, kondisinya bisa lebih buruk lagi.
Tekanan mental jurnalis di masa pandemi
Yudha Maulana merasakan kecemasan yang sangat kuat hingga dadanya terasa sesak. Tugasnya masih menumpuk, tapi waktu dirasa cepat berlalu. Sebagai seorang jurnalis media daring, ia dituntut cepat dan tepat dalam menulis berita.
Memikirkan pekerjaannya membuat dadanya kembali sesak. Serasa ada sesuatu menggelembung dalam dadanya yang semakin membesar, menyesakkan, dan menunggu meledak. Yudha lalu meraih bantal, membekap mulutnya dengan benda itu, kemudian berteriak sekuatnya.
“(Cara itu membuat) stres agak reda, tapi yang datang kemudian itu rasa menyesal. Tapi itu cara terbaik, yang gak nyakitin orang lain,” ungkap Yudha melalui aplikasi percakapan, Jumat (22/10/2021).
Sebelumnya, Yudha mengaku lepas kontrol dan meluapkan emosi dengan memarahi anak-anaknya. Padahal masalahnya terbilang sepele. Kondisi itu terjadi ketika kebijakan bekerja di rumah diberlakukan.
“Kadang, saat editor di kantor minta berita ini-itu untuk diselesaikan segera, tapi anak-anak mendatangi saya untuk mengajak bermain, itu yang membuat saya cukup kesulitan. Saya cenderung menjadi pribadi yang emosional saat itu dengan memarahi anak-anak, walau akhirnya saya merenung bahwa apa yang saya lakukan itu salah,” ujar bapak tiga orang anak itu.
Pandemi juga mendorong Yudha untuk terus memantau informasi, baik dari grup percakapan atau berita-berita yang muncul di telepon selularnya. Jadinya, ia banyak menyerap informasi yang berseliweran di dunia maya. Lama kelamaan, Yudha sering merasa paranoid, kuatir ada isu atau kejadian yang luput dari pantauannya sehingga ia tertinggal dari jurnalis media lain.
Sebelum pandemi, laki-laki 30 tahun itu pernah merasakan kondisi serupa, tapi di masa pandemi frekuensinya menjadi lebih sering.
“Sampai-sampai ketika tertidur pun, saya melihat imaji yang muncul dalam mimpi saya sebagai suatu bahan liputan. Dalam tidur pun rasanya jantung saya berdegup kencang, pikiran saya mulai meloncat-loncat kira-kira mencari angle apa yang bagus. Saya juga sering kecewa bila ada sesuatu yang menarik, tapi terlewatkan untuk diliput. Padahal itu cuma di mimpi.”
“Bangun tidur pun rasanya pikiran ini lelah sekali,” tutur Yudha.
Tekanan pekerjaan juga dialami Dianto, seorang jurnalis yang minta namanya disamarkan. Jika pandemi membuat sektor pekerjaan lain menurun produktivitas dan targetnya, tapi bagi Dianto justru target pekerjaannya menjadi bertambah. Dari yang tadinya lima berita, menjadi 10 berita per hari. Sementara, dia dalam kondisi bekerja di rumah, di mana informasi dan sumber berita hanya didapatkan secara daring. Berbeda saat sebelum pandemi, jurnalis bisa mendapatkan informasi yang lebih kaya dengan merasakan langsung dinamika di lapangan.
Bekerja di rumah memberikan tekanan tersendiri bagi Dianto.
“Tekanan yang begitu tinggi ini membuat perubahan ritme kerja yang cukup signifikan. Saat ini, jam kerja tak lagi terbatas waktu. Kerja bisa dari pagi, sore atau bahkan hingga malam. Kapan pun. Mungkin ini imbas dari paradigma bekerja dari rumah saat PPKM (pembatasan pergerakan kegiatan masyarakat). Kondisi PPKM juga membuat kesuntukan kerja bertambah, lantaran lebih banyak di rumah.”
