Independen-- Penayangan perdana film dokumenter Memukul Jatuh Mengadili PLTU disambut antusias oleh masyarakat Kota Cirebon. "Filmnya bagus banget, banyak isu-isu yg diangkat dan bisa jadi perantara edukasi untuk masyarakat Cirebon," ujar Dinda penonton film dokumenter, Kamis (14/09/23).
Film dokumenter hasil kolaborasi TV Tempo, Trend Asia, Walhi Jabar, LBH Bandung dan Karbon ditayangkan perdana di gedung Cirebon Creative Hub, Cirebon. Lebih dari 100 orang memenuhi gedung ini.
Isu-isu lingkungan dan sosial yang diangkat melalui film dokumenter ini sangat menarik perhatian mereka. Hal ini karena masyarakat sangat merasakan dampak dari beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 dan 2 yang ada di Kabupaten Cirebon.
Terutama para nelayan tradisional yang paling terdampak karena mata pencaharian mereka terus menurun semenjak pembangunan PLTU 1 hingga pengoperasianya saat ini. PLTU menggunakan bahan bakar batu bara dan pada banyak kasus mencemari udara maupun lingkungan sekitar.
"Karena sekarang mencari rajungan, kerang, dan udang sudah sangat susah. Akhirnya sekarang saya beralih profesi menjadi tukang las," ucap Sarjum, mantan nelayan pinggiran yang beralih profesi.
Dampak-dampak inilah yang akhirnya menggerakkan komunitas Karbon (Koalisi Rakyat Bersihkan Cirebon) dan Walhi Jabar (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) bersama LBH Bandung mengajukan gugatan terhadap izin lingkungan PLTU Tanjung Jati A. PLTU Tanjung Jati A tadinya adalah PLTU ke-3 yang akan dibangun mendampingi PLTU 1 dan 2 yang sudah beroperasi terlebih dahulu.
Gugatan ini dikabulkan Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) sehingga izin lingkungan PLTU Tanjung Jati A di Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon dibatalkan.
Hal ini tentunya dirayakan bersama oleh masyarakat Cirebon. Terutama masyarakat terdampak yang hadir saat penayangan perdana film dokumenter. "Saya sebagai nelayan tradisional di Desa Pengarengan sangat bersyukur sekali PLTU Tanjung Jati A tidak jadi dibangun. Karena mata pencaharian kami saat ini ada di situ," ujar Sukandar.
Dehya Ketua Karbon mengatakan bahwa hadirnya film dokumenter ini menjadi media untuk mengedukasi dan mengajak anak anak muda bergerak serta peka terhadap isu-isu lingkungan, sosial, pendidikan.
Pemutaran film ini tak akan berakhir di kota ini, "Kami akan mengadakan road show ke tiga kota yang mengalami kondisi serupa, melalui film ini kami ingin menunjukkan kemenangan dan merayakan bersama-sama. Harapannya semangat berjuang masyarakat akan semakin terpantik," kata Novita Trend Asia.
Penulis: Wulan Novita