ODHA Masih Rasakan Diskriminasi di Tulungagung Jawa Timur

Oleh Estu Farida Lestari

INDEPENDEN --Sukma (bukan nama sebenarnya) masih ingat asal mula dirinya menyandang sebutan sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Saat itu suaminya positif HIV/AIDS, dan Sukma sebagai istri pun harus melakukan tes Provider Initiated Testing and Counselling (PITC).

Malang tidak dapat dielakkan, perempuan itu juga dinyatakan positif HIV karena tertular almarhum suaminya.

“Saya merasa takut, sedih, kecewa, bingung dan marah,” kata Sukma saat bertemu Independen.id di teras Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Tulungagung Jawa Timur baru-baru ini.

Yang paling berat setelah itu adalah memikirkan anak-anaknya. Dia sempat menyembunyikan penyakit itu dari anak-anaknya. Namun belakangan semua orang tahu bahwa dia adalah ODHA.

“Saat itu pihak layanan kesehatan datang dan mengharuskan semua anggota keluarga mengetahui kondisi saya, sekaligus memberikan edukasi soal HIV,” kenang Sukma.

Maksud pihak kesehatan adalah supaya kondisi Sukma bisa didukung keluarga dan dia bisa mendapatkan pengobatan sekaligus pemulihan secara psikologis.

Mendengar Sukma terinfeksi HIV, anak-anaknya marah. Mereka menolak hidup bersama dirinya karena takut tertular. Kondisi semakin parah setelah para tetangga mengetahui hal tersebut. Dia langsung dijauhi tetangga, dan anak-anak mereka dilarang bergaul dengan keluarga Sukma.

“Saya sering ditanya, kenapa sering menebus obat di puskesmas,” kata Sukma yang akhirnya memutuskan menebus obat ke puskesmas yang jauh dari rumahnya untuk menghindari nyinyiran tetangga.

Akibatnya Sukma tidak berani keluar rumah kalau tidak sangat penting.

Hingga akhirnya setelah melalui proses berdarah-darah, keluarga menerima Sukma kembali terlepas dari masih ada tetangga yang melakukan diskriminasi. Sukma tiba di titik yang merasa dia akan baik-baik saja.

Dengan dukungan keluarga, ditambang konseling dari KPA untuk pengidap HIV/AIDS, Sukma mulai bisa menerima kondisi dirinya selain menyadari kalau dia tidak sendirian.

Kondisi Sukma memang masih lebih baik.

Dokter Teza Farida dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia PKBI kepada independen.id mengatakan ada kasus dimana seorang anak berusia tiga tahun begitu positif menderita HIV/AIDS, dia dibuang keluarganya.

 “Biasanya salah seorang atau kedua orang tuanya sudah meninggal, sementara keluarga lain tidak bersedia menampungnya, dan lingkungan sekitar juga tidak mau menerima keberadaan anak dengan HIV ini” ungkap dia

 

Penderita HIV/AIDS di Indonesia Meningkat

HIV/AID sering disalahartikan oleh banyak orang akibat kurangnya ilmu pengetahuan. Akibatnya ODHA menjadi bulan-bulanan diskriminasi oleh orang-orang yang seharusnya mendukung mereka untuk sembuh.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung Hamdan mengatakan Human Immunodeficiency Viruses (HIV) adalah sejenis virus yang menyerang imunitas manusia, sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan  kumpulan penyakit yang menjangkit pengidap HIV.

Jadi, orang yang HIV belum tentu AIDS sedangkan orang yang AIDS sudah pasti HIV.

Bagaimana indeks kasus terbaru HIV di Indonesia? Data di bawah ini  menunjukkan jumlah kumulatif perkembangan kasus HIV di Indonesia antara tahun 2009-2022.

Sumber Data: SIHA Laporan KT dan Laporan Surveilans Kasus AIDS s.d 2009 – 2022

 

Dari data itu bisa dilihat peningkatan kasus HIV tertinggi berada pada rentang tahun 2019 dengan jumlah total kasus sebanyak 50.282 orang. Data HIV tersebut beda lagi dengan kasus AIDS tertinggi, yaitu di tahun 2009 yang menjangkiti 26.054 orang.

Di sisi lain, data di atas menunjukkan perbaikan signifikan terkait kesadaran bersama atas pentingnya penanganan HIV secara komprehensif sebagai salah satu langkah mencegah AIDS. Peningkatan kasus dari tahun ke tahun justru pertanda baik bahwa masyarakat mulai terbuka dengan kesehatannya, sehingga penanganan kasus HIV/AIDS dapat dilakukan dengan lebih baik lagi.

Jawa Timur ternyata menempati posisi kedua dengan ODHA tertinggi.

Temuan data sementara yang menyasar salah satu kelompok rentan secara spesifik di tingkat provinsi misalnya PRT (Pekerja Rumah Tangga).  Sejumlah 1.704 ODHA ditemukan di Jawa Timur dengan 1.193 ODHA  terdiri dari PRT.

