Agroforestri, Upaya Berdamai dengan Gajah di Area Penyangga Taman Nasional Jambi

Oleh: M Sobar Alfahri

INDEPENDEN – Tunidi (38) memetik satu per satu biji kopi robusta di bawah rindang pepohonan karet. Biji berbalut kulit merah ini dikumpulkan di dalam ember hitam.

Barisan tanaman kopi tersebut berdampingan dengan pepohonan karet berusia belasan tahun yang dirawat Tunidi. Ia mewujudkan agroforestri di area penggunaan lain (APL), kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Tebo, Jambi.

“Sudah dua tahun setengah saya menanam kopi. Biji kopinya bantuan dari WWF,” katanya, Kamis (19/12/2024).

Pria ini mengatakan tanaman karet lebih ramah lingkungan dan bisa berdampingan dengan tanaman lain, tidak seperti kelapa sawit yang merupakan tanaman monokultur. Perawatan tanaman karet juga tidak memerlukan pupuk dan zat kimiawi seperti perkebunan sawit yang dapat mencemari air di sekitarnya. Tidak heran, Tunidi bisa menanam kopi dan tanaman lainnya di tengah barisan pohon karet.

Dengan tanaman karet dan kopi pula, Tunidi dapat menghindari konflik dengan gajah Sumatra yang hidup di TNBT. Sebab, pohon karet yang sudah di-deres alias disadap cenderung dihindari hewan mamalia besar itu.

Gajah Sumatra, kata Tunidi, tidak menyukai bau karet. Pada awal Desember lalu misalnya, sekelompok gajah hanya melewati perkebunan Tunidi, tidak merusak sebagaimana yang dilakukan pada tanaman kelapa sawit.

“Gajah tidak mau dengan karet. Terus gajah tidak mau juga dengan kopi,” katanya.

Kondisi ini berbeda dengan perkebunan kelapa sawit, karena tanaman ini dapat menjadi santapan gajah Sumatra yang turun dari kawasan inti TNBT. Karena itu, masyarakat yang menanam sawit di sana memasang pagar kawat listrik. Pagar ini berpotensi membunuh gajah Sumatra sebagaimana yang terjadi pada Umi, gajah betina, pada bulan Mei 2024 lalu.

Tunidi memahami bahwa perkebunan sawit jelas memicu konflik dengan gajah. Karena itu, ia lebih cenderung mempertahankan tanaman karet dengan menerapkan agroforestri. Ia bahkan ingin menanam kopi lebih banyak sehingga menuai pendapatan lebih besar.

“Meski sudah tinggi tanaman sawit tetap dimakan gajah. Harapannya lebih banyak menanak kopi supaya hasilnya meningkat,” katanya.

Tunidi menerapkan teknik sambung atau grafting pada kopi yang ditanamnya. Ia menyambungkan batang kopi liberika di bagian bawah dan menjadi akar dengan batang kopi robusta di bagian atas. Teknik ini ia pelajari saat masih tinggal di Lampung belasan tahun lalu.

“Jadi lebih tahan dari jamur akar putih. Kalau hasilnya, kopi Robusta,” katanya.

Pria ini mengajak teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Jaya agar turut serta menanam kopi. Apalagi tanaman kopi dan karet dapat saling menguntungkan.

“Lebih baik juga karena menahan getah dari angin. Jadi saling bagus kerjanya,” katanya.

Abdul Charis (60), mertua Tunidi, juga menanam karet. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Jaya Desa Semambu yang kini beranggotakan 12 orang.

Charis sudah berkisar 15 tahun merawat karet di lahan seluas dua hektare yang berada di Desa Semambu. Selain tidak disukai gajah, tanaman karet bagi Charis lebih menguntungkan ketimbang perkebunan kelapa sawit.

Ia telah menimbang biaya perawatan tanaman karet dan tanaman kelapa sawit. Menurutnya, biaya produksi karet lebih kecil ketimbang tanaman kelapa sawit.

“Dahulu, pernah ngobrol dengan pekerja perkebunan sawit. Sebenarnya kalau kita kelola sama baiknya dengan sawit, itu masih banyak karet hasilnya. Satu banding dua sampai tiga, tiganya karet,” kata Charis.

Pria parih baya ini menyatakan tetap setia mempertahankan tanaman karet. Tidak pernah terbesit di benaknya untuk menanam kelapa sawit yang menurutnya tidak ramah lingkungan.

