Pengungsi Rohingya Hadapi Narasi Kebencian di Indonesia

Oleh :  Betty Herlina

Independen--  Kehadiran pengungsi asal Rohingya di Indonesia belakangan semakin menimbulkan polemik. Ini ditandai dengan munculnya banyak narasi kebencian yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Salah satu narasi yang beredar di media sosial adalah bagaimana pengungsi Rohingya melakukan pengerusakan, termasuk tidak menerima makanan yang diberikan serta membuang bantuan ke laut.

Dari satu akun media sosial yang mengambil gambar, menyebar ke akun lain sehingga menjadi viral.

Narasi-narasi kebencian ini kemudian menciptakan ketidakpercayaan, kekemarahan dan akhirnya penolakan di kalangan masyarakat terhadap pengungsi Rohingya yang disebut PBB sebagai kelompok manusia yang paling malang di dunia.

Pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh adalah mereka yang melarikan diri dari Bangladesh sebelum tinggal di sana setelah mengalami kekerasan dan diskriminasi di Myanmar. Di Bangladesh, pengungsi Rohingya ini hidup di kamp pengungsian Cox Bazar yang kondisinya buruk dengan pergerakan yang dibatasi.

Kini Komunitas muslim yang berasal dari wilayah Rakhine (Arakan) di Myanmar Barat tersebut harus menghadapi penolakan dari sebagian warga Indonesia, yang menganggap mereka tidak patut ditolong.

Padahal ketika gelombang pengungsi Rohingya pertama kali tiba di Indonesia, warga setempat memberikan sambutan hangat dan bantuan kemanusiaan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, suasana berubah drastis.

Sejumlah warga secara langsung mengekspresikan ketidaksetujuan terhadap kehadiran pengungsi tersebut, sehingga menciptakan ketegangan di beberapa komunitas.

Anggota Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia Bobby Rizaldi mengatakan ada tendesius dari masyarakat lokal yang tidak menerima pengungsi Rohingya.

“Ini terjadi karena jumlah pengungsi yang terus meningkat, menimbulkan  kecemburuan sosial termasuk framing negatif dari media, dan kegagalan sistematik dalam mengatasi krisis Rohingya,” kata Bobby yang menambahkan hingga Desember 2023, Indonesia sudah menerima 1007 pengungsi Rohingya," katanya.

Indonesia memang bukan termasuk negara yang merativisikan konvensi 1951 terkait pengungsi, namun dalam satu dekade terakhir telah menerima ribuan pengungsi Rohingya, tambah dia.

Menurut Bobby, Indonesia sangat terbuka menerima pengungsi Rohingya yang ingin bertahan hidup. Apalagi para pengungsi tersebut mengeluarkan uang untuk bisa sampai ke Indonesia.

"Sekarang, kami melihat beberapa keberatan. Sebagai anggota parlemen, saya tahu pemerintah sedang berusaha memahami akar permasalahan dari situasi ini," lanjut Bobby.

Dia menambahkan pemerintah berusaha untuk menangani krisis ini dengan menekankan pentingnya toleransi dan keberagaman.

“Indonesia berkomitmen untuk memberikan perlindungan kepada pengungsi dan menghimbau warga untuk tidak terjebak dalam narasi kebencian,” ujar  anggota DPR RI asal Sumsel tersebut.

Masyarakat harus memahami perspektif pemerintah, masyarakat lokal dan pihak berwenang tentang penanganan Rohingya, termasuk mendengarkan semua pemangku kepentingan, juga para pengungsi.

“Indonesia adalah negara yang ramah. Saya harap kita bisa berdiskusi dengan baik dengan solusi di antara para pemangku kepentingan," kata Bobby sambil menambahkan bahwa Indonesia perlu memperkuat infrastruktur yang ada sejalan dengan hak asasi manusia, termasuk transparansi.

Organisasi kemanusiaan dan lembaga swadaya masyarakat juga telah turut serta dalam upaya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi yang dihadapi oleh pengungsi Rohingya. Sebagai upaya untuk meredam ketegangan, membangun jembatan komunikasi antara komunitas lokal dan pengungsi, serta menyebarkan informasi yang benar dan obyektif.

"Indonesia harus menerima pengungsi. Kita harus. Kita harus bertindak sesuai dengan hukum dan badan-badan PBB, seperti UNHCR. Termasuk melakukan investigasi untuk membuka informasi dan fakta yang dapat mendorong solusi," paparnya.

Diketahui, saat ini sejumlah pengungsi Rohingya yang mengisi kamp penampungan sementara  seperti di Ladong, Aceh Besar, Aceh atau yang menempati Rusunawa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Pihak kepolisian menduga adanya keterlibatan pelaku perdagangan manusia dalam pendaratan para pengungsi tersebut.

Kematian dan Kerawanan Pangan

Sementara itu,  Debbie Stothard, Founder and Coordinator of ALTSEAN Burma mengatakan pengungsi Rohingya  yang mengungsi saat ini merupakan orang-orang yang lolos dari genosida.

Saat ini diperkirakan jumlah pengungsi Rohingya yang mengungsi di berbagai negara mencapai 1,3 juta. Rinciannya, 960.000 sampai 1,2 juta  di Bangladesh, 40.000 di India, lebih dari 2.000 di Indonesia.

Sementara itu Malaysia menampung sekitar 102.000 pengungsi dan Thailand menambung 3.000-4.000 pengungsi.

Stothard mengatakan alasan utama mengapa Rohingya meninggalkan Bangladesh (Cox's Bazar, red), dikarenakan adanya kerawanan pangan dan gizi meningkat sejak Juni 2023. Tidak hanya itu program pangan dunia juga memotong voucher makanan untuk Rohingya dari 12 dollar atau sekitar Rp 187 ribu menjadi 8 dollar atau Rp 124.935  per bulan per orang.

Pengungsi juga mengalami teror dari geng kriminal. Kurun waktu Januari hingga 15 Oktober tercatat ada  66 kasus pembunuhan dan meningkatnya kejahatan kekerasan lainnya.

"Rohingya tidak diperbolehkan memiliki sekolah untuk anak-anaknya. Termasuk angka kematian, pengungsi di  Cox's Bazar 26 kali lebih beresiko dibunuh dibandingkan di Indonesia," kata dia.

Sementara itu, Badan PBB urusan Kemanusiaan (OCHA) sudah memperingatkan gelombang kedatangan pengungsi Rohingya akan terus terjadi hingga Maret 2024.

Dikutip dari ReliefWeb, Rabu, kedatangan ini dipicu situasi di Myanmar, kondisi pengungsi di Bangladesh dan datangnya musim kemarau yang mendukung kondisi laut.

ReliefWeb juga melaporkan bahwa pengungsi Rohingya sangat memerlukan bantuan.

“UNHCR dan IOM segera meminta dana sebesar USD 5,4 juta (Rp 83,7 miliar) untuk memenuhi kebutuhan mendesak dan darurat para pengungsi Rohingya yang diturunkan di Provinsi Aceh,” lapor ReliefWeb.

Data dari ReliefWeb menyebutkan ada 1.543 pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh sejak 14 November 2023 dan hingga 12 Desember 202.

Total pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh sepanjang tahun berjumlah 1,722 orang.
 

 

kali dilihat