Oleh : Ramadhana Afida Rachman
Independen- Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 jadi sorotan utama di media sosial, khususnya di platform seperti X (dulu dikenal sebagai Twitter). Ini menjadi wadah bagi warga untuk menyuarakan pendapat tentang proses pemilihan. Orang-orang muda, termasuk penggemar K-Pop, turut aktif dalam diskusi tersebut.
Menurut data Luminate, Indonesia menempati peringkat ketiga dalam daftar negara penggemar K-Pop terbanyak pada tahun 2023, setelah Jepang dan Amerika Serikat. Penelitian oleh Derek A. Laffan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa mayoritas penggemar K-Pop adalah orang muda dengan usia rata-rata 23 tahun.
Pemilu 2024 di Indonesia didominasi oleh pemilih muda, mencapai 56,5% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) 204.807.222 orang. Atau sekitar 115.920.888 pemilih, menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), terdiri dari generasi milenial dan Gen Z.
Di dalamnya tentu terdapat kelompok penggemar K-Pop sebagai pemilih pemula.
Ekspresi Penggemar K-Pop
Setiap penggemar K-Pop, memiliki berbagai cara untuk menunjukkan kegemarannya pada idola. Seperti yang disampaikan Qoriana Syahwa Maharani (18) sebagai penggemar EXO dan NCT yang saat ini duduk di bangku kelas 12 SMA.
“Aku lagi ngumpulin photo card dan album dari idolaku,” ujar
Berbeda dengan Alief Brahmarizky (24) lebih suka mencari pengalaman dengan menonton konser untuk menyalurkan kegermarannya pada idola. Pada Maret 2023 lalu, Alief bersama teman-temannya dari satu fandom menonton konser Blackpink di Jakarta. Fandom sendiri merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan sekelompok penggemar yang memiliki minat dan identitas kolektif yang sama.
Melihat maraknya antusitas Blink dengan kehadiran idolanya, beberapa partai politik memanfaatkan momentum dengan mengadakan give away tiket konser Blackpink, seperti yang dilakukan Partai Gerindra. Syarat untuk mendapatkan tiket tersebut yaitu peserta perlu foto tanpa masker menggunakan atribut Blackpink di depan baliho Prabowo.

Hal ini menimbulkan protes dari Blink atau sebutan untuk penggemar Blackpink karena merasa bahwa Blackpink dijadikan alat kampanye politik.
“Gue sendiri kurang suka karena jadi ngehubungin artis ke partai politik. Padahal mereka gak ada MoU (nota kesepakatan –red) dan jatuhnya gak legal karena gak ada consent atau persetujuan dari pihak manajemen untuk pakai foto artis,” tutur Alief.
K-popification dalam Nuansa Pemilu 2024
Setelah beberapa bulan berlangsung, pada akhir Desember 2023 pasca debat calon capres dan cawapres pertama, muncul akun @aniesbubble di media sosial X yang kental dengan budaya K-Pop. Akun @aniesbubble melakukan K-popification atau tindakan yang mengadopsi budaya K-Pop untuk melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan K-pop itu sendiri.
Jika dikulik, Bubble familiar di kalangan Kpoper sebagai aplikasi untuk mereka berkomunikasi dengan idolanya. Meskipun terdapat aplikasi lain (Lysn dan Weverse), namun Bubble menjadi aplikasi pertama yang menawarkan fitur selayaknya private chat bersama idola, maka komunitas K-Pop lebih mengenal Bubble.
Untuk menggunakan aplikasi tersebut, penggemar perlu membayar sejumlah uang agar dapat berkomunikasi dan menikmati konten update dari idola mereka. Oleh karena itu, dengan dasar rasa kolektif, muncul akun penerjemah Bubble di X di mana penggemar membagikan update idola mereka ke penggemar lain secara gratis. Biasanya, idol K-Pop akan berkomunikasi dalam Bahasa Korea ke penggemar mereka. Lalu, akun penerjemah Bubble di X melakukan translasi ke dalam Bahasa Inggris.
Serupa dengan budaya Bubble yang biasa dikenal di komunitas Kpoper, akun @aniesbubble muncul pertama kali dengan membagikan potongan video live dari Calon Presiden Anies Baswedan menggunakan caption dalam Bahasa Korea.
