INDEPENDEN, Jakarta – Tim Investigasi yang dibentuk Koalisi Masyarakat Sipil menyampaikan mendapatkan perkembangan baru dari investigasi yang mereka lakukan, terkait kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Ada beberapa temuan baru,” kata Haris Azhar, salah satu anggota Tim Investigasi Koalisi Masyarakat Sipil, kepada Independen, Minggu (16/4) malam.
Koalisi ini terdiri atas gabungan beberapa organisasi masyarakat sipil, seperti Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan beberapa individu yang memberi perhatian terhadap kasus ini dan perjuangan melawan korupsi.
Haris menjelaskan temuan itu di antaranya, diduga penyerangan terhadap Novel tidak hanya karena kasus e-KTP, “Tapi terkait pekerjaannya sebagai penyidik, yang (serius) melakukan penyidikan dan mendapatkan temuan-temuan (kasus korupsi),” katanya.
Ia mengatakan banyak kasus korupsi yang ditangani Novel yang selama ini tidak terekspose media. “Tidak hanya kasus e-KTP. Tapi ada kasus-kasus lain,” kata Hariz menegaskan.
Selain itu, temuan tim ini adalah masalah kepemimpinan di tubuh KPK yang tidak sensitif terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Novel dan penyidik KPK yang lain. “Mereka tidak menopang kerja-kerja Novel dengan pengamanan,” katanya. Sebelumnya penjelasan juru bicara KPK dalam Save KPK, Save Novel Baswedan.
Mantan Koordinator KontraS ini juga menyampaikan temuan lain yang saat ini masih dalam proses pendalaman untuk kepentingan advokasi. “Akan kami sampaikan temuan ketiga itu beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Novel Baswedan mengalami kekerasan penyiraman air keras ke bagian wajahnya, Selasa (11/4) pekan lalu. Peristiwa itu terjadi saat dirinya usai menjalankan ibadah Shalat Subuh, di masjid tidak jauh dari rumahnya. Saat ini, penyidik KPK ini masih menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Singapura. Polisi belum menemukan siapa pelakunya.
Usut Kasus Novel
Dukungan penuntasan kasus Novel Baswedan juga terus bergulir. Gabungan beberapa organisasi seperti Koalisi Masyarakat untuk Udin ([email protected]), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bersama Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi Yogya, di antaranya Forum LSM DIY, PUKAT UGM, Perempuan Indonesia Anti Korupsi, Walhi Yogya dan LKIS, menggelar aksi bersama di depan Istana Gedung Agung, Yogyakarta, Minggu (16/4) kemarin.
Mereka tidak hanya membentangkan spanduk menuntut penuntasan kasus Udin, wartawan Harian Bernas yang dibunuh karena pemberitaan pada 16 Agustus 1996. Tapi juga membentangkan spanduk berisi dukungan pada Novel Baswedan. Koalisi ini menyuarakan agar Presiden Joko Widodo segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta untuk menyelidiki kasus Novel.

Dukung penuntasan kasus Novel Baswedan dan Udin di Yogyakarta, Minggu (16/4).
Koordinator Aksi Vitrin Haryani melalui melalui telepon seluler menjelaskan teror yang dialami Novel Baswedan bukan yang pertama kali. “Ini teror kelima, dan teror sebelumnya tidak terungkap,” katanya, “Pembentukan tim ini diperlukan agar penyelidikan lebih independen.”
Selain itu, mereka menuntut agar pemerintah membongkar teror gaya Orde Baru terhadap pejuang antikorupsi seperti yang dialami Udin hingga Novel Baswedan. Ia menegaskan banyak pegiat antikorupsi yang mengalami teror karena semangatnya membongkar kasus korupsi. Hingga saat ini, kasus Udin tak kunjung tuntas. Otak pembunuhan belum diproses hukum.
Dukungan juga mengalir dari Ikatan Alumni Fakultas Hukum, Universitas Padjajaran. Mereka menyuarakan agar penegak hukum memprioritaskan pengusutan, serta mengungkap pihak yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap upaya pelemahan KPK ini hingga tuntas.
Selain itu, penegak hukum wajib mengatasi, mencegah, dan mengantisipasi agar tindakan tidak beradab seperti yang dialami Novel tidak terulang. “Perlu perlindungan keamanan bagi setiap personil KPK dan keluarganya,” kata Agus Santoso, Ketua Umum IKA FH Unpad, dalam press release yang diterima Independen.
Ia menekankan, kasus ini menunjukkan KPK terbukti sebagai institusi dengan personil yang kredibel dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. “Alumni perguruan tinggi perlu bahu membahu bersama KPK dan personilnya agar pengorbanan Novel Baswedan tidak sia-sia,” katanya.
Y. Hesthi Murthi