Jadi total kasus ODHA di Jawa Timur sebanyak 2.897. Data tersebut mencakup tiga bulan pertama (Januari-Maret) pada tahun 2022.  Sementara di wilayah yang lebih kecil lagi yaitu Tulungagung, angkanya melonjak dibanding 10 tahun yang lalu.

 

Data (18/9/2023) dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung

 

Sementara itu data juga menunjukkan jumlah kasus HIV antara tahun 2018-2019 telah mengalami lonjakan kasus yang cukup signifikan, yaitu 392 orang yang terjangkit HIV. Maka, tidak heran jika data Provinsi Jawa Timur memiliki total kasus yang cukup tinggi, dengan sumbangsih jumlah kumulatif kasus di Kabupaten Tulungagung sebanyak 3.623 yang belum termasuk daerah lain di Jawa Timur.

Ternyata data sebaran HIV di Tulungagung masih memiliki beberapa klasifikasi berdasarkan daerah penyebaran, media penyebaran, dan juga jenis kelamin. Berikut perbandingan daerah penyebaran kasus HIV antara Tulungagung dengan Kabupaten/Kota tetangga .

 

Data (18/9/2023) dari KPA Tulungagung

 

Hamdan dari KPA Tulungagung mengatakan sebaran kasus di Tulungagung itu unik dan berbeda dengan kota-kota lain, karena produktivitas kasus HIV ada di kota ini. Maksudnya temuan kasus HIV/AIDS yang ada di Tulungagung, orang-orangnya mayoritas berasal dari daerah lain yang  bekerja di Tulungagung kemudian positif HIV. Misalnya orang yang dari Kediri, Blitar, atau luar kota, itu diketahui positif HIV ketika di Tulungagung.

“Contoh paling mudah, mereka kebetulan kerja di warung kopi pangkon (warung kopi yang juga menyediakan jasa seksualitas), LC (Lady Company), PR (Public Relation), dan sejenisnya yang rawan terkena HIV, justru positif ketika pemeriksaan di Tulungagung” jelas Hamdan baru-baru ini.

Penemuan kasus HIV/AIDS juga kebanyakan karena pengidap keburu sakit ketimbang dengan sukarela memeriksakan diri.

Menurut Hamdan  penemuan orang yang terinfeksi HIV itu hampir 70 persen diketahui karena dia sakit, kemudian dicek. Hanya 30 persen dari jumlah total yang dengan sukarela memeriksakan diri.

Dokter Teza Farida dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia PKBI kepada independen.id mengatakan proses pemeriksaan berdasarkan PITC (Provider Initiated Testing and Counselling) merupakan layanan tes dan konseling HIV terintegrasi di sarana kesehatan, yaitu tes dan konseling HIV diprakarsai oleh petugas kesehatan ketika pasien mencari layanan kesehatan.

Sedangkan VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konseling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.

“Kalau terkait gender itu tidak bisa itu dipastikan perempuan atau laki-laki yang paling berisiko. Kita bisa melihatnya berdasarkan angka kasusnya. Misal di Tulungagung, tahun ini yang  banyak perempuan, tahun kemarin banyak laki-laki, jadi tidak selalu bisa dipastikan. Tetapi ada akumulasi terkait gender per tahunnya,” ungkap Hamdan.

Teza Farida mengatakan yang menjadi masalah utama dalam isu HIV/AIDS bukan terkait dengan orientasi seksualnya saja karena yang harus menjadi catatan penting disini apapun orientasi seksualnya, apakah orang tersebut homoseksual atau heteroseksual, jika perilaku seks yang mereka lakukan beresiko, tetap saja mereka ada potensi untuk menularkan dan tertular HIV.

 

Penanggulangan HIV/AIDS Sudah lebih baik

Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Untuk tema tahun ini adalah Let Communities Lead.Komunitas yang terdampak HIV/AIDS ini menjadi bagian penting dalam kemajuan respons HIV.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, mengatakan sejak 2010 hingga 2022 telah terjadi kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Terbukti jumlah kasus baru menurun hingga 54 persen secara nasional.

Imran Pambudi mengakui pandemi Covid-19 pada 2020-2022 menjadi salah satu faktor yang memperlambat upaya eliminasi HIV/AIDS yang targetnya 2030 mendatang

Dalam Temu Media Hari AIDS Sedunia 2023, kementerian mendata bahwa hingga September 2023 dari estimasi 515.455 orang dengan HIV (ODHIV), yang baru terindentifikasi sekitar 454 ribu orang atau 88 persen.

Dari jumlah itu, 209 ribu ODHIV atau sekitar 40 persen di antaranya sedang mendapat pengobatan antiretrovilar (ARV). Untuk itu dibutuhkan dukungan komunitas agar semakin banyak ODHIV yang dapat mengakses pengobatan.

 

 

 

 

 

 

kali dilihat