Tidak hanya Kelompok Tani Harapan Jaya, Kelompok Tani Maju Bersama yang berada di Desa Muara Sekalo, Tebo, juga mempertahankan tanaman karet dengan pola agroforestri. Mereka menanam jengkol, pete, nangka, pinang, kopi, dan cokelat di tengah rindang pepohonan karet, sehingga pendapatan mereka meningkat.

Panen Karet Lebih Efisien

Berkat pendampingan dari WWF Indonesia, Kelompok Tani Harapan Jaya dan Kelompok Tani Maju Bersama bisa menghasilkan karet lebih efisien. Mereka tidak lagi menyadap karet setiap hari yang terkesan memaksakan tanaman. Para petani karet hanya perlu menyadap sekali dalam tiga hari untuk hasil yang lebih banyak tanpa mengorbankan kualitas.

“Kita bisa lebih hemat tenaga dan pohon tidak dipaksa. Setelah mengikuti sekolah lapangan dari WWF, malah hasil karetnya meningkat. Kalau dahulu tidak tahu,” kata Budi Ardiansyah (42), Ketua Kelompok Tani Maju Bersama.

Budi sendiri memiliki perkebunan karet seluas 1,5 hektare. Dahulu, dalam dua minggu ia biasa memanen 50 kilogram karet. Setelah mengikuti pola yang diajarkan WWF, ia dapat menghasilkan 80 kilogram karet per dua minggu.

“Ada anggota kami yang menyesal menumbangkan karet untuk diganti kelapa sawit setelah tahu ini,” katanya.

Jual Langsung ke Pabrik: “Satu Mutu, Satu Waktu, Satu Harga”

Dengan membentuk kelompok, para petani karet tadi lebih berdaya. Mereka bisa menjual karet langsung kepada pabrik dengan harga yang lebih besar dibandingkan bila menjual kepada tengkulak.

“Semboyan kelompok kami ‘satu mutu, satu waktu, satu harga’. Kita mempunyai barang banyak, bisa kita tawarkan (langsung ke pabrik). Itulah keuntungan berkelompok,” kata Budi.

Selama dua pekan, Kelompok Tani Maju Bersama yang anggotanya berjumlah 10 orang bisa menghasilkan 980 kilogram karet yang sudah kering. Komoditas ini dikumpulkan dengan sepeda motor lalu diangkut dengan menggunakan mobil langsung ke pabrik.

“Kami tahu hargo,kami tahu nilai karet berapo. Selisihnya 1.200 per kilogram. Selisihnya jauh jugo,” katanya.

Menurut WWF Indonesia, harga jual karet di pabrik rata-rata mencapai Rp 14.000 hingga Rp 15.600 per kilogram. Artinya, meningkat 40-56 persen bila dibandingkan menjual secara individu.

Kelompok Tani Harapan Jaya yang berada di Desa Semambu turut berupaya melepaskan ketergantungan dengan tengkulak. Sebagai percobaan pertama, mereka sempat menjual 649 kilogram karet langsung ke pabrik.

“Kita mulai menjual berkelompok langsung ke pabrik. Kita jual di sini harga Rp 12.000, setelah ke pabrik 14.600 bersih per kilogram,” kata Charis.

Koordinator Project Executant Landscape Bukit Tigapuluh WWF Indonesia, Nazli Herimsyah mengatakan keberadaan middleman atau tengkulak ini sebenarnya cukup berjasa bagi para petani karet, khususnya di Desa Petani Semambu. Tengkulak telah memberikan pinjaman kepada petani karet ketika membutuhkan biaya sesegera mungkin. Hal ini mengakibatkan petani sulit lepas dari ketergantungan dengan tengkulak.

“Petani kadang membutuhkan biaya sekolah misalnya, sehingga tengkulak menjadi berperan penting. Lalu tengkulak bisa menekan harga,” katanya.

Walau demikian, kata Nazli, keberadaan tengkulak bisa menjadi hal positif bagi sistem penjualan karet. Menurutnya, tengkulak bisa menjadi buyer station yang bekerja sama dengan kelompok tani karet yang tergabung dalam Unit Pengelolaan dan Pemasaran Bersama (UPPB), dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). UPPB bisa menjadi ruang kolaboratif untuk mendukung petani karet meningkatkan daya saing di pasar.

“Bumdes bisa menjadikan ini peluang kemudian bisa membuat sistem usaha lainnya. Bisa membangun sistem pinjam (untuk petani). Juga bisa bekerja sama dengan penyiapan dana UPPB. Itu bisa menjadi langkah yang strategis,” katanya.