Pembuat dan pengelola tunggal @aniesbubble atau yang disapa Bubur (20), bukan nama sebenarnya, mengaku bahwa ia membuat akun @aniesbubble hanya sebagai parodi di tengah ketegangan politik yang terjadi di Indonesia.
Berangkat dari kebiasaannya melakukan fangirling di X, maka cara yang dilakukan Bubur dalam mengelola akun @aniesbubble sama seperti ia memperlakukan akun fangirling idola K-Pop-nya, di antaranya membuat caption terjemahan, memberikan emoji piala untuk menunjukkan penghargaan, menyematkan lambang © untuk menunjukkan sumber foto, hingga membuat event notice yang biasa dilakukan penggemar Kpop untuk memberi tahu event idolanya.
“Jujur aja awalnya, tuh, cuma iseng. Saya udah jadi Kpoper dari lama. Gak ada ekspektasi apa-apa, cuma mau ngasih informasi tentang live-nya Pak Anies dengan Bahasa Korea,” ungkap Bubur kepada tim Independen.id pada 24/1/2024. Bubur juga melanjutkan, “ada yang nge-judge kalau ini kerjaan timses (tim sukses - red). Mereka gak tau aja kalau saya ngelakuin ini gak dibayar.”
Adapun alasan Bubur memulai akun @aniesbubble dengan mengunggah potongan video live Anies karena saat itu, calon presiden dan wakil presiden yang melakukan live TikTok hanya Anies Baswedan.
“Saya ngerjain kayak gini juga gak dibayar.”
Niat awal untuk parodi tersebut ditangkap dengan baik oleh salah satu penggemar girl group F(x) sebagai hiburan di linimasi akun media sosial X-nya.
“Follow @aniesbubble udah dari tweet yang pertama. Karena gue pernah langganan Bubble, jadi tahu konsep dia. Kesannya tuh kayak selebtwit bercanda, ternyata malah konsisten dan jadinya lucu,” ucap Salsa (24) dari Jakarta.
Alief sebagai penggemar Blackpink pun memberikan komentar terhadap kemunculan @aniesbubble, “tahu @aniesbubble, tapi gak follow. Beda sama yang Gerindra karena @aniesbubble gak pakai foto artis tertentu dan gak melanggar hak cipta. Dia juga mengidentitaskan dirinya kayak RP (akun role play –red).”
Dilakukan Secara Volunteer
Pengelolaan akun @aniesbubble, Bubur mengaku banyak bantuan yang datang kepadanya melalui Direct Message (DM) di X. Salah satu tawaran bantuan adalah menerjemahkan Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Korea untuk caption unggahan. Bubur menceritakan bahwa cuitan awal yang ia buat dengan caption Bahasa Korea adalah hasil terjemahan Google Translate dan ChatGPT.
Kemudian, seseorang secara anonim menawarkan bantuan untuk menerjemahkan ke dalam Bahasa Korea. Mereka bekerja tanpa imbalan materi dan murni untuk kegiatan yang menghibur.
“Sekarang udah ada dua orang yang bantu nge-translate,” ujar Bubur.
Tidak hanya penerjemah, uluran tangan untuk bekerja secara cuma-cuma juga hadir dalam membangun situs www.haveaniesday.com. Selama satu minggu, Bubur dan empat orang lainnya bekerja sama membuat website dengan ide kreatif.
Bubur mengaku sebelumnya informasi mengenai Anies Baswedan dan calon presiden lainnya sudah ada dalam Linktree yang disematkan dalam bio akun @aniesbubble. Namun, banyak yang tidak membuka tautan tersebut karena kurang menarik.
“Terus ya udah saya mikir gimana caranya bikin website yang ibaratnya menarik,” tutur Bubur.
Berangkat dari ide kreatif dan ilustrasi yang dibuat Bubur, ia mengajak orang-orang yang menawarkan keahliannya melalui DM X untuk bersama-sama membuat sebuah situs. Mereka yang tergabung dalam tim pembuatan website tidak pernah saling kenal dalam kehidupan nyata.
“Selama tujuh hari kita tektokan terus. Beneran Zoom setiap hari, kadang dari pagi sampai malam. Sekalian saya juga lagi nunggu magang saya diterima atau enggak,” ungkap Bubur yang akan mengikuti Pemilu Presiden untuk pertama kalinya.
