Polisi Militer Harus Transparan Proses Kasus Kekerasan TNI AU Medan

Independen -- Niat Array meluncur ke Kelurahan Sari Rejo, Medan Polonia tak lain untuk menelurusi kebenarang informasi penyanderaan yang dilakukan aparat TNI AU terhadap seorang anak daerah itu. Pukul 14.30, berboncengan dengan Teddy Akbari (Sumut Pos), wartawan Tribun Medan itu meluncur ke lokasi yang berjarak sembilan kilometer dari tempatnya semula, ruang wartawan Kepolisian Resort Kota Medan.

Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di pertigaan jalan di dekat SMA 2, Polonia Medan. Posisinya tak jauh dari Mess Perwira TNI AU. Ia melihat seorang perempuan menangis, meminta anak laki-lakinya yang masih berusia 12 tahun,  yang disekap TNI AU karena terlibat aksi demo menolak pembangunan rusunawa TNI AU pagi harinya dilepaskan.

Dalam kronologi yang diterima Independen.id, Array menceritakan saat mewawancarai perempuan itu, ia melihat tiga truk Pasukan Khas TNI AU mendatangi rumah penduduk. Beberapa truk berisi sepeda motor warta bergerak ke arah lain. Ia sempat berpindah tempat sekitar satu kilometer dari tempatnya semula. Di pinggir jalan ia mewawancarai dua perempuan warga setempat, sembari mengamati aparat merusak rumah warga dan plang Jalan Teratai. Sedangkan Teddy melakukan hal sama. Hanya posisinya lebih masuk ke area halaman warga.

Ternyata beberapa tentara bersenjata pentungan dan kayu, bergerak ke arah Array, mempertanyakan kehadirannya ke rumah warga. Meski telah menunjukkan kartu pers dan menjelaskan dirinya sedang melakukan peliputan, tiba-tiba seorang Paskhas memukul rahang kanannya. Yang lain berusaha memukul dengan kayu.

Ketika berusaha menyelamatkan diri, mengutip kronologis yang dibuat Teddy, tergambar Array mendapat serangan brutal bertubi dari tentara. Salah satunya Prada Rommel. Ia menginjak tubuh Array, menghantam dengan kursi plastik meski berhasil dihalau dan melontarkan ancaman. “Kau jangan melawan. Mau ku keluarkan isi perut kau,” kata Prada  sambil menendangi Array.

Kekerasan fisik juga dialami Fajar Sidik (Medanbagus.com), Prayugo Utomo (Menaranews.com)  dan Andri Safrin (MNCTV). Mereka mendapat kekerasan fisik dari seperti dipukul, ditendang dan diancam. Selain empat wartawan itu, terdapat seorang jurnalis perempuan media online yang mengalami kekerasan fisik, pelecehan seksual dan ancaman serangan seksual di tempat yang sama.

Mengutip Kabarmedan.com, Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Soewondo Mayor Jhoni Tarigan berdalih pemukulan terjadi karena wartawan tidak mengenakan identitasnya. Selengkapnya Ini Kata Kapentak Lanud Soewondo mengenai Terjadi Bentrokan di Sari Rejo.

Tidak hanya jurnalis, warga Kelurahan Sari Rejo yang menolak pematokan tanah mereka untuk dibangun rusunawa TNI AU juga mendapat kekerasan serupa. Rumah mereka juga dirusak.

Data kekerasan Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menunjukkan, tahun lalu terdapat  42 kasus kekerasan yang diterima jurnalis. Bentuknya beragam mulai dari ancaman teror, kekerasan fisik, pembunuhan, pemidanaan, hingga pengrusakan alat. Tahun ini, hingga bulan Agustus, AJI mencatat ada 14 kasus.

Jika tahun lalu pelaku dominan adalah polisi, dan TNI hanya 1 kali tercatat melakukan kekerasan. Tahun ini, hingga Agustus, pelaku dominan adalah warga dan TNI Angkatan Udara tercatat telah melakukan dua kali kasus kekerasan.

 

  

Kasus pertama kekerasan yang dilakukan TNI AU ketika pesawat tempur taktis Super Tucano TT-8130 jatuh menimpa rumah warga di daerah Blimbing, Kota Malang. Aparat TNI AU yang ada di area itu melakukan kekerasan verbal dan menghalangi dua jurnalis yang melakukan peliputan. Mereka merampas paksa memori card kamera, ID Press, dan satu pesawat tanpa awak (drone). Sayangnya kasus ini berakhir dengan damai. Ketua Dewan Pers Adi Prasetyo kepada Independen mengatakan agar tidak jurnalis tidak mengulang kasus Malang. “Kemerdekaan pers harus dijaga bersama,” katanya, Kamis (25/8) malam.

Ia mengatakan setelah menerima laporan Tim Satgas Kekerasan, Dewan Pers akan menyampaikan hasil temuan Dewan Pers kepada Panglima TNI. Adi mendesak Polisi Militer TNI AU memproses kasus ini dengan transparan. Pernyataan yang sama juga disampaikan Adi Prasetyo kepada Kabarmedan. Selanjutnya baca Kabar Medan: Dewan Pers Akan Laporkan POM AU Lanud Soewondo Ke Panglima TNI

kali dilihat