Oleh: Wulan Novita
Independen --- Suara deru kendaraan yang dikendarai Sarjum saling bersahutan dengan suara deru mesin PLTU 1 Cirebon yang sedang beroperasi. Hal ini bukan pertama kalinya bagi Sarjum Ketua RW Desa Waruduwur mengantarkan warganya yang sesak nafas ke rumah sakit.
“Sejak ada PLTU, warga sering merasakan gatal-gatal, batuk dan sesak nafas padahal sebelumnya kasus ini sangat jarang terjadi. Hampir 80% warga desa pernah sakit ISPA, dan yang paling sering sakit adalah anak-anak 5 bulan sampai ke atas (balita) bahkan ada dua balita yang meninggal setelah sebelumnya mengalami sesak nafas,” ucap Sarjum saat diwawancara Independen.id (13/09/23). Bahkan anak Sarjum pun pernah mengalami sesak nafas dan harus dibawa ke rumah sakit.
Tak hanya itu, saat Sarjum mengantarkan warganya yang sesak nafas ke RS Tiar, betapa terkejutnya mereka karena RS tersebut tidak dapat menangani gejala pasien dan merujuknya ke RS Pelabuhan yang lebih besar.
Kasus ISPA di Desa Waruduwur yang berdekatan dengan PLTU 1 Cirebon sudah menjadi hal lumrah yang sering terjadi di masyarakat. Berdasarkan data kesehatan dari Puskesmas Mundu (puskesmas yang jaraknya 10 menit dari lokasi PLTU 1). Kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan) tahun 2019-2022 diderita oleh 3.562 pasien. Sementara kasus nasofaringitis akut (peradangan pada tenggorakan) tahun 2019-2022 terdapat sejumlah 10.698 kasus. Ini menjadi kasus tertinggi di puskesmas tersebut.
Selain kesehatan, kondisi lingkungan sekitar juga sangat terdampak. Air limbah panas hasil kondensasi yang dibuang ke laut menyebabkan rusaknya habitat fauna laut seperti kerang-kerangan, rajungan, ikan, dan udang. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi mata pencaharian para nelayan pinggiran seperti Sarjum.
Lokasi desa yang bersebelahan dengan PLTU 1 Cirebon membuat Sarjum harus menelan pil pahit. Jika biasanya kerang, rajungan, dan udang ada di pinggir pantai kini semakin sulit ditemui. Kondisi pendapatan yang terus menurun membuat Sarjum akhirnya memilih beralih profesi menjadi tukang las agar kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.
Selain Sarjum, ada pula Nenty, Marsinah, dan Wasni yang tinggal di Desa Kanci Wetan berbatasan dengan PLTU 2 Cirebon. Sebelum adanya PLTU para perempuan ini memiliki pekerjaan menjadi nelayan kerang di pinggiran pantai. Semenjak PLTU 2 Cirebon dibangun, jumlah kerang kian menurun dan kini menghilang.
Pada awalnya, mereka terpaksa melakukan perjalanan berpindah desa untuk mencari kerang di desa lain. Jarak yang ditempuh pun tidak sebentar, dengan menaiki kendaraan bermotor jarak tersebut dapat ditempuh selama 30 menit. Namun sering kali ongkos dan hasil pencarian kerang tidak sebanding. Sehingga tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan. Hal ini membuat mereka memutuskan untuk berhenti mencari kerang dan menggantungkan hidup pada suami mereka.
Hal serupa juga dirasakan oleh para nelayan di Desa Pangarengan. Kini para nelayan tradisional harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk menangkap ikan. “Dulu sebelum ada PLTU 2, mencari ikan lebih gampang dan dekat. Tapi sekarang harus memutar dahulu baru bisa menangkap ikan,” ujar Buming, salah satu nelayan Pangarengan.
Tak hanya harus memutar, tetapi ombak laut yang dihadapi nelayan pun sangat tinggi dan berbahaya. “Setiap melaut taruhannya nyawa, karena berhadapan sama ombak gede dan kapal tongkang,” ucap Sukandar, nelayan yang lain.
Adanya PLTU 2 di sekitar sana pun membuat hilir mudik nelayan tak bebas dulu, kini para nelayan harus lebih berhati-hati karena beberapa kali mereka harus berhadapan dengan kapal tongkang PLTU 2. Sukandar menceritakan bahwa kapal nelayan keponakannya pernah bertabrakan dengan kapal tongkang. Hal ini tentunya menjadi kisah seram untuk para nelayan, karena kapal keponakan Sukandar tersebut hingga kini masih bersemayam di dasar lautan.