“Pekerjaan yang lebih banyak dilakukan secara daring, justru ini lebih banyak menguras pikiran. Karena daya kritis kita harus dikuras lebih dalam untuk mengolah isu menarik,” beber pria yang telah dikaruniai tiga orang anak ini.
Apa yang dialami Dianto, dirasakan pula oleh Dini Budiman. Situasi yang dialami Dini bahkan lebih berat terkait fungsinya sebagai ibu tiga anak. Dia harus membagi waktu dan perhatiannya antara tugas domestik dan profesi. Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga menambah beban hariannya.
Bekerja di rumah membuatnya kehilangan momen me time. Bagi Dini, bekerja sebagai jurnalis adalah kesempatan untuk melampiaskan kesenangannya bertemu dengan banyak orang, termasuk rekan sesama jurnalis, dan momen menyalurkan kepribadian esktrovertnya. Namun pandemi, mencabut kesempatan itu.
“Aku menamakan liputan lapangan itu me time. karena sejenak jeda dari stres di rumah, ketemu teman-teman, meskipun judulnya kerja tapi kan kita ada waktu sejenak menjauh dulu dari rutinitas. kalau di rumah kan harus terus dihadapi ketika kita misalnya mood-nya turun, kita harus tetap stay di rumah, gak bisa kita mau lari ke mana, kan PPKM, misalnya. Kadang-kadang bingung mau menenangkan diri di mana yah,” kata Dini, saat bertemu di kawasan Bandung Barat, awal September lalu.
Akhirnya, pada suatu waktu, Dini mencoba liputan ke lapangan. Meski sudah melakukan protokol kesehatan, tapi perempuan berusia 37 tahun ini terpapar Covid-19. Dini berhasil sembuh, tapi pengalamannya terinfeksi virus corona membuatnya semakin membatasi diri.
Warga Rancaekek Kabupaten Bandung ini menyimpulkan pandemi adalah sebuah kondisi yang tidak ada pilihan. Keluar rumah berisiko tertular Covid-19, sementara tetap di rumah berhadapan dengan kondisi yang membuatnya tertekan secara mental. Dini mengaku, beberapa kali dia mengalami gangguan kecemasan.
“Selama pandemi aku mengalami anxiety disorder, jantung berdebar, kaki lemas, dingin,” sebutnya.
Jika Dini bisa memilih bekerja di rumah, Syarifah Vidaa Fatimah tidak memiliki pilihan itu. Tugasnya sebagai jurnalis di sebuah stasiun TV nasional mengharuskannya berada di lapangan untuk melaporkan langsung di lokasi kejadian.
Di saat orang lain berada di rumah karena kuatir tertular virus corona, Vidaa, nama panggilan perempuan 24 tahun itu, justru harus keluar rumah di tengah ketakutannya terpapar SAR C0V2. Sedikit banyak hal itu mempengaruhi kondisi psikologisnya.
“Di awal-awal (pandemi), saat penelitian tentang virus ini belum banyak, terus banyaknya hoaks yang tersebar tentang betapa bahayanya virus ini, sedangkan kita mesti keluar justru untuk mencari informasi tentang virus ini, itu mah kena ke mentalku. Kayak ya ampun, sedih, juga khawatir sama orang rumah. Aku mobilitasnya tinggi, ada kekhawatiran jadi carrier virus. Sempat ada masa-masa penyakit itu cuma sugesti. Psikosomatis sering banget aku kena itu. Gak enak tenggorokan sedikit, khawatir kena Covid, kayak mempengaruhi banget,” papar perempuan 24 tahun ini.
Psikomatis kerap dirasakan Vidaa terlebih lagi jika ada rekan jurnalis yang terpapar Covid-19. Apalagi, jika dia sempat kontak dengan jurnalis tersebut.
“Setiap ada yang kena apalagi jurnalis, itu khawatir. Kita dengan mobilitas yang tinggi, tetap harus kerja di lapangan, ketemu sama banyak orang dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lain, jadi lebih sering deg-degannya. Tiba-tiba si ini kena, Ya Allah, gimana nih kemarin baru ketemu. Itu setiap ada yang kena, pasti aku khawatir dan kena psikosomatis,” kata Vidaa.