Videotron dari Orang Muda
Selain @aniesbubble, di media sosial X juga terdapat akun lain yang melakukan K-popification, yakni akun @olpproject. Berbeda dengan @aniesbubble yang hanya dikelola oleh individu tunggal, akun @olpproject terdiri dari beberapa penggemar K-pop. Tim yang tergabung dalam @olpproject terlihat memiliki sistem yang baik yang ditunjukkan dengan berhasilnya penayangan videotron di berbagai kota di Indonesia, seperti di Bekasi, Jakarta, Medan, dan Surabaya.
“Kita ada timnya sendiri dan emang sejauh ini bisa dikontrol secara mobile,” ujar @olpproject kepada tim Independen.id.
Pada 15 Januari 2024 kemarin, videotron yang tayang di Jakarta dan Bekasi sempat dihentikan penayangannya oleh satu pihak. Hal ini disayangkan oleh @olpproject karena mereka sudah menyewa penayangan videotron untuk satu minggu. Namun, peristiwa tersebut tidak menyurutkan semangat orang muda penggemar K-Pop untuk menayangkan videotron salah satu calon presiden idola mereka.
“Saya dan teman-teman sangat enjoy ngejalanin ini. Jadi, ya, paling tantangannya adalah bagi waktu sama kehidupan asli kita. But, at this point kita masih bisa mengatasi itu,” ungkap @olpproject.
Saat peristiwa itu terjadi, akun @aniesbubble yang mengaku sebagai media partner dari @olpproject pun memberikan pernyataan dalam Bahasa Korea dengan format yang biasa dibuat oleh agensi K-Pop.
Selain videotron, akun @olpproject juga memproduksi barang lain yang identik dengan cara penggemar K-Pop menunjukkan ekspresi kagum dan dukungan kepada idolanya, seperti membuat cup sleeves, photo card, hingga food truck.

Memilih dari Data dan Substansi, Bukan Tampilan Fisik
Jika melihat secara saksama, beberapa videotron mengenai Anies dan tautan di dalam situs www.haveaniesday.com, terdapat situs Bijak Memilih. @olpproject mengungkapkan alasannya mencantumkan situs Bijak Memilih karena mereka ingin masyarakat yang melihat videotron tetap bisa memilih dengan bijak calon presiden beserta wakilnya.
Hal ini senada dengan pernyataan Bubur atau @aniesbubble bahwa ia ingin warganet bisa mengedukasi diri mereka dengan melihat rekam jejak dan visi-misi para calon melalui situs Bijak Memilih. Ia juga menginginkan siapapun yang mengonsumsi konten @aniesbubble, walaupun tidak memilih Anies sebagai presiden, tetapi mereka bisa tetap terinformasi mengenai calon-calon yang ada saat ini.
“Harapannya orang-orang bisa lebih aware (sadar – red). Bukan cuma dari penampilannya aja, tapi juga tahu visi-misinya,” pungkas Bubur.
Menanggapi fenomena penggemar K-pop yang terlibat dalam Pemilu 2024, Abigail Limuria selaku co-initiator Bijak Memillih mengaku bahwa hal ini menjadi tren positif sebab cara mereka berangkat dari parodi yang mengarah pada edukasi mengenai track record para calon.
“Ada pendekatan kreatif kayak gini (keterlibatan K-pop dalam Pemilu 2024 -red) jadi ningkatin kemauan atau interest dan minat orang muda untuk berpartisipasi (dalam Pemilu 2024 -red) secara kritis,” kata Abigail.
Abigail juga menambahkan memang penting mempelajari gagasan dan rekam jejak para calon pemimpin negeri yang dipilih pada pertengahan Februari 2024 nanti. Ia menegaskan bahwa tokoh yang akan menjabat sebagai pemimpin akan membuat regulasi yang bisa berdampak ke kehidupan masyarakat secara umum.
“Tren di sosial media itu sangat mudah untuk dimanipulasi. Sangat mudah untuk kandidat yang menang itu bukan yang terbaik secara substansi, tapi yang paling pintar memanfaatkan gimmick,” ujar Abigail mengingatkan pemilih muda untuk tetap kritis dalam memilih.
