Pengungsi Kerusuhan Ambon Bertahan di Buton

Independen  -- Nasib pengungsi konflik sosial biasanya lebih buruk daripada pengungsi karena bencana. Pengungsi bencana lazimnya kembali ke lokasi asal atau mendapatkan lokasi baru. Sementara pengungsi konflik sosial, banyak yang masih bertahan di lokasi pengungsian, akibat tidak ada kejelasan masa depan.

Publik masih ingat bagaimana para penyintas konflik Ahmadiyah di Lombok maupun penyintas Syiah di Madura, yang hingga saat ini masih tinggal di tempat pengungsian. Begitu pula yang dialami penyintas Konflik Ambon, yang sebagian masih bertahan di Pulau Buton.  

Kerusuhan atau konflik Ambon membuat sekitar 52 Kepala Keluarga mengungsi ke Kampung Lagundi, Buton Selatan. Mereka sudah 20 tahun lebih tinggal di Lagundi, tanpa ada kejelasan masa depan. Seperti yang dikisahkan Nenek Ima, yang dulunya mempunyai rumah di kota Ambon. Tapi itu semua sudah dibakar dan entah bagaimana nasib status lokasi rumah itu sekarang. Sekarang Nenek Ima tinggal di rumah papan, yang sudah tidak layak lagi karena sudah berumur 20 tahun. 

Kampung Lagundi ini tadinya lahan kosong milik masyarakat adat di Buton. Para pengungsi ini boleh menempati lahan ini, tetapi tidak boleh dimiliki atau diperjualbelikan. Karena status inilah, para pengungsi ini tidak berani membuat bangunan permanen, bertahan dengan rumah papan yang dibangun awal-awal kedatangan. 

Bagaimana mereka bertahan dan apa harapan ke depan, simak di sini Bertahan di Kampung Lagundi: Kisah Penyintas Kerusuhan Ambon

(D02)

kali dilihat