Jurnalis banyak mengalami depresi
Tekanan mental selama pandemi rupanya tidak hanya dialami empat jurnalis di atas. Berdasarkan hasil survei persepsi diri wartawan saat pandemi COVID-19 yang dilakukan Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran mengungkapkan 45,92% jurnalis mengalami gejala depresi. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding tenaga kesehatan –garda terdepan dalam penanganan Covid-19- yang hanya 28%.
Survei yang dilakukan pada periode 2-10 April terhadap 98 jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia ini juga menunjukkan sebanyak 57,14% jurnalis mengalami kejenuhan umum atau dikenal dengan istilah burnout. Sementara itu, jurnalis yang tetap keluar rumah untuk meliput berita lebih banyak mengalami gejala depresi dan berpeluang 1,65 kali mengalami depresi dibandingkan jurnalis yang tidak keluar rumah untuk meliput berita.
Di sisi lain, jurnalis yang tidak keluar rumah untuk meliput berita lebih banyak mengalami kejenuhan dan memiliki peluang 2,58 kali mengalami kejenuhan dibandingkan yang keluar rumah untuk meliput berita.
Hasil yang lebih rinci lagi diungkapkan riset Deteksi Dini dan Need Assessment pada jurnalis di Kota Bandung di masa pandemi Covid-19 yang dilakukan Ruang Empati didukung oleh Citradaya Nita, PPMN 2021.
Riset yang dilakukan selama bulan September 2021, melibatkan 48 orang jurnalis perempuan dan 75 orang jurnalis laki-laki. Hasilnya, sejumlah jurnalis baik perempuan, maupun laki-laki mengalami stres, depresi, dan kecemasan dengan tingkat yang berbeda-beda, mulai dari sedang hingga sangat berat.

keterangan: Hasil riset gangguan mental emosional, stres pada jurnalis
Jika dirinci; stres tingkat sedang dialami 17 % perempuan, 11% laki-laki. Stres berat 8% perempuan, 3% laki-laki. Stres sangat berat 2% perempuan, 0% laki-laiki. Sedangkan depresi sedang dialami 21% perempuan, 8% laki-laki. Depresi berat, 6% perempuan, 1% laki-laki. Depresi sangat berat, 4% perempuan, 1% laki-laki. Sedangkan gangguan kecemasan, tingkat sedang dialami 27% perempuan, 28% laki-laki. Berat, 4% perempuan, 5% laki-laki. Sangat berat, 27% perempuan, 5% laki-laki.

keterangan: Hasil riset gangguan mental emosional, depresi pada jurnalis

keterangan: hasil riset gangguan mental emosional, cemas pada jurnalis
Dari sekian banyak responden, beberapa di antaranya memerlukan tindakan lebih lanjut, yakni bantuan psikologis dari psikolog klinis ataupun psikiater. Untuk kondisi stres, perempuan 13 orang, laki-laki 10 orang. Depresi, perempuan 15 orang, laki-laki 8 orang. Cemas, perempuan 28 orang, laki-laki 29 orang.
Pun, ada sejumlah responden yang kondisinya kejiwaannya cukup parah sehingga memerlukan intervensi segera sebanyak 17 orang perempuan, 13 orang laki-laki.
Menurut psikiater, dr. Elvine Gunawan, SpKJ, gangguan mental yang dialami jurnalis, bisa saja terjadi sebelum pandemi dan memburuk ketika pandemi.
“Kita harus melihat jurnalisnya ini dalam kondisi sehat atau enggak. Jangan-jangan selama ini sudah di ambang batas, pas dikasih pandemi jatuh.”
