INDEPENDEN – Tiga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang tewas pasca mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) bagi calon anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) menyedot perhatian masyarakat. Sebab, ditemukan lebam di sekujur tubuh korban yang diduga hasil dari kekerasan yang dilakukan panitia penyelenggara.
Sejumlah mantan anggota Mapala UII pun angkat bicara tentang proses Diksar yang pernah mereka lalui. Menurut salah satu mantan anggota Mapala UII, dalam melatih disiplin, panitia tak segan memberikan hukuman berupa push up, jalan jongkok, berguling-guling di tanah, hingga merayap. Dengan demikian, tak jarang ada peserta yang keseleo, dan luka-luka di tubuhnya. Selengkapnya: 3 Mapala Unisi Meninggal, Alumni Diksar Ini Berbagi Pengalaman
Sementara itu, sistem pendidikan ala militer yang diduga diterapkan dalam pendidikan dasar Mapala Uii tidak dibenarkan. Apalagi sistem pendidikan tersebut telah menelan korban jiwa. Psikolog dari UGM menyatakan, sistem pendidikan ini sudah tak layak lagi digunakan. Sistem pendidikan di Mapala semestinya lebih menekankan mengenai bagaimana calon anggota memecahkan persoalan yang mereka hadapi di lapangan. Selengkapnya: Diksar Mapala UII Renggut 3 Nyawa, Masih Relevankah Pendidikan ala Militer Diterapkan?
Dari peristiwa yang menyebabkan 3 Mahasiswa ini tewas, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Harsoyo menyatakan mundur dari jabatannya. Akan tetapi sikap pengunduran diri ini justru ditentang oleh seratusan mahasiwa. Apa alasannya? Selengkapnya: Rektor Mundur, Begini Reaksi Mahasiswa UII Yogya