Pernyataan Abigail tersebut berkaitan juga dengan fenomena K-popification dalam Pemilu Presiden di Filipina pada 2022 lalu. Saat itu, banyak penggemar K-Pop melakukan dukungan kepada Leni Robredo sebagai oposisi dari presiden terpilih Bongbong Marcos. Dimana mereka mendukung Leni Robredo karena ingin menjadikan Filipina sebagai negara yang tetap menjalankan demokrasi dan tunduk pada supremasi hukum. Dalam konteks ini, mereka melihat adanya potensi pelanggaran aturan yang akan dilakukan Bongbong Marcos menggingat ia adalah anak dari Ferdinand Marcos yang pernah menjabat sebagai presiden Filipina selama 20 tahun.
Abigail mengingatkan sebagai pemilih tidak boleh lupa dengan sejarah, apalagi tidak melek literasi politik.
Dukungan Kreatif Mengarah pada Sikap Politik Anti-golput
Lebih lanjut, kehadiran @aniesbubble di media sosial X memiliki dampak secara nyata dalam menentukan sikap politik orang muda. Salsa yang merupakan seorang Kpoper menceritakan bahwa sebelumnya ia berencana menjadi golongan putih atau yang biasa dikenal dengan golput. Namun, setelah membaca visi-misi calon presiden melalui PDF dan konten yang ada di media sosial X, ia lebih bisa menentukan pasangan pemimpin yang akan dipilihnya nanti.
“Gue sebenernya gak ngikutin politik banget, jadi yang paling bisa gue digest (cerna – red), itu yang bisa gue pilih,” ungkap Salsa.
Tidak hanya dirinya, Salsa juga mengatakan bahwa dengan banyaknya interaksi yang ada di media sosial mengenai politik, khususnya di X, beberapa teman di sekelilingnya batal menyatakan golput. Hal ini terjadi setelah debat capres dan cawapres yang disertai dengan munculnya berbagai cara mempromosikan program pasangan calon presiden.
Berbicara mengenai golput, Abigail Limuria dari Bijak Memilih menyatakan bahwa golput sebenarnya merupakan bentuk pilihan setiap orang. Namun, alangkah baiknya jika pilihan untuk golput dilandasi dengan riset yang sudah dilakukan untuk mempelajari para calon pemimpin yang ada. Ia tidak menginginkan orang muda melakukan golput tanpa memiliki dasar pengetahuan.
“Nyoblos kan bukan cuma hak yang diperjuangkan lama, tapi juga tanggung jawab kita sebagai warga yang hidup di negara demokrasi,” tegas Abigail.
Media sosial X yang memberikan ruang ekspresi kepada para penggunanya dengan teks maupun visual, juga mendorong akun lain muncul melalui cara kreatif untuk menunjukkan dukungan kepada calon presiden nomor urut lain, salah satunya adalah Tim Penguin Nasional. Akun @timpenguinnas ini mengemas konten dengan meme sebagai bentuk dukungan berbalut parodi kepada Calon Presiden Ganjar Pranowo.
Selain itu, di kubu 02 Prabowo-Gibran, penggunaan gambar yang diproduksi dengan Artificial Intelligence (AI) banyak digunakan. Walaupun, menuai kritik dari masyarakat karena tidak menghargai karya seniman gambar dan ilustrator, tetapi cara tersebut dianggap baru oleh beberapa orang karena memanfaatkan teknologi yang ada saat ini.

Kehadiran @aniesbubble, @olpproject, dan akun kreatif politik lain di media sosial menunjukkan bahwa orang muda memiliki daya imajinasi dan keahlian yang tinggi dalam mengemas konten politik agar dapat dinikmati oleh kalangan mereka. Cara tersebut dapat menghidupkan suasana politik Indonesia yang mulai menegang. Terlebih, hal ini menjadi solusi untuk meningkatkan kesadaran orang muda agar bijak dalam memilih serta memikirkan ulang jika ingin golput.
“Harapanku untuk Pemilu 2024 semoga bisa berjalan dengan baik, jujur, dan tidak ada keributan,” harap Qoriana Syahwa Maharani selaku pemilih pemula.
“Semoga pemimpin yang terpilih bisa berpihak juga sama middle income class. Yang gue rasain selama ini, kebijakan yang ada itu berpihak ke yang kaya atau miskin. Gue yang dari middle income class juga pengen diperhatikan, sih,” pungkas Alief berharap.
*) Liputan ini merupakan kolaborasi Independen.id, AJI dengan media penerima beasiswa liputan Pemilu 2024 didukung USAID MEDIA - Internews