“Pandemi ini menjadi parah karena ada konteks sosialnya. Kayaknya sebelum dan sesudah pandemi angka (gangguan mentalnya) tetap tinggi. Artinya, sebelum pandemi angkanya tinggi berarti tidak ada intervensi yang tepat atau belum ada intervensi yang cocok. Sekarang dengan load pekerjaan yang lebih banyak sehingga tambah stres lagi. Apakah kita perlu berpikir intervensi khusus buat jurnalis karena memang lapangan pekerjaannya membawa stresor tersendiri. Ini kayak berangkat perang, kita gak tahu di sana dapat kekerasan atau enggak. Meliputnya di area seperti apa. Kalau dikirim ke daerah demo terus mungkin stres, kalau disuruh meliput ke daerah paparan Covid-nya tinggi tanpa dilengkapi APD (alat perlindung diri) yang jelas, stres kan. Apalagi ada anak-anak, jangan-jangan saya nularin, tambah stres lagi,” papar Elvine yang ditemui di Klinik Surya Medika, Jalan Jatayu, Kota Bandung, pertengahan September 2021.

keterangan: dr. Elvine Gunawan, SpKJ, Co-Founder Ruang Empati dan peneliti riset Deteksi Dini dan Need Assessement Jurnalis Kota Bandung di Masa Pandemi Covid-19
Riset tersebut juga menggali gejala gangguan mental yang dialami responden. Seperti, berharap tidur dan tidak terbangun dialami oleh 8 perempuan dan 5 laki-laki. Ide mengakhiri hidup dipikirkan oleh 7 perempuan dan 2 laki-laki. Sebanyak 2 perempuan dan 1 laki-laki pernah melakukan tindakan mengakhiri hidup. Sedangkan tindakan menyakiti diri pernah dilakukan oleh 2 perempuan dan 1 laki-laki. diri. Sementara, 8 perempuan dan 2 laki-laki mengalami putus asa dan tidak ada harapan. Lalu, 16 perempuan dan 7 laki-laki merasa tidak berharga dan hampa.
Riset ini juga mencatat 3 jurnalis perempuan dan 2 laki-laki mengalami physical abuse saat bekerja, 11 perempuan dan 7 laki-laki mengalami emotional abuse, serta 3 perempuan dan 3 laki-laki mengalami sexual abuse saat bekerja.
“Stresor pekerjaan merupakan salah satu isu yang menjadi faktor risiko terbesar pada kelompok pekerja. Jurnalis merupakan profesi yang rentan karena memiliki pola, target, medan kerja yang memiliki intensitas dan frekuensi tinggi terhadap stresor. Hingga hari ini kesehatan jiwa pada jurnalis masih menjadi isu yang belum banyak diperhatikan karena stigma dan rasionalisasi keadaan.” Demikian dikutip dari laporan riset tersebut.
Perusahaan media harus bertindak
“Perusahaan media harus bertanggung jawab terhadap kesehatan mental jurnalisnya,” kata Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Iqbal Tawakal Lazuardi merespon hasil riset tersebut. Menurutnya, AJI di skala nasional sudah sering mendorong perusahaan media agar lebih peduli terhadap kesehatan mental jurnalisnya.
Iqbal mengusulkan setiap perusahaan media memiliki unit konseling bagi jurnalisnya. Jika belum ada, setidaknya perusahaan media bisa memulai dengan mengurangi target berita harian. Iqbal mewanti-wanti perusahaan media menyediakan APD yang memadai demi keselamatan jurnalisnya saat bertugas.
“Perusahaan media harus membuat kebijakan atau sebuah standar yang bisa meminimalkan dampak terhadap kesehatan mental jurnalis, apalagi dengan kondisi pandemi yang tidak pasti ini,” ujar Iqbal.
Membuka unit konseling kesehatan mental telah dilakukan IDN Times sejak Mei 2021. Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis menyebutkan, unit itu dibuka setelah melihat banyak personilnya yang mengalami gangguan mental akibat pandemi Covid-19.
