Independen – Para orang tua murid di Yogyakarta makin resah dengan aksi kekerasan pelajar belakangan ini. Hal ini menyusul kematian Adnan Wirawan Ardianto (16), pelajar SMA Muhamadiyah 1 (SMA Muhi) Yogyakarta beberapa pekan lalu. Adnan tewas dibacok pelajar lainnya.
Salah satu orang tua murid di Yogyakarta, Hazwan Iskandar mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut. Sebab, anaknya yang masih bersekolah berpeluang untuk masuk dalam lingkaran kekerasan sesama pelajar di sana.
Menurut Hazwan, lingkaran kekerasan sesama pelajar dimulai dari pembentukan kelompok-kelompok atau geng. Berdasarkan pengamatannya, geng pelajar ini memiliki jenjang. Untuk sampai pada level pimpinan harus melewati sejumlah ring. Selengkapnya baca Kabar Kota: Kekerasan Pelajar di Yogyakarta, Orang Tua Siswa: Untuk Naik Level di Geng Sekolah Harus Lakukan Kekerasan.
Apa yang menyebabkan pelajar terlibat dalam aktivitas kekerasan dan bergabung dalam geng-geng anak muda atau pelajar, Fuad Andreago, mantan kepala geng GMX, geng terbesar di Yogyakarta pada kurun waktu 1997-2003 mengatakan, "Karakter diri bawaan, lingkungan yang buruk, salah pergaulan, terlalu banyak atau kekurangan uang, dan juga kurang perhatian dari keluarga."
Jumlah geng anak muda saat ini, kata Fuad, sudah jauh berkurang dibanding pada masanya, yang mencapai angka ribuan. Ia mengatakan karakter geng pelajar saat ini juga jauh berbeda dibandingkan pada zamannya. Selengkapnya baca Kabar Kota: Pengakuan Mantan Pimpinan Geng Anak Muda Yogya.
Budayawan Yogyakarta, Achmad Charis Zubair mengatakan aksi kekerasan sesama pelajar yang menimpa Adnan Wirawan Ardianto hingga berujung kematian harus mendapat perhatian. "Karena di masa lalu, kekerasan sejenis ini biasanya dilakukan penjahat,” katanya.
Aksi kekerasan sesama pelajar ini menjadi persoalan bangsa, khususnya generasi muda. Aksi kekerasan ini menjadi indikasi budaya solidaritas dan intelektual pelajar telah rapuh. Apa solusinya? Selengkapkan baca Kabar Kota: Mengatasi Kekerasan Pelajar di Yogyakarta, Ini Tawaran Solusinya.