Dilansir dari situs CirebonPower.co.id, perusahaan pengelola PLTU 1 dan 2 Cirebon menyatakan sudah melakukan beberapa upaya meminimalisir dampak lingkungan dari pengoperasian PLTU.
Di PLTU 2 sudah menggunakan teknologi USC (ultra-supercritical technology), yang mempunyai tekanan panas dan temperatur yang lebih tinggi sehingga mendorong tingkat efisiensi hingga 45%. Teknologi USC memungkinkan penurunan gas emisi CO2 hingga sepertiga dari emisi yang dihasilkan pembangkit listrik teknologi Subcritical.
PLTU 1 dan 2 sudah menggunakan Electrostatic Precipitator (alat penangkap abu terbang), penampungan abu terbang berkapasitas ganda atau Double Fly Ash Silo dan kolam penampungan abu sementara (Temporary Ash Storage/Pond). Teknologi-teknologi ini diklaim dapat menjadikan batu bara sebagai energi bersih.
Gugatan PLTU Tanjung Jati A
Dampak-dampak yang dirasakan Sarjum dan kawan-kawan membuktikan energi bersih batu bara itu masih harapan kosong. Justru yang dirasakan masyarakat adalah sebaliknya.
Ketika muncul rencana pembangunan PLTU baru atau yang dinamakan PLTU Tanjung Jati A, maka menggerakkan Walhi Jabar (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) bersama LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Bandung bersama lembaga Karbon dan Trend Asia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Hal yang digugat adalah izin lingkungan PLTU Tanjung Jati A.
Wahyudin dari Walhi Jabar menjelaskan mereka menggugat izin lingkungan yang sudah kadaluarsa. Selain itu, produksi energi listrik dari PLTU yang ada di Jawa Barat sudah menunjukkan surplus. Sehingga, kepentingan untuk membangun lagi PLTU yang baru (PLTU Tanjung Jati A) sudah tidak diperlukan kembali.
Kemudian pada tanggal 13 Oktober 2022, Majelis Hakim PTUN Bandung mengabulkan gugatan Walhi Jabar sehingga izin lingkungan PLTU Tanjung Jati A di Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon dibatalkan.
Kesuksesaan gugatan ini dilatarbelakangi oleh pengumpulan bukti-bukti dampak yang dirasakan masyarakat sekitar PLTU. Persidangan juga menghadirkan kesaksian ahli lingkungan dan ekonomi.
Kemenangan gugatan ini disambut penuh suka cita oleh para nelayan di Desa Pangarengan. “Kami sangat senang mendengar kabar batalnya PLTU Tanjung Jati A, tadinya sempat takut kalau jadi karena nantinya bagaimana nasib kami para nelayan,” ucap Yadi, nelayan Pangarengan.
Sukandar menuturkan sebelumnya para nelayan tradisional merasa cemas. “Kalau sampai jadi dibangun, nanti kita cari ikan, kerang dan lainnya di mana?” ucap Sukandar.
Energi Bersih
PLTU terbukti mempunyai banyak dampak lingkungan, ekonomi, kesehatan, dan sosial. Solusi dari ini adalah menggantikan dengan sumber energi bersih dan terbarukan.
Novita Indri Pratiwi dari Trend Asia mengatakan banyak sekali potensi sumber energi bersih di Indonesia seperti sinar surya, angin, dan mikrohidro yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Hal ini memerlukan dukungan penuh dari pemerintah, namun kondisi di Indonesia saat ini regulasi serta kebijakan yang diberikan masih sangat kurang.
Novita menambahkan kalau best practice penggunaan energi bersih dan terbarukan sudah banyak diterapkan di negara luar seperti Vietnam, China, Norwegia dan Inggris. Berdasarkan contoh negara-negara tersebut menunjukkan bahwa penggunaan energi terbarukan bisa dilakukan.
Saat ini untuk biaya pemasangan energi terbarukan sudah murah dan lebih murah dari pada energi batubara. “Kenapa saat ini pemerintah selalu bilang batubara murah? Karena ada beberapa cost yang tidak dihitung. Seperti cost dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Karena kalau cost tersebut dihitung, maka pembiayaan energi batubara akan jauh lebih mahal,” kata Novita Indri Pratiwi.