Menunggu Ular Besi Jakarta Beroperasi

INDEPENDEN, Jakarta --- Maret 2019, 16 “ular besi” akan mulai menyusuri dua terowongan bawah tanah berdiameter 7 meter dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Senayan. Setelah itu, akan menyusuri rel atas hingga stasiun Lebak Bulus. “Kesemua rangkaian kereta itu akan beroperasi sejak pukul 05.00 hingga 24.00,” kata William Sabandar, Direktur Utama PT. MRT Jakarta dalam diskusi Obsat #192 yang dilaksanakan di area Bundaran HI, Rabu (26/4).

Sekitar 6.000 pegawai terlibat dalam pekerjaan konstruksi hingga unit mendesain keamanan menggunakan transportasi publik yang berada 19 meter di bawah permukaan jalan. Dengan dua shift pekerjan selama 24 jam, PT. MRT Jakarta menargetkan  jalur kereta mass rapit transit (MRT) sepanjang 15,7 KM bisa melakukan uji coba pada November 2018.

Terowongan MRT area Bundaran Hotel Indonesia. 

Pengguna transportasi publik Jakarta dapat mengakses kereta ini melalui 13 stasiun yang telah disiapkan. Setiap stasiun berlantai dua. “Hanya satu stasiun berlantai tiga yaitu di Dukuh Atas,” katanya menambahkan.

Sebabnya stasiun Dukuh Atas tidak jauh dari sungai besar yang membelah Jakarta. Jalur kereta Bundaran Hotel Indonesia hingga Dukuh Atas pun dibuat lebih landai ke dalam tanah karena sepanjang 18,5 meter di atas terowongan ini mengalir Kanal Banjir Barat. Karena itu stasiun bawah tanah area Dukuh Atas akan dibuat tiga lantai dengan kedalaman mencapai 22 meter dari permukaan jalan.

Dengan durasi waktu 30 menit untuk mencapai Bundaran HI dari Lebak Bulus, dengan durasi perjalanan 5 menit pada pagi sore hari, pengelola MRT ini menargetkan dalam sehari dapat mengangkut hingga 170 ribu penumpang. Karena satu rangkaian kereta akan berderet enam gerbong dengan kapasitas maksimal 300 penumpang. Proyek pemerintah Jakarta ini diharapkan dapat mengurai kepadatan di jalur utama kota Jakarta.  

Seragam pekerja konstruksi MRT. Foto-foto: Hesthi I Independen

Pengamat Transportasi Rini Ekotomo mengatakan tujuan itu tidak akan tercapai jika pemerintah daerah tidak mengeluarkan regulasi pembatasan penggunaan mobil pribadi ketika MRT beroperasi. Tidak hanya itu, program menggunakan transportasi publik; Transjakarta, lite rapid transit (LRT) atau MRT, tidak akan berhasil, jika pemerintah masih menyediakan parkir di pusat kota. “Parkir harus di area masuk Jakarta,” ujarnya.

Sementara Lukman Nuthfi, pegiat media sosial dan pengguna transportasi publik, menekankan tidak hanya kecepatan yang perlu mendapat perhatian, tapi juga kenyamanan pengguna transportasi publik. “Untuk kelas menengah tarif tidak jadi masalah,” katanya.

Meski demikian, William mengatakan tarif MRT masih dalam pembahasan dengan pemerintah. Ia mengatakan pada tahun pertama pemerintah akan memberikan subsidi tiket. Meski demikian sejumlah rencana bisnis telah disiapkan, diantaranya dengan memanfaatkan dinding area stasiun sebagai ruang iklan. “Berupaya agar ke depan bisa mandiri tanpa subsidi pemerintah,” katanya.

Ramah Dissable dan Aman

Konstruksi bangunan terowongan MRT, kata William, disiapkan untuk mengantisipasi gempa hingga kekuatan 9 skala richter. Sedangkan untuk mengantisipasi banjir, sistem pintu otomatis penghalau air banjir masuk ke area stasiun bawah tanah setinggi 1,5 meter, akan disiapkan.

Ia berjanji konstruksi transportasi massal ini akan ramah untuk pengguna dissable. Terkait keamanan pengguna saat perjalanan malam, William mengatakan akan menyiapkan kamera pemantau dan petugas keamanan di setiap gerbong.  Saat ini, PT. MRT Jakarta menyiapkan 400 petugas untuk mengoperasionalkan "ular besi" buatan Jepang ini.

Y. Hesthi Murthi

 

kali dilihat