Memetik kopi
Tunidi memetik biji kopi di tengah perkebunan karet miliknya yang berada di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Desa Semambu, Kabupaten Tebo, Jambi. (Foto: Independen/M Sobar Alfahri)

Tantangan Perubahan Iklim dan Jamur

Charis pagi itu bersiap-siap pergi ke kebun karet. Tidak hanya berbekal alat pemotong, ia juga membawa obat nyamuk bakar yang dimasukkan ke dalam tempat besi lalu digantung di tubuhnya.

Kicauan burung dan suara serangga terdengar saling bersahut-sahutan ketika Cahris melangkahkan kaki. Jarak kebun itu hanya beberapa meter dari rumahnya. Sesampainya, Charis langsung menyadap atau men-deres karet.

Di sela-sela aktivitasnya, Cahris mengatakan jamur akar putih menjadi penyakit mematikan bagi tanaman karet. Bila satu pohon kena, pohon di sebelahnya bisa tertular penyakit tersebut.

“Masalah petani karet, jamur akar putih itu,” katanya.

WWF Indonesia sempat memberikan bantuan bibit jahe merah kepada kelompok petani karet untuk menanggulangi jamur akar putih. Tanaman ini sudah dipanen. Charis berharap bisa menanam jahe merah lagi di tengah pepohonan karet.

Tidak hanya jamur, perubahan iklim menjadi tantangan dalam mempertahankan perkebunan karet. Musim hujan dan panas tidak lagi menentu sehingga kadang kala petani di Desa Muara Sekalo dan Desa Semambu kesulitan memanen karet.

“Pengaruh, kalau musim hujan terus, susah juga memotong dan deres. Kalau panas terus, getah karet sulit keluar dari pohon,” ujar Budi.

Sebelumnya, kata Budi, musim gugur daun pohon karet hanya berlangsung pada bulan April dan November. Sedangkan kini, musim gugur daun sudah tidak menentu. Fenomena ini mempengaruhi produktivitas karet.

“Di sini disebut bercukur. Sekarang suko suko hati, tidak menentu lagi. Ada yang bercukur ada yang idak. Kalau dulu serempak. Pengaruhnya, getah tidak ada,” katanya.

Walau menghadapi berbagai tantangan itu, Budi bertekad terus mempertahankan perkebunan karet. “Sangat besar peluangnya. Malah lebih besar tantangan sawit karena perlu dipupuk,” ujarnya.

Perempuan Merintis Kedaulatan Pangan

Di balik kelompok petani karet, terdapat sejumlah kelompok perempuan yang sedang merintis kedaulatan pangan. Mereka juga didampingi WWF Indonesia. Para istri petani karet ini menanam berbagai sayuran di lahan yang dikelola secara kolektif serta menanam sayuran di pekarangan rumah masing-masing.

“Dari bulan September, yang ditanam kacang pajang, kangkung, terong, sawi. Alasan menanam mengurangi pengeluaran rumah tangga,” kata Sulaini, anggota Kelompok Perempuan Organik (KPO) Tunas Baru.

ketahanan pangan
Para perempuan Desa Muara Sekalo memanen sayuran di belakang pekarangan rumah. Mereka merintis kedaulatan pangan. (Foto: Independen/ M Sobar Alfahri)

Ketua Kelompok KPO Tunas Baru, Yesi, mengatakan lahan pertanian sayuran yang dikelola secara kolektif luasnya mencapai dua tumbuk. Semenjak menanam sayuran di pekarangan dan di lahan kolektif, 10 anggota kelompok tani ini tidak perlu lagi membeli sayuran.

“Terbantu, kami tidak perlu lagi membeli sayur. Apa yang ditanam itu yang dimakan dan dijual. Dapat keuntungan, dapat jual, dan tabungan untuk kelompok,” katanya.

Sementara itu, Budi berharap kegiatan menanam ini dapat dibantu pemerintah desa. Apalagi pemerintah desa sebenarnya memiliki program ketahanan pangan.

Berbagai kegiatan masyarakat tadi; penanaman karet dengan pola agroforestri, penguatan daya kelompok petani karet untuk mendapatkan sistem penjualan dan harga terbaik, hingga penanaman tanaman pangan, dapat menjadi pembangunan ekonomi berkelanjutan yang tidak merusak hutan. Masyarakat itu diharapkan tidak lagi menebang hutan atau mengalihkan hutan ke perkebunan yang tidak ramah lingku

kali dilihat