“Memang teman-teman saya mengalami (gejala) berkaitan dengan kesehatan mental, mulai dari yang muntah-muntah karena setiap hari harus menulis tentang Covid dan kematian, sampai mimpi buruk. Ada yang curhat ke saya sampai 1,5 jam gak mau lagi nulis tentang Covid, padahal repoternya cuma dia doang. Sampai pada akhirnya karena kami saat itu belum punya mental health conselour, akhirnya saya cariin network untuk konseling kejiwaan. Intinya, dari awal karena situasinya seperti itu, saya termasuk yang mengusulkan kepada manajemen supaya ada mental health conselour,” ungkap perempuan yang telah aktif sebagai jurnalis sejak 1989 ini.
Namun, Uni mengakui, tidak mudah menyakinkan manajemen untuk membuka unit konseling kesehatan mental. Pasalnya, sakit mental memang tidak senyata sakit fisik.
“Tidak semua orang bisa langsung merasakan bahwa kesehatan mental itu penting,” sebutnya.
Tapi kenyataannya, sejak dibuka konseling kesehatan mental, sesi konseling selalu penuh, baik sesi konseling pribadi, maupun sesi terapi grup. Ini menandakan, lanjut Uni, kepedulian kru IDN Times terhadap kesehatan mentalnya sudah tumbuh.
“Sekitar 40 persenan karyawan IDN Media terlibat dalam pembuatan konten yang berkaitan mental health. Jadi mereka tahu banget. Ketika ada konselor sangat dimanfaatkan oleh mereka,” ucap Uni yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia.
Pemimpin Redaksi Republika, Irfan Junaidi, mengaku pihaknya belum menyediakan fasilitas konseling kesehatan mental bagi jurnalisnya. Kendati demikian, kata Irfan, manajemen menyediakan pendamping bagi setiap jurnalis yang mengalami masalah semasa pandemi Covid-19.
“Di tempatku ada pendamping, tapi dia bukan semata-mata hanya konseling secara mental saja, tapi juga mendampingi semuanya. Pada saat ada keluarga yang positif Covid-19 misalkan, dia dampingi apa yang harus dilakukan, perlu kemana, dibantu, mau masuk Wisma Atlet atau ke mana, dibantu dikontakin. Jadi gak spesifik urusan mental. Tapi kalau mau dispesifikan gak masalah. Memang perlu ada yang mendampingi untuk konseling. Konselingnya bukan semata-mata untuk gangguan mental. Bisa saja kan sehari-hari di rumah keseimbangan yang selama ini dijalani berubah, itu menjadi tantangan tersendiri. Nah supaya mereka sukses menjalani proses perubahan ini, perlu ada yang bisa mendampingi. Pemred, redaktur pelaksana sekaligus menjadi pendamping juga buat redaktur dan reporter,” kata Irfan.
Hal yang terpenting, lanjut Irfan, secara intitusi, pihaknya berusaha menyiapkan koridor relaksasi supaya personil yang dalam kondisi di bawah tekanan tidak tambah terbebani, tapi ada tempat mereka untuk merilis beban mentalnya.
Irfan setuju perlu ada rekomendasi bagi institusi media mengenai risiko gangguan mental saat pandemi Covid-19 yang harus diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak bergerak menjadi semakin parah.
“Yang penting komunikasi. Bagaimana menyiapkan komunikasi yang lebih terbuka, menyediakan sarana untuk relaksasi, menyiapkan pendamping apabila memang ada yang secara khusus memerlukan. Psikolog on demand. Kalau misalkan memerlukan silakan minta saja, nanti kita siapkan,” tandasnya.
Psikiater, Elvine Gunawan berpendapat, isu kesehatan mental sudah seharusnya dipertimbangkan oleh perusahaan media. Sebab, kesehatan mental berkaitan erat dengan produktivitas perusahaan.
“Jadi sebenarnya, gak rugi company menyiapkan si pendamping kesehatan jiwa itu karena produktivitas staf-stafnya bisa terjaga. Jadi kasarnya, dia cuma nyiapin satu item kesehatan jiwa, tapi memberikan kepastian produktivitas orang-orangnya terjaga,” ucap psikiater yang kerap menangani gangguan mental pada jurnalis.
Selain menyiapkan pendamping kesehatan jiwa, lanjut Elvine, perusahaan bisa menyiapkan ruang me time atau bahkan, ruangan untuk menyalurkan emosi negatif.
“Kalau ada yang marah, tinggal masuk ke ruangan itu, teriak-teriak, mukulin barang, bantingin barang, tapi sesudahnya lega. Itu menghindari konflik, menghindari keributan di tempat kerja. Orangnya juga tetap sehat karena emosionalnya terlampiaskan. Atau sediakan tempat -tempat lounge time yang cozy. Jadi kalau stres tinggal datang. Ada musik, ada kopi, sehingga dia merasa stresnya rilis dan siap lagi untuk kerja. Jadi jangan melihat, berapa uang dan usaha yang saya keluarin, tapi ini investasi saya buat SDM (sumber daya manusia) saya. Banyak banget orang-orang potensial yang kena isu kesehatan jiwa, produktifitasnya menurun, padahal dia membawa arah gerak yang bagus buat company,” kata dr. Elvine Gunawan, SpKJ yang juga Co-founder Ruang Empati.
Saatnya peduli kesehatan mental
Pandemi Covid-19 menghantam kondisi mental Mega Dwi Anggraeni sehingga mengalami gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Awalnya, Mega tidak paham apa yang terjadi pada dirinya. Dia mulai mengalami gangguan tidur. Otaknya terus berputar sehingga ia kesulitan terlelap sampai matahari terbit. Dalam sehari, Mega hanya bisa tidur selama dua jam dan itu terjadi selama dua minggu berturut-turut.
Akibatnya, Mega mengalami ketidakstabilan emosi. Amarahnya gampang sekali terpicu, bahkan oleh hal sepele. Atau tiba-tiba, menangis sesegukan selama satu jam tanpa tahu apa sebabnya. Mega pun merasakan ketakutan berlebihan tertular Covid-19. Dering atau notifikasi pesan bisa membuatnya gemeteran, sesak napas, hingga ingin membanting telepon genggamnya. Kondisi mentalnya diperparah dengan kewajiban menulis berita seputar Covid-19.
Selama berminggu-minggu mengalami gejala tersebut, Mega mulai membutuhkan pertolongan ahli jiwa. Ia memutuskan berobat ke psikiater. Jurnalis di Kota Bandung ini mendapat diagnosa anxiety disorder dan diputuskan menjalani terapi konseling dan pengobatan.
Setelah tiga bulan berobat, kondisi mental Mega kembali stabil. Saat ini, dia telah berhenti mengkonsumsi obat tidur dan penenang.
“Bahagia aku sesederhana itu, cuman bisa tidur nyenyak, gak pakai mimpi, gak pakai kebangun, gak pakai remeh temeh apa,” ujarnya.
Mega mengingatkan ke setiap orang agar peduli terhadap kondisi mentalnya, terutama jurnalis yang memiliki tingkat stres tinggi. Ia berharap teman-teman seprofesi tidak ragu mengakses layanan konsultasi kesehatan mental sesegera mungkin ketika merasakan gejala.
“Kalau sudah muncul gejala gak bisa tidur, ada sesuatu yang memicu ketakutan, serangan panik, gak bisa napas sampai mempengaruhi fisik, mendingan langsung konsultasi,” ujarnya.
Gejala apa saja yang harus diwaspadai?
“Satu, bangun tidur sudah tidak semangat, kasarnya mager. Kedua, perawatan diri tidak terjaga. Ketiga, menarik diri dari dunia sosial. Keempat, kerjaan rumah standarnya jadi turun banget atau tidak dikerjakan sama sekali. Yang terakhir paling mudah lagi, kalau mudah marah-marah, kalau sering teriak-teriak,” sebut Elvine.
Gejala yang paling nyata adalah ketika mengalami burnout atau kejenuhan umum. Ketika sampai di titik itu, Elvine menyarankan segera mencari pertolongan ahli.
Penulis: